Bed Friend

Bed Friend
You Can Do It


__ADS_3

"Papa? Kenapa papa menamparku?" teriak Nathan.


"Kau sudah keterlaluan, Nathan! Kau sudah sangat keterlaluan!"


"Keterlaluan bagaimana Pa? Bukankah itu yang sebenarnya telah terjadi pada anak tidak tahu diri itu? Bukankah dia memang DIBUANG oleh ayah kandungnya! Dia adalah manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih, jika saja Papa tidak menolongnya, mungkin dia sudah mati! Tapi lihat, dia bahkan tidak bisa membalas budi atas apa yang Papa pernah lakukan padanya!"


PLAK


"NATHAN! Mama tidak pernah mengajarimu menjadi manusia berhati busuk seperti ini!" teriak Calista. Leo kemudian mencengkram kerah pakaian yang dikenakan oleh Nathan. Sementara Calista mendekat pada Kenzo yang menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya, raut wajahnya menunjukkan kebingungan disertai tatapan mata yang terlihat sedikit sendu.


"KAU SUDAH BERANI MENENTANGKU NATHAN! AKU TIDAK PERNAH MENGAJARIMU MENJADI SEORANG PECUNDANG SEPERTI INI! KAU SANGAT MEMALUKAN! MULAI SAAT INI JANGAN PERNAH MENGANGGAP KAMI SEBAGAI ORANG TUAMU LAGI SAMPAI KAU MENYADARI SEMUA KESALAHANMU! HIDUPLAH DENGAN CARAMU SENDIRI TANPA BANTUAN DARI KAMI KARENA TINGKAHMU SUDAH MELAMPAUI BATAS!"


"PAPA! KENAPA PAPA LEBIH MEMILIH MEMBUANGKU KARENA MEMBELA ANAK SIALAN ITU! DIA YANG BERHUTANG BUDI PADA KITA TAPI KENAPA AKU YANG HARUS MENGALAH?"


"DIAM! JANGAN PERNAH BERANI BICARA PADAKU ATAUPUN MENEMUIKU SEBELUM KAU MENYADARI SEMUA KESALAHANMU!"


Leo kemudian mendekat pada Kenzo yang kini sedang berbicara dengan Calista. Calista lalu menatap Leo yang kini ada di hadapannya sambil meneteskan air matanya. Sementara Nathan berjalan meninggalkan mereka disertai emosi yang masih menyelimuti hatinya, sinar matanya memandang Kenzo dengan tatapan penuh kebencian, umpatan-umpatan kecil pun tak pernah berhenti dari mulutnya. Leo lalu tersenyum pada Kenzo sambil menepuk bahu Kenzo.


"Om Leo, jadi benar yang Nathan katakan? Papa Abimana pernah membuangku?"

__ADS_1


Leo lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Abimana memang pernah membuangmu di dalam hutan, saat itu Amanda koma setelah melahirkan dirimu, lalu David menghubungiku dan meminta bantuanku untuk mengikuti Abimana saat sedang membuangmu ke dalam hutan. Anak buahku lalu berhasil menyelamatkanmu, saat itu tidak ada tempat yang aman kecuali di rumahku. Selain itu istriku Calista juga sangat menyayangimu saat pertama kali melihatmu, jadi aku berinisiatif untuk merawatmu sampai Amanda bangun dari komanya."


"BENAR-BENAR BIADAB! APA DIA PANTAS DISEBUT DENGAN MANUSIA OM? DIA SUDAH MEMBUANG DIRIKU, ANAK KANDUNGNYA SENDIRI!"


"Tenangkan dirimu, Kenzo, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan, termasuk Abimana. Dia pernah memang pernah melakukan kesalahan yang begitu fatal dalam hidupnya karena ambisinya untuk menguasai harta milik Amanda, dia pernah melakukan kesalahan pada Ayahnya, Om Raka yang merupakan kakekmu, pada Amanda, dan padamu. Kenzo, bukankah kau pernah mengatakan kau bangga dibesarkan oleh aku dan Calista? Perlu kau tahu, kami dulu juga bukan orang baik, masa laluku bahkan sangat buruk, aku pernah menyakiti beberapa hati perempuan yang sedang hamil anak kandungku dan menyuruh mereka menggugurkan kandungan mereka. Aku bahkan pernah membunuh darah dagingku sendiri, tidak hanya satu tapi entah berapa aku tidak tahu."


"Begitupula aku, Kenzo. Aku selalu membuat adikku menderita, berulangkali memfitnahnya dan membuat dia kehilangan penglihatannya, semua itu kulakukan untuk memenuhi ambisiku dan egoku. Kenzo, semua orang punya kesalahan di masa lalu, tapi tidak semua orang bisa menyadari kesalahan di masa lalunya, dan ayahmu Abimana termasuk manusia yang menyadari semua kesalahan di masa lalunya dan selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik," tambah Calista.


"Kenzo, kau berhak marah atas perbuatan yang pernah Abimana lakukan padamu, tapi bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu, dan saat ini dia sangat menyayangimu, dia sudah menyadari semua kesalahan dimasa lalunya. Kau sudah dewasa, kau pasti bisa menentukan sikapmu, aku yakin kau pasti bisa mengambil sikap yang bijaksana."


Mendengar perkataan Leo dan Calista, Kenzo hanya terdiam menahan segala perasaan yang begitu campur aduk di dalam dadanya.


"Mama Amanda menutupi semua kebenaran ini selama puluhan tahun. Selama ini yang kutahu ayah kandungku adalah Papa Rayhan, hingga beberapa hari yang lalu, aku baru tahu jika ayah kandungku adalah Abimana. Om, Tante, aku bisa menerima itu. Aku bisa memahami kesalahan fatal yang Abimana pernah lakukan saat berselingkuh di belakang Mama karena aku yakin mereka sudah saling memaafkan dan aku menyadari jika mereka memang tidaklah berjodoh, tapi perbuatan seorang anak yang tega menyakiti orang tuanya, lalu membuang anak kandungnya, itu adalah perbuatan biadab dan sangat keji! Apa pantas dia masih disebut sebagai manusia? Dia tidak lebih pantas disebut sebagai seorang binatang!" teriak Kenzo.


"Kenzo, tolong jangan berkata seperti itu. Abimana adalah ayahmu, ayah kandungmu, dia sudah menyadari semua kesalahannya, Kenzo. Bukankah sekarang dia sangat menyayangimu?"


"Kenzo, lebih baik sekarang kau pulang dan beristirahatlah, tenangkan pikiranmu, berfikirlah dengan kepala dingin, kau tidak usah mengurusi Nathan karena dia sepenuhnya ada dalam pengawasanku, dan aku jamin dia tidak akan mengusik kehidupanmu lagi."


"Terimakasih Om Leo."

__ADS_1


Calista lalu memeluk Kenzo sambil menangis. "Apapun yang pernah terjadi di dalam hidupmu adalah bagian dari takdir. Jika saat bayi kau tidak mengalami kemalangan itu, maka aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk merawat bayi setampan dirimu. Apa kau mengerti? Jangan pernah bersedih dan berkecil hati. Semua orang menyayangimu Kenzo," ucap Calista sambil membelai wajah Kenzo. Kenzo lalu menganggukan kepalanya. Calista kemudian melepaskan pelukannya, berganti dengan Leo yang memeluk Kenzo sambil menepuk punggungnya.


"Do the best, i believe you can do it!"


Kenzo lalu menganggukan kepalanya. "Terimakasih banyak Om Leo, Tante Calista. Aku pamit pulang dulu," ucap Kenzo kemudian pergi meninggalkan Calista dan Leo yang masih berdiri menatap kepergiannya.


"Aku merasa sangat khawatir padanya, Leo."


"Dia sudah dewasa, Calista."


🍒🍒🍒


Abimana tampak sedang mengutak-atik laptop miliknya sambil mengamati pergerakan bursa saham pada layar yang ada di hadapannya, hingga tiba-tiba terdengar suara bel pintu yang berbunyi.


TETTTT TEEETTTTTTT


"Inara, sepertinya ada tamu," sahut Abimana sambil melirik pada Inara yang sedang menyiapkan makan siang. Inara kemudian berjalan arah pintu lalu membuka pintu tersebut. Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat seorang laki-laki muda yang ada di hadapannya. "Kenzo," ucap Inara sambil tersenyum.


"Kau mau bertemu dengan papamu?"

__ADS_1


Kenzo lalu menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Sebaiknya kau duduk dulu, sebentar, Tante panggilkan Papamu terlebih dulu," ucap Inara sambil berjalan memasuki rumahnya.


__ADS_2