
[Om Abimana? Apa om baik-baik saja?] Tanya Kenzo saat melihat Abimana yang mulai meneteskan air matanya.
[Ya, om baik-baik saja. Om hanya sedang mengingat anak om yang seumuran denganmu, Kenzo.]
[Oh, jadi anak om seumuran denganku?]
[Ya, dia sama sepertimu.]
[Mungkin suatu saat aku bisa berkenalan dengan putramu.]
Abimana kemudian menggelengkan kepalanya.
[Tidak Kenzo. Aku tidak pernah bertemu dengan putra ku. Dia hilang karena kesalahanku, Kenzo. Kini dia sudah bahagia dengan keluarga barunya, dan aku tidak ingin mengganggu kebahagiaannya dengan keluarga barunya.]
[Oh, tapi om tetap harus bertemu dengannya karena bagaimanapun juga om adalah ayah kandungnya, om berhak memberitahu kenyataan yang sebenarnya padanya.]
[Jadi, menurutmu aku harus menemuinya dan memberitahu yang sebenarnya?]
[Ya, om harus menemuinya dan mengatakan yang sebenarnya jika om adalah ayah kandungnya.]
[Tapi dosaku padanya sudah terlalu besar, Kenzo. Aku bukanlah orang yang baik, bahkan mamaku saja baru bisa memaafkan kesalahanku saat detik-detik terakhir menjelang kematiannya karena dosaku yang sudah terlalu besar. Lalu apa menurutmu anakku mau memaafkan dosa-dosa dan kesalahanku padanya?]
[Tentu saja, seorang anak harus berbakti pada kedua orang tuanya, karena orang tuanya lah mereka bisa ada di dunia ini. Jadi apapun kesalahan yang pernah om lakukan, baik buruknya kehidupan masa lalu yang pernah om jalani seorang anak harus menerimanya. Apalagi saat ini om sudah menyadari kesalahan om kan?]
[Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan, Kenzo?]
[Tentu saja, memangnya kenapa om?]
[Bagaimana jika itu terjadi padamu?]
[Maksud om?]
[Oh maaf, om hanya salah bicara. Terimakasih banyak Kenzo, kau sudah mau mendengarkan ceritaku.]
[Iya om, sama-sama.]
[Senang bisa berkenalan denganmu. Ini Tante Inara ingin berbicara denganmu.] ucap Abimana sambil memberikan ponselnya pada Inara untuk menutupi air mata yang kini semakin deras membasahi wajahnya. Abimana kemudian menghapus air matanya sambil memperhatikan Inara yang kini sedang bercanda dengan Kenzo dan Cleo. Beberapa saat kemudian, Inara pun menutup panggilan teleponnya. Dia kemudian tersenyum pada Abimana sambil menghapus air matanya.
"Bagaimana Abi? Bagaimana perasaanmu?"
"Sangat bahagia, aku sangat bahagia tapi aku juga merasa begitu sedih, aku sangat sedih karena aku pernah menjadi orang yang begitu jahat sudah membuang anak kandungku sendiri. Dia anak yang baik, dan juga sangat tampan. Tidak sepantasnya aku berbuat seperti itu padanya, aku benar-benar kejam, Inara. Aku bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang ayah."
"Abimana, tolong kau jangan berkata seperti itu, sekarang inilah saatnya kau memperbaiki semua kesalahan yang pernah kau lakukan di masa lalumu."
__ADS_1
"Inara apa kau mendengar kata-kata Kenzo tadi?"
"Ya."
"Setelah kau mendengar perkataan Kenzo apakah menurutmu Kenzo masih bisa membuka pintu maafnya padaku?"
"Tentu saja, Abimana. Kenzo anak yang baik, dia pasti akan memberikan pintu maafnya padamu."
"Aku sungguh ingin bertemu dengannya, Inara."
"Bagaimana kalau kita mengunjunginya ke London? Bukankah sudah kukatakan itu padamu?"
"Ya, tapi ada baiknya kita meminta ijin dulu pada Amanda. Bagaimana kalau kita menemui Amanda sekarang juga?"
"Ya, ayo kita temui Amanda."
🍒🍒🍒
Kenzo menutup telepon dari Inara kemudian tersenyum pada Cleo.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Kenzo?"
"Kita lanjutkan?"
"Hahahaha, Kenzo!!" teriak Cleo saat Kenzo mulai memeluknya dan menciumi lehernya.
"Kenapa selalu ada saja yang mengganggu di saat-saat seperti ini?" gerutu Kenzo.
"Lebih baik kau angkat saja, Kenzo. Mungkin saja itu dari Tante Amanda ataupun Tante Inara, mereka bisa curiga kalau kau tidak mengangkat panggilan ponselmu."
"Baiklah," ucap Kenzo kemudian mengambil ponselnya.
"Siapa Kenzo?" tanya Cleo saat melihat Kenzo yang kini mengerutkan keningnya.
"Aleta."
"Siapa Aleta?"
"Teman SMP ku, dulu kau dan aku tidak satu SMP karena kau tahu kan saat itu aku tidak bisa masuk SMP favorit sepertimu."
"Ya, jadi Aleta teman SMP mu?"
Kenzo lalu menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Lalu untuk apa dia meneleponmu?"
"Dia dari kalangan tidak mampu jadi aku memberinya pekerjaan, saat ini dia bekerja di kantor mama, mungkin dia ingin mengatakan sesuatu padaku."
"Sebaiknya kau angkat saja, Kenzo."
"Tidak, aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun lagi kecuali dirimu."
"Jadi?"
"Kau saja yang mengangkatnya, Cleo. Katakan padanya aku sedang tidak ada di rumah dan ponselku tertinggal."
"Kau yakin aku yang mengangkat panggilan darinya?"
"Ya."
Cleo lalu mengangkat panggilan dari Aleta.
[Halo Kenzo.]
[Halo, maaf ini Cleo. Kenzo sedang tidak ada di rumah, dia sedang pergi. Ponselnya tertinggal jadi aku yang mengangkatnya.]
[Oh iya.]
[Apa ada yang bisa kubantu, Aleta? Nanti kusampaikan pada Kenzo.]
[Oh, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih saja, bukan sesuatu hal yang terlalu penting. Aku bisa menghubunginya di lain kesempatan.]
[Oh iya nanti kusampaikan ucapan terima kasihmu.]
[Iya Cleo terimakasih banyak, aku tutup dulu teleponnya.] ucap Aleta.
[Iya Aleta.] jawab Cleo namun belum sempat Cleo memencet tombol warna merah untuk menutup panggilan telepon itu tiba-tiba Kenzo sudah memeluknya.
"Kenzo, kau mengagetkanku. Aku belum menutup panggilan ini bagaimana kalau Aleta tahu kita sedang berbohong padanya?"
"Biarkan saja, yang terpenting sekarang adalah kau dan aku," ucap Kenzo kemudian mulai mencium bibir Cleo hingga mulai terdengar de*ahan diantara keduanya. Aleta yang tanpa sengaja juga belum menutup teleponnya pun hanya bisa mendengar percakapan Cleo dan Kenzo sambil menangis, apalagi kini mulai terdengar suara de**han yang membuat hatinya kian begitu teriris.
"TIDAKKKKKK!!"
"BERANI-BERANINYA KAU BERBOHONG PADAKU, KENZO! BUKANKAH DULU KAU TIDAK PERNAH MENGABAIKANKU! SEKARANG SEJAK KAU SEMAKIN DEKAT DENGAN WANITA MANJA ITU KAU MELUPAKANKU BEGITU SAJA!!"
Aleta kemudian menjambak rambutnya sambil menangis dan terus berteriak.
__ADS_1
"INI TIDAK BISA DIBIARKAN! AKU HARUS BERBUAT SESUATU! AKU HARUS BERTEMU DENGAN AMANDA SEKARANG JUGA!!" teriak Aleta kemudian keluar dari kamarnya.
.