
"Terserah kau saja, Nathan. Pernikahan ini memang tidak diinginkan."
"Terimakasih Sharen. Mama ayo kita pulang sekarang."
Calista kemudian berpamitan pada Abimana dan Inara, lalu memeluk Sharen yang masih menangis. "Bersabarlah Sharen, ini ujian yang harus kalian jalani, pasti ada hikmah di balik kejadian ini."
Sharen pun menganggukkan kepalanya. Calista lalu bergegas mengikuti Nathan yang kini sudah ada di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Nathan hanya terdiam. Tatapan matanya kosong memandang jalanan yang tampak lengang yang ada di depan mereka, perlahan butir demi butir air mata pun menetes membasahi wajahnya. Calista yang melihatnya lalu menggenggam tangan Nathan.
"Putraku, sejak kecil kau adalah laki-laki yang sangat kuat. Kau tidak pernah menangis, Mama masih ingat terakhir kali kau menangis saat usiamu hampir tiga tahun saat kau harus berpisah dengan Kenzo. Dan setelah puluhan tahun, Mama baru pernah melihatmu menangis kembali. Kau memang sangat kuat, tapi hatimu begitu rapuh jika berhubungan dengan orang yang kau sayangi. Nathan, Mama pasti akan selalu menemanimu menghadapi masalah ini, Mama akan membantumu mengatasi masalah ini agar tidak menimbulkan masalah baru bagi hubunganmu dan Clarissa, dan Mama juga berjanji untuk tetap memastikan pernikahanmu dengan Clarissa tetap bjsa berjalan, Mama berjanji Nak. Tetaplah kuat dan tegar menghadapi semua ini."
"Terimakasih banyak, Ma. Apapun yang akan terjadi, aku akan tetap mempertahankan Clarissa, tidak ada yang bisa memisahkan kami berdua, kecuali maut yang memisahkan."
Calista pun menganggukkan kepalanya sambil kian erat menggenggam tangan Nathan. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah. Nathan lalu bergegas masuk ke dalam kamar dan duduk di balkon kamarnya sambil menatap kelamnya langit dini hari. 'Maafkan aku Clarissa, maafkan aku jika bukan namamu yang pertama kusebut dalam sebuah janji suci pernikahan. Clarissa maafkan aku,' gumam Nathan sembari terus menatap gelapnya langit. Dia masih terus duduk di balkon kamar hingga gelapnya langit berubah menjadi warna kekuningan. Perlahan Nathan pun membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar. Dia kemudian duduk di atas ranjang lalu mengutak-atik ponselnya dan menempelkan ponsel itu di telinganya sambil membersihkan sisa-sisa air mata yang ada di wajahnya serta menghembuskan nafas panjangnya.
[Halo Clarissa sayang.] sapa Nathan saat panggilan telepon itu mendapat jawaban.
[Halo Kak, kenapa tadi malam kau tidak memberi kabar padaku?]
[Maafkan aku Clarissa, tadi malam aku sangat lelah, jadi setelah sampai di rumah aku ketiduran dan lupa tidak menghubungimu.]
[Oh tidak apa-apa, yang terpenting kau baik-baik saja kan?]
[Tentu saja aku baik-baik saja?]
'Bagaimana jika ternyata aku tidak baik-baik saja, Clarissa,' gumam Nathan.
[Syukurlah, Kak Nathan sebentar lagi aku pergi ke kampus, kututup dulu teleponnya, nanti kalau sudah selesai kuliah, kau kuhubungi lagi.]
[Iya sayang.]
[Love you.]
[Love you too. Clarissa sebentar, jangan tutup dulu teleponnya.]
[Ada apa Kak?]
[Kau harus ingat janji yang pernah kukatakan padamu, hanya kaulah satu-satunya wanita yang kusentuh, aku tidak akan pernah menyentuh wanita lain selain dirimu.]
[Iya aku ingat janjimu, Kak.]
__ADS_1
[Ya.] jawab Nathan kemudian menutup teleponnya sambil meneteskan air matanya.
🍒🍒🍒
❣️ Tiga hari kemudian ❣️
"Mama hari ini Papa pulang kan?"
"Ya, nanti sore Papamu sudah ada di rumah."
"Baiklah, setelah pulang dari kantor aku langsung pergi ke Bandung, aku harus menemui Clarissa dan menjelaskan semua kejadian ini, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada hubungan kami berdua."
"Ya, kalau perlu Mama ikut untuk menjelaskan semua ini."
"Tidak perlu Ma, akan kuatasi sendiri, jika nanti masalahnya melebar dan Clarissa tidak percaya padaku, kita selesaikan bersama-sama."
"Iya Nathan, good luck. Badai pasti berlalu," ucap Calista sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak Ma. Aku pergi ke kantor dulu."
"Mama antar sampai ke depan.
"Inara, Sharen."
"Kak Calista, Nathan, maaf jika pagi-pagi kami sudah menggangu kalian."
"Tidak apa-apa, ada apa Sharen? Ada apa Inara? Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada kalian? Apakah ada dampak sosial yang kalian alami?"
"Emh, maafkan kami, tapi kami sedikit mengalami masalah itu. Beberapa orang tetangga dan kerabat kami ada yang mengetahui kejadian malam itu dan mereka selalu mengusik kehidupan Sharen, apalagi dia tidak tinggal bersama dengan suaminya, jadi bisakah aku menitipkan Sharen di rumah ini? Selama satu bulan saja, setidaknya sampai kalian bercerai. Maaf jika permintaan ini merepotkan kalian semua, tapi tolong kami, tolong selamatkan harga diri putriku, aku juga tidak ingin psikologis Sharen selalu terganggu dengan bisikan dari tetangga dan kerabat kami."
Mendengar perkataan Inara, Nathan dan Calista lalu saling berpandangan. Calista lalu menatap Nathan dengan tatapan mengiba. Nathan pun menganggukkan kepalanya.
"Baik Tante Inara, aku mengijinkan Sharen untuk tinggal di rumah ini selama dia menjadi istriku, aku juga ingin menyelamatkan harga diri Sharen, dan aku tetap akan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang suami, meskipun itu tidak seutuhnya. Aku tetap akan memberikan nafkah pada Sharen, tapi hanya nafkah lahir bukan berupa nafkah batin. Aku tahu ini adalah sebuah dosa besar karena aku tidak melakukan kewajibanku sebagai suami seutuhnya, tapi lebih baik aku menanggung dosa itu sendiri daripada aku mengecewakan orang yang paling kucintai sepanjang hidupku, karena aku sudah berjanji padanya jika dia adalah satu-satunya wanita yang akan kusentuh, tolong mengertilah aku sangat mencintai wanita itu."
Inara dan Sharen pun hanya terdiam, sedangkan Calista memandang Nathan dengan tatapan begitu pilu. "Nathan," ucap Calista lirih.
"Ya, aku mengerti," jawab Sharen.
"Terimakasih banyak Sharen. Permisi, aku harus pergi ke kantor."
__ADS_1
Mereka semua pun menganggukkan kepalanya. Nathan kemudian berjalan meninggalkan mereka, namun baru beberapa langkah, Nathan membalikkan badannya kembali.
"Ada satu lagi, hari ini setelah pulang dari kantor aku langsung pergi ke Bandung. Setelah pulang dari Bandung, untuk sementara aku akan tinggal di apartemen selama satu bulan sampai aku bercerai dengan Sharen. Jadi, Sharen kau tinggallah di rumahku tapi maaf, aku tidak bisa tinggal satu atap denganmu."
Calista pun begitu terkejut mendengar perkataan Nathan. "Tapi Nathan, sebentar lagi Vansh pulang. Bukankah kau sudah berjanji pada Mama jika kau akan menemaninya selama berada di sini sampai Olivia dan Kenan pulang?"
"Mama itu hal yang mudah, itu bisa diatur Ma. Vansh bisa menginap di apartemenku kan?"
"Baiklah jika itu maumu," jawab Calista. Nathan lalu membalikkan tubuhnya kembali dan berjalan memasuki mobilnya. Sedangkan Sharen masih termenung, sebuah nama kemudian terucap di bibirnya.
"Vansh?"
NOTE:
Tim Nathan 💖 Clarissa, tetap SEMANGAT!
Ingat, setelah hujan reda, pasti ada pelangi yang bersinar dengan begitu indah 🥰
Mampir juga ya ke karya temen aku punya Kak Kisss judulnya Tiba-tiba Istriku Berubah, dijamin recommended banget deh 😘🥰❤️
"Kalau bukan karena bakti ku pada kedua orang tua. Sudah dari dulu aku tinggalkan Hanna!" ujar Reza jujur.
Pria itu tak memiliki perasaan apapun pada Hanna. Tidak ada perasaan berdebar-debar dan gugup saat berdampingan dengan istrinya itu.
Rasanya hambar, bahkan ada dan tiada Hanna, dia merasa akan baik-baik saja.
Degg.
Hanna memeluk erat kotak bekal yang ia bawakan untuk Reza. Mata wanita itu menganak sungai, tak pernah ia sangka akan mendengar kata-kata menyakitkan dari lisan suaminya sendiri.
Ternyata selama ini dia tak lebih hina dari noda hitam yang menempel di pakaian suaminya.
Apa salahnya? Apa kekurangannya?
Sehingga, suaminya tega berkata seperti itu pada temannya sendiri.
"Baiklah, Mas. Cukup sampai detik ini aku berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Percuma aku berusaha mendapatkan hatimu, kalau aku tak lebih dari noda hitam di matamu!"
__ADS_1
"Akan aku tunjukkan apa noda hitam itu sebenarnya! Jangan salahkan aku berubah. Karena kamu sendiri yang telah membuat aku berubah!" gumam Hanna seraya menghapus air matanya yang mengalir di pipi.