Bed Friend

Bed Friend
Menemui Dea


__ADS_3

"Shakila! Kenapa kau berbuat seperti itu, Nak? Tidak sepantasnya kau bersikap seperti itu pada adikmu! Apalagi dia telah begitu lama hidup sendiri, kau tidak boleh bersikap seperti itu lagi, Shakila!" bentak Delia.


"Mama, Dea sudah mengada-ada, Ma!"


"Untuk apa aku mengada-ada, Ma? Mama bisa lihat sendiri kan bekas tamparan di wajahku?"


"Iya, Mama tahu Sachi."


"Mama, aku tidak mungkin berbuat seperti itu jika tidak memiliki alasan yang kuat, Ma. Bukankah Mama tahu jika aku tidak pernah menyakiti hati siapapun? Ingat Ma, tidak ada asap kalau tidak ada api!"


"Sachi, sebenarnya apa yang telah kau katakan pada kakakmu hingga Shakila marah, Nak?"


"Aku tidak mengatakan apapun, Ma. Kak Shakila yang iri padaku saat melihat penampilanku berubah seperti ini. Kak Shakila takut Kak Darren berpaling padaku saat melihat penampilanku sekarang, Ma."


"Tidak Ma, aku tidak pernah takut Darren berpaling pada wanita lain. Bukankah Mama tahu bagaimana kisah cintaku dan Kak Darren? Tidak semudah itu Kak Darren berpaling pada yang lain. Kalau Kak Darren mau melakukan itu, dia bisa dengan mudah melakukannya saat kami terpisah. Saat dia berada di Australia, saat Jane yang jauh lebih cantik dibandingkan Dea mengejar-ngejarnya. Dia bisa melakukan semua itu, tapi Kak Darren tetap setia padaku," sahut Shakila.


"Lalu sebenarnya apa yang membuat kalian bertengkar seperti ini?"


"Ini karena Dea, Ma. Aku hanya terkejut melihat penampilannya saat ini. Tapi dia mengatakan kalau aku iri padanya karena aku takut Darren akan lebih memilih dia dibandingkan dengan diriku. Mama tahu kan aku tidak mungkin memiliki pemikiran seperti itu?"


"Ya, mama tahu. Darren tidak mungkin seperti itu, tapi Shakila tolong kau jangan bersikap kasar seperti itu pada adikmu sendiri. Dan kau Sachi sebaiknya kau jangan berkata yang tidak-tidak dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tapi apapun yang terjadi kalian adalah kakak beradik, kakak beradik yang harus saling menyayangi satu sama lain. Jadi, tolong berdamailah."


"Memaafkan itu mudah, tapi menghapus rasa sakit yang telah dia torehkan itu sakit, Ma."


"Memangnya pipiku juga tidak sakit, Kak?"


"Sakit pada fisik bisa cepat hilang, Dea. Tapi tidak dengan hati."


"Arogan sekali..." Belum selesai Dea menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.


"Selamat sore!" sapa sebuah suara yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah itu, dan kini berdiri tak jauh dari mereka.


"Kak Darren!" ucap Shakila yang melihat Darren masuk ke dalam rumah itu, masih dengan menggunakan pakaian kerja. Meskipun raut lelah terlihat di wajahnya, tapi tak mengurangi ketampanan yang dia miliki.


"Hai semua, selamat sore."


"Selamat sore, Darren. Kau baru pulang dari kantor, Nak?"


"Iya, Tante Delia. Aku memang sengaja langsung ke sini untuk mengajak Shakila makan malam di rumah."


"Oh jadi kau mau mengajak Shakila ke rumahmu?"


"Iya Tante."


"Baiklah, silahkan."

__ADS_1


"Aku ganti baju dulu, Kak."


"Iya sayang."


Dea pun menatap Darren yang saat ini sedang mengobrol bersama Delia. 'Tampan sekali Kak Darren, tidak berbeda jauh dengan Kenzo. Hanya saja Kenzo sudah menikah, sedangkan Kak Darren belum. Dan sialnya, saat ini dia adalah pacar dari kakakku yang menyebalkan itu. Hihhh, beruntung sekali Shakila punya pacar setampan Kak Darren,' batin Dea.


Tak berapa lama, Shakila pun mendekat ke arah mereka. "Mama, aku pamit pergi dulu dengan Kak Darren."


"Iya Shakila. Kalian hati-hati di jalan, dan jangan pulang terlalu malam."


"Iya Ma."


"Kami pergi dulu, Tante."


"Iya hati-hati," jawab Delia. Sementara Dea hanya bisa melihat kepergian mereka sambil tersenyum sinis. 'Cuihhh!'


Darren tampak beberapa kali melirik pada Shakila yang saat ini terlihat begitu murung di dalam mobil. "Shakila, kau kenapa? Kenapa kau terlihat kesal?"


"Aku sebenernya sangat kesal, Kak."


"Hahahaha...."


"Kak Darren, kenapa kau malah tertawa? Aku tidak sedang becanda, Kak."


"Kau kesal kenapa, Sayang? Apa kau kesal karena rindu padaku?"


"Iya, iya Shakila. Sekarang cepat ceritakan padaku, ceritakan apa yang terjadi. Apa yang membuat pacarku yang sangat cantik ini kesal?"


"Dea!!!"


"Dea?"


"Ya, dia ternyata sangat menyebalkan, Kak. Aku yakin, dia bukanlah adikku. Aku benci Dea, Kak."


"Shakila. Kenapa tiba-tiba kau seperti ini? Apa yang membuatmu kesal pada Dea?"


"Kakak, ternyata Dea sangat menyebalkan. Kau tahu, tadi pagi dia sudah marah-marah padaku dan menyalahkanku karena kehidupan kami berbeda."


"Maksudmu?"


"Ya, dia tidak terima kalau selama kita terpisah. Aku hidup dengan mamamu dan hidup berkecukupan. Sedangkan dia? Dia hidup pas-pasan selama di panti."


"Astaga, jadi dia sampai membanding-bandingkan seperti itu?"


"Ya, tidak hanya itu saja. Tadi saat dia baru saja pulang ke rumah. Aku sangat terkejut karena melihat penampilannya yang berubah, kau lihat sendiri kan penampilan Dea saat ini seperti Jenk Kelin. Tapi saat aku tegur, dia malah marah-marah padaku dan mengatakan kalau aku takut kau berpaling padanya."

__ADS_1


"Hahahaha, seperti Jenk Kelin."


"Memang iya kan? Dia sama seperti Jenk Kelin."


"Iya-iya sayang. Jadi, selain marah padamu karena merasa hidup kalian tak adil, dia juga mengatakan kalau kau takut aku berpaling padanya?"


"Iya Kak. Menyebalkan sekali, kan?"


"Biarkan saja yang penting kau tahu kan bagaimana perasaanku?"


"Ya. Tapi aku ingin memberinya pelajaran, Kak."


"Memberinya pelajaran? Kau mau berbuat apa, Shakila?"


"Kakak, aku yakin dia bukanlah adikku. Meskipun tes DNA belum keluar aku yakin dia bukan adikku. Aku bisa merasakan itu, Kak."


"Kapan tes DNA nya keluar, Sayang?"


"Satu atau dua minggu lagi. Dan itu terlalu lama buatku untuk membuktikan dia adalah adikku. Aku memang membutuhkan hasil tes DNA itu sebagai bukti valid, tapi aku juga ingin menyelidiki apakah dia memang adik kandungku atau bukan."


"Lalu apa yang akan kau lakukan, Shakila?"


"Kakak, temani aku ke Panti."


"Panti?"


"Ya, panti asuhan tempat Dea dirawat dulu. Ayo temani aku sekarang, Kak!"


"Baik, baiklah Shakila. Kita ke panti sekarang."


Darren kemudian mengendarai mobilnya ke panti asuhan tempat Dea dibesarkan. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di panti asuhan tersebut. Setelah mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya pun membuka pintu panti asuhan itu.


"Selamat sore."


"Selamat sore, maaf mengganggu. Bisakah kita mengobrol sebentar, Bu?" tanya Shakila.


"Oh iya, tentu saja."


Mereka kemudian masuk ke dalam panti tersebut. "Ibu Panti, bolehkah saya bertanya sesuatu tentang Dea?"


"Dea? Ada apa dengan Dea, nak?"


"Ibu Panti, benarkah Dea ditemukan oleh seseorang di dalam gerbong kereta api? Apa anda tahu siapa wanita itu? Maaf saya bertanya seperti ini karena saya hanya ingin berterima kasih pada wanita yang menemukan Dea," dusta Shakila.


"Oh jadi anda ingin tahu wanita yang menemukan Dea?"

__ADS_1


"Ya, apakah anda mengenalnya?"


"Ya, tentu saja. Namanya Ibu Rahma, dia bahkan selalu rutin mengunjungi panti asuhan ini untuk menemui Dea."


__ADS_2