
Vansh yang masih setengah sadar lalu duduk di atas ranjang. "Kak Vansh, ini bukan saatnya untuk bermalas-malasan. Cepat keluar, apa kau tidak dengar ada yang memanggilmu?" omel Maya pada Vansh yang masih duduk di atas ranjang. Namun Vansh bukannya bangkit dari atas ranjang tapi malah memeluk Maya sambil memejamkan matanya.
"Kak Vansh, apa-apaan ini? Apa kau tidak dengar ada yang memanggilmu? Bagaimana jika dia tiba-tiba masuk ke dalam kamar ini dan melihat kita tidur di atas ranjang yang sama. Ah tidak, bisa-bisa dia berfikiran buruk pada kita," gerutu Maya.
"Biarkan saja, dia tidak mungkin bersikap macam-macam padaku."
"Memangnya kau sudah tahu siapa yang memanggilmu?"
"Tentu saja, suara jelek itu pasti milik Dennis."
"Dennis?" tanya Maya sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, dia saudara sepupuku. Anaknya Tante Laras, Tante Laras itu saudara sepupu Mommy. Rumahnya ada di samping rumahku dan dia pasti masuk rumah ini dari pintu belakang. Dia memang sangat menyebalkan, sejak kecil dia memang sedikit gila," ucap Vansh sambil terkekeh.
"Oh, tapi sebaiknya kau temui dia dulu dibawah. Aku tidak ingin dia masuk ke kamar ini. Aku malu, Kak!" omel Maya kembali.
"Baiklah, tunggu aku di sini. Kalau kau mau mandi, mandi saja. Itu kamar mandinya," ucap Vansh kemudian melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Maya dan pergi meninggalkan Maya di dalam kamar itu yang kini tampak sedang tersenyum sambil menatap punggung Vansh yang keluar dari kamar.
Vansh kemudian berjalan menuruni tangga lalu mendekat pada Dennis yang kini sudah duduk di atas sofa sambil memakan makanan yang ada di meja.
"Kenapa kau banyak sekali membeli makanan Kak Vansh?"
"Seharusnya kau menanyakan kabarku dulu, Dennis. Bukankah sudah setahun ini kita tidak bertemu? Bukannya langsung makan makanan itu!" omel Vansh.
"Apakah itu penting? Lagipula kau terlihat sehat dan baik-baik saja. Sepertinya kau juga sudah melupakan mantan istrimu itu!" sahut Dennis.
"Jangan sebut dia lagi!" bentak Vansh yang membuat Dennis tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Hahahaha!"
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau sangat lucu, dulu kau begitu kehilangan dia sampai hampir saja gila, bahkan kau sampai tidak mau berbicara dengan siapapun. Sekarang lihatlah dirimu, kau terlihat kesal saat aku menyebut istrimu."
"Lebih baik kau tidak usah banyak bicara! Sebenarnya ada apa pagi-pagi kau sudah datang ke sini? Ini masih pukul setengah enam pagi. Mengganggu saja! Aku masih ingin tidur!"
__ADS_1
"Aku hanya disuruh Tante Calista untuk melihat keadaanmu, kupikir kau sudah mati saat tidak menjawab panggilan dariku. Syukurlah ternyata kau masih hidup Kak," jawab Dennis sambil terkekeh.
"Dasar gila!" gerutu Vansh. Saat sedang asyik menikmati makanannya tiba-tiba Dennis mengerutkan keningnya.
"Kak Vansh. Astaga, aku baru sadar. Kenapa di meja ini ada dua piring dan dua sendok. Oh tidak, ada dua buah gelas juga!" pekik Dennis.
"Memangnya kenapa?"
"Jangan-jangan kau sedang menyembunyikan seseorang, Kak. Astaga, apa kau sedang menyembunyikan pacarmu di rumah ini?"
"Tidak. Aku tidak menyembunyikan siapapun. Tadi malam dia memang tidur di rumah ini karena kami kehujanan saat sedang berjalan-jalan, dia basah kuyup sedangkan rumahnya sangat jauh. Jadi aku sengaja membawanya ke rumah ini."
"Ja... Jadi, kau sudah punya pacar lagi, Kak? Oh syukurlah, aku pikir kau berubah jadi tidak normal."
"Enak saja!" gerutu Vansh. Dia pun menatap Dennis sambil mendengus kesal. Sedangkan Dennis yang sudah menghabiskan makanan yang ada di meja tersebut kini tampak menatap Vansh dengan tatapan menggoda.
"Kak Vansh, kupikir kau orang yang lurus. Tapi ternyata kau tidak seperti apa yang kupikirkan selama ini," ucap Dennis sambil meledek.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu?" gerutu Vansh.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, kami tidak melakukan apapun, Dennis. Kau tahu kan aku selalu menjaga batasanku jika berhubungan dengan seorang wanita."
"Terserah kau saja Kak, lagipula itu bukan urusanku."
"Kalau begitu lebih baik kau pulang sekarang, kau sudah selesai makan kan?"
"Huh dasar, mentang-mentang punya pacar baru, semena-mena sekali kau padaku, Kak!"
"Pulangggg Dennis, atau aku tidak akan memberikan uang saku tambahan lagi padamu. Dan, tolong rahasiakan keberadaan Maya di rumah ini."
"Oh, jadi wanita itu bernama Maya?" ujar Dennis sambil terkekeh.
"Dennis!!!"
"Iya Kak aku pulang," kata Dennis kemudian keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Sementara Maya yang ada di dalam kamar Vansh dan sudah selesai mandi, kini berjalan mendekat ke arah ponsel Vansh yang terdengar berbunyi. Jantungnya pun berdegup begitu kencang saat melihat nama Sharen di layar ponsel itu.
"Sharen?" ucap Maya sambil mengerutkan keningnya.
"Lebih baik kuangkat saja, biar dia tahu jika akulah pacar dari Vansh!" ucap Maya sambil mendengus kesal.
[Halo.] jawab Maya.
[Halo, ini siapa? Bisakah aku bicara dengan Kak Vansh?]
[Ini Maya, Sharen!] jawab Maya sedikit ketus.
[Oh Maya, apa kau sedang bersama dengan Kak Vansh?]
[Oh tentu saja, aku pacar Vansh jadi wajar kan aku saat ini sedang bersamanya.] jawab Maya dengan sedikit kesal sekaligus untuk memamerkan statusnya.
[Oh, jadi saat ini kau pacaran dengan Kak Vansh?]
[Iya aku pacaran dengan Kak Vansh. Lalu ada apa kau menelepon Kak Vansh?]
[Oh ini, aku hanya ingin mengembalikan arloji dan beberapa barang milik Kak Vansh yang tertinggal di rumahku. Sebentar lagi aku terbang ke Manchester jadi sebelum ke Bandara aku ingin mengembalikan barang-barang ini, tapi saat aku menghubungi Tante Calista. Tante Calista mengatakan jika saat ini Kak Vansh sudah pulang ke rumahnya, dan ternyata Tante Calista juga sedang mengunjungi Clarissa di apartemen yang sedang hamil muda. Jadi dia menyuruhku langsung mengembalikan barang-barang ini ke rumah Kak Vansh. Dan aku menelepon Kak Vansh untuk meminta alamat rumahnya karena aku tidak bisa menitipkan barang tersebut di rumah Tante Calista yang kosong.]
[Oh baiklah, aku akan mengirimkan share lokasinya.]
[Baik, terima kasih banyak Maya.]
[Sama-sama Sharen.]
Maya kemudian menutup panggilan telepon itu lalu mengirimkan share lokasi pada Sharen. Di saat itulah, Vansh masuk ke kamar itu sambil tersenyum.
"Kau sudah mandi, Sayang?" tanya Vansh saat mendekat ke arah Maya. Namun Maya hanya diam sambil memelototkan matanya pada Vansh.
"Kau kenapa Maya? Kenap kau bersikap aneh seperti ini? Apa kau kesal pada Dennis?"
"Ya, aku memang sangat kesal. Tapi bukan pada Dennis tapi padamu Kak! BAGAIMANA BISA BARANG-BARANGMU TERTINGGAL DI RUMAH SHAREN! APA YANG SEBENARNYA TELAH TERJADI DIANTARA KALIAN BERDUA, KAK!" teriak Maya dengan wajah yang kini sudah memerah.
__ADS_1