
Setelah mengambil rekaman dan cukup lama berbincang dengan Rahma, akhirnya Delia dan Shakila berpamitan.
"Bu Rahma kami harus pergi sekarang, maaf kalau kami sudah mengganggu waktu istirahat anda. Sekali lagi, terima kasih banyak."
"Nyonya Delia, kalian sama sekali tidak mengangguku. Seharusnya aku yang minta maaf pada kalian, dan hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesalahanku. Bahkan, ini rasanya masih kurang, dan tidak sebanding dengan apa yang kuperbuat pada kalian."
"Tidak, ini sudah cukup Bu Rahma. Ini bahkan lebih dari cukup, terima kasih banyak atas kerjasamanya."
"Iya Bu Rahma, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak, kami pamit dulu. Kapan-kapan kami pasti menjenguk anda lagi," sambung Shakila.
"Iya," jawab Rahma. Setelah berpamitan pada Arka dan juga Kayla. Shakila dan Delia kemudian keluar dari kamar perawatan tersebut. Saat baru saja keluar dari kamar perawatan itu. Mereka dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggil mereka.
"Delia, Shakila!"
Delia dan Shakila lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Vallen yang sedang berjalan ke arahnya
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Vallen, Mama Fitri dirawat di rumah sakit ini."
"Di ruangan itu?"
"Bukan, itu ruangan Bu Rahma. Kami baru saja menjenguk Bu Rahma."
"Bu Rahma? Bu Rahma yang menemukan putrimu Sachi."
"Iya Bu Rahma yang menemukan Sachi, yang juga Ibu kandung dari Dea."
"Astogeh, jadi Bu Rahma sebenarnya ibu kandung dari Dea?"
"Iya ternyata Bu Rahma menukar Dea dan Sachi karena Dea menderita penyakit jantung bawaan."
"Licik sekali!" geram Vallen.
"Sudahlah Vallen, semua sudah berlalu. Untuk saat ini, kami hanya membutuhkan pengakuan dari Bu Rahma sebagai bukti kalau Dea adalah kandungnya, karena saat ini Dea memaksa pada keluarga Devano agar mempercepat pernikahannya dan Devano."
"Astaga menyebalkan sekali, dia bilang seperti itu? Lalu, apa kau sudah bertemu dengan putri kandungmu yang ditukar Bu Rahma itu?"
"Iya Vallen, aku sudah tahu siapa putri kandungku yang sebenarnya."
"Lalu, siapa sebenarnya putri kandungmu?"
"Kau juga mengenalnya, Vallen."
__ADS_1
"Aku juga mengenalnya? Siapa dia Delia? Jangan bermain tebak-tebakan denganku. Aku baru saja mengisi TTS, dan itu membuatku pusing. Kau jangan semakin membuat aku pusing seperti ini."
"Vallen, putri kandungku yang sebenarnya adalah Luna, tetanggamu sendiri."
"Astaga! ini adalah berita terbesar yang akan mengguncang dunia, Delia."
"Iya Vallen, ternyata putri kandungku adalah Luna, yang sudah menikah dengan laki-laki yang akan menjadi tunangannya. Dia sudah menikah dengan Devano, laki-laki yang sudah dijodohkan dengannya."
"Astaga aku benar-benar tidak menyangka, Delia. Sungguh ini diluar dugaan. Jadi, aku tidak salah kan sudah menyuruh Devano untuk menikah dengan Luna."
"Tidak Vallen, terima kasih banyak karena jodoh Devano yang sebenarnya adalah Luna."
"Iya, aku ikut turut bahagi. Lalu, kapan mereka akan menikah resmi Delia?"
"Secepatnya Vallen, kalau memungkinkan mungkin besok."
"Apa? Besok?"
"Ya, besok. Jangan lupa besok datanglah ke rumahku."
"Oke, bagus sekali. Aku sangat bahagia, ini akan menjadi berita terbesar sepanjang sejarah."
"Iya Vallen. Aku pergi dulu ke kamar perawatan Mama Fitri. Sejak tadi, Darren menunggu Mama Fitri sendirian."
"Astaga, itu bagus sekali. Putramu juga ada yang menjadi dokter?"
"Iya, namanya Alvaro. Dia baru saja menyelesaikan spesialis saraf. Dia juga sangat tampan, tapi sifatnya sangat dingin, sama seperti Firman."
"Hahahahha, namanya juga laki-laki."
"Ya, sangat berbeda jauh dengan putriku. Si comel Cleo," ujar Vallen.
"Setiap anak memang berbeda-beda, Vallen."
"Iya, kalau begitu aku pergi sekarang," ujar Vallen.
"Iya, hati-hati di jalan Vallen."
"Iya Delia," ujar Vallen. Baru saja Vallen berjalan meninggalkan Delia dan Shakila, tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang tak asing dan cukup dia kenal, meskipun dia sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu, tapi Vallen masih bisa mengingat jelas siapa dirinya.
Vallen kemudian bergegas mengikuti wanita yang tampak sedang menangis sambil berjalan di samping brankar yang didorong oleh beberapa orang perawat.
"Kak Olivia, Kak Olivia! Apakah kau ini kau Kak Olivia?" panggil Vallen pada wanita paruh baya cantik, yang saat ini terlihat sedang menangis.
__ADS_1
Wanita yang dipanggil oleh Vallen lalu membalikkan wajahnya, dan menghentikan langkahnya mengikuti brankar yang ada di sampingnya. "Benarkan, kau Kak Olivia?"
"Oh iya, aku Olivia. Tapi maaf, aku lupa siapa dirimu. Sebentar, kuingat-ingat dulu."
Olivia tampak memejamkan matanya. "Apa benar kau Vallen? Vallen adik dari Dokter David? Dokter kandungan yang sudah menyembuhkan saudara sepupuku, Aini?"
Vallen menyunggingkan senyum di bibirnya. "Iya aku Vallen, sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya kita sudah sama sekali tidak bertemu, terakhir bertemu saat anak-anak masih kecil dulu."
"Iya, Kak. Memangnya kau sedang apa di sini Kak Olivia?"
Olivia hanya terdiam, sambil menatap brankar yang saat ini sudah berjalan menjauhi mereka. "Kau kenapa Kak Olive? Apa seseorang yang ada di atas brankar itu kerabat dekatmu? Kak Olive, ayo kita ikuti brankar itu. Mereka pasti membawa pasien itu ke ruang UGD," ujar Vallen.
Olivia dan Vallen kemudian berjalan mengikuti brankar yang didorong oleh beberapa perawat tersebut ke dalam ruangan UGD. Sesampainya di ruangan UGD, mereka tidak diperbolehkan masuk ke ruangan tersebut.
"Kita tunggu disini saja Kak Olive," ujar Vallen. Mereka kemudian duduk di depan kursi yang ada di depan ruangan UGD.
"Kak Olive siapa sebenarnya wanita muda yang di atas brankar itu?" tanya Vallen.
Olivia tampak menundukkan wajahnya, raut wajah cemas sekarang berubah. Wajah cantik itu, kini dipenuhi dengan air mata yang membasahi wajahnya. Vallen kemudian menggenggam tangan Olivia, dan membiarkan Olivia menangis. Hingga beberapa saat kemudian, Olivia tampak jauh lebih tenang, Vallen memberanikan diri untuk bertanya kembali.
"Bagaimanakah Kak Olive, apa kau jauh lebih lega sekarang?"
Perlahan Olivia pun menganggukkan kepalanya, meski hatinya masih terasa begitu sesak. "Ya, jauh lebih lega," jawab Olivia.
"Kak Olive, maaf kalau aku sudah lancang bertanya seperti ini padamu. Sebenarnya siapa wanita itu?
Siapa wanita muda yang di atas brankar itu? Kenapa tubuhnya penuh luka?" tanya Vallen.
"Dia putriku, dia putriku Laurie," jawab Olivia sambil terisak.
"Laurie putrimu yang sangat cantik itu?" tanya Vallen yang mulai di dirasuki rasa sedih yang begitu menyesakkan dadanya.
"Iya Vallen, dia Laurie putriku," jawab Olivia lirih. Detik berikutnya, dia kembali terdiam. Butiran-butiran bening mulai menetes membasahi wajahnya.
Saat masih hanyut dalam suasana sedih, dan melihat Olivia yang begitu terisak. Vallen teringat sesuatu.
'Astaga bukankah aku harus menjemput Alvaro? Tapi bagaimana dengan Kak Olivia? Dia saat ini sendiri dan sepertinya butuh teman untuk menemaninya,' batin Vallen di dalam hati.
'Ah, sebaiknya kusuruh saja Cleo untuk menjemput Alvaro di Bandara,' batin Vallen. Dia kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Cleo dan memintanya untuk menjemput Alvaro.
NOTE:
__ADS_1
Cerita tentang Dea di sini udah selesai ya, yang kepo sama nasib Dea, ada di novel Sekedar Pelampiasan.