Bed Friend

Bed Friend
Dua Tahun Sebelumnya


__ADS_3

❣️ Gaes di bab ini aku mule pake sudut pandangnya Shakila yes, biar lebih enak. Tapi suatu saat tetep balik ke POV author lagi kok. Terus, tokoh lain sebelumnya juga banyak keluar di sini, aku terangin dikit ya, buat yang belum baca Salah Kamar, kalo Aini itu mantan pacarnya Firman, bapaknya Cleo. Trs mantan istrinya Dimas, bapak kandungnya Shakila. Kalo Darren itu anaknya Roy sama almarhum istri pertamanya, Diana. Ok, kita mulai ❣️


# POV Shakila.


Perlahan aku membuka mataku saat silaunya cahaya matahari mulai menimpa kelopak mataku. Namum, saat aku belum sepenuhnya membuka mataku, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuat aku membuka mataku dengan begitu lebar lalu spontan bangkit dari posisi sebelumnya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa terkejutku saat aku baru saja bangun, dan melihat aku sudah ada di dalam kamarku.


Astaga, kenapa tiba-tiba aku sudah ada di dalam kamar? Bukankah seingatku tadi malam aku sedang mengerjakan tugasku? Lalu siapa yang sudah membawaku ke dalam kamar ini? Apakah Papa? Oh tidak, bukankah Papa baru saja pergi dengan Mama dan Tristan kemarin sore? Apakah Bi Sumi menginap di rumah ini dan membawakku ke kamar? Ah rasanya juga tidak mungkin, bukankah kemarin dia juga ijin pulang padaku? Selama dia menjadi pembantu di rumah ini dia juga selalu menolak jika disuruh Mama menginap di sini. Lalu siapa yang membawaku ke dalam kamar? Apakah Kak Darren?


"Hufttt," aku hanya bisa menghembuskan nafas panjangku saat mengingat bagaimana sikap Kak Darren akhir-akhir ini padaku.


Kak Darrenku, bukanlah lagi Kak Darren yang dulu. Dulu, kami begitu akrab, selalu ada tawa dan canda diantara kami berdua. Sejak kecil, kami selalu menghabiskan waktu berdua, bahkan seolah tiada sekat diantara kami. Apalagi jarak umur kami tidaklah terlalu jauh, bisa dikatakan kami seumuran yang membuat kami sangat akrab, meskipun kami sama-sama tahu jika kami berdua hanyalah saudara tiri, karena kami lahir dari dua ibu yang berbeda.

__ADS_1


Ibu kandung dari Kak Darren, Mama Diana meninggal karena kecelakaan tragis yang dialaminya. Saat itulah Kak Darren lahir. Sejak Kak Darren lahir, dia sudah diasuh oleh Mama Aini yang juga kehilangan putranya dari suami pertamanya yang bernama Dimas. Dan anehnya, penyebab Mama Aini kehilangan putranya adalah akibat kecerobohan Papa Roy dan Mama Diana.


Tapi itulah cinta, cinta yang besar dan kelapangan hati dari Mama Aini, akhirnya membentuk kami menjadi satu keluarga yang bahagia, ya inilah cinta. Cinta yang tidak pernah berlogika.


Indah, itulah satu kata yang menggambarkan hubungan keluarga kami. Namun, tiba-tiba semuanya berubah. Tepatnya satu tahun terakhir ini aku mulai merasa Kak Darren bukanlah kakakku yang dulu lagi, bahkan kami sudah sangat jarang berbicara ataupun sekedar menyapa. Apakah aku kehilangan? Ya, tentu saja aku merasa sangat kehilangan. Aku selalu merasa kehilangan keceriaannya, aku begitu kehilangan senyum manisnya yang selalu menghiasi hidupku, dan aku sangat kehilangan sosok seorang kakak dan pelindung bagiku.


Tapi aku tidak terlalu mengambil pusing semua ini, mungkin saja Kak Darren menjadi pendiam karena dia sibuk dengan segala aktivitasnya. Mungkin dia mulai sedikit menjauhiku karena dia sadar jika kami telah sama-sama dewasa dan tidak ingin orang-orang berfikiran negatif pada kami berdua.


Namun, tiba-tiba aku mencium sesuatu yang begitu menyengat di hidungku. Bau yang menyengat itu bahkan sepertinya berasal dari bibirku. Ah, bau apa ini? Bukankah tadi malam aku sudah menyikat gigi ini? Kenapa rasanya seperti bau rokok? Kenapa ada bau rokok di bibirku? Astaga, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku harus merasakan keanehan seperti ini? Mungkinkah aku sudah diculik oleh Peter Pan, atau makhluk dari dunia lain?


Aku kemudian terkekeh dengan kekonyolanku sendiri. Aku tidak mau memikirkan semua ini, yang ada di pikiranku sekarang adalah mengisi perutku karena aku sudah merasa sangat lapar. Aku lalu bangkit dari atas ranjangku, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahku.

__ADS_1


Saat aku mendekat ke arah meja makan, tampak Kak Darren sedang duduk di meja makan sambil menikmati sarapannya. Aku lalu tersenyum dan mendekat padanya.


"Selamat pagi Kak," sapaku.


Namun bukannya membalas sapaanku, dia malah menatapku dengan tatapan tajam. Mendapat tatapan tajam dari lelaki tampan seperti Kak Darren, aku pun salah tingkah, meskipun aku tahu dia adalah kakakku sendiri.


"Ada apa, Kak?" tanyaku memberanikan diri.


"Apa kau tidak pernah mengenakan bra saat kau sedang tidur Shakila?" tanya Kak Darren sambil mengalihkan pandangannya.


Astaga, aku memang tidak pernah mengenakan bra saat tidur, biasanya saat aku keluar dari kamar aku memang sudah mengenakan braku kembali, tapi pagi ini aku benar-benar lupa. Spontan, aku menutup dadaku. Meskipun aku tahu Kak Darren adalah kakakku, sungguh tidak pantas dia melihat asetku terlebih dulu sebelum suamiku yang melihatnya apalagi saat ini aku hanya mengenakan baju tidur tipis berbahan satin.

__ADS_1


"Maaf Kak," ucapku lirih sambil berjalan masuk kembali ke kamar, sedangkan Kak Darren tampak mengehembuskan nafas panjangnya.


__ADS_2