Bed Friend

Bed Friend
Salah Paham


__ADS_3

"Vansh, kau mau kemana? Ini sudah sore," kata Calista saat melihat Vansh yang keluar dari kamarnya dengan begitu tergesa-gesa lalu berjalan ke arah pintu.


"Aku ada urusan penting, Tante. Sebaiknya tidak usah menungguku untuk makan malam," jawab Vansh sambil meringis.


"Oh baiklah, kalau begitu hati-hati sayang!" teriak Calista pada Vansh yang sudah berjalan menjauhinya.


"Iya Tante," jawab Vansh sambil berjalan ke arah pintu dengan begitu tergesa-gesa.


"Aneh sekali, kenapa tiba-tiba beberapa hari ini dia jadi semakin banyak urusan? Tapi ah baguslah, dia sekarang bukan lagi Vansh yang murung saat baru saja ditinggalkan oleh Queen. Kalau begitu sebaliknya aku telepon Olivia saja," ujar Calista. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon Olivia.


[Halo Olive.]


[Halo, iya Kak. Ada apa? Ada apa kakak meneleponku? Apa ada sesuatu yang penting?] jawab sebuah suara perempuan di ujung sambungan telepon.


[Iya Olive, ini ada hubungannya dengan Vansh.]


[Ada apa dengan Vansh, Kak Calista? Apa sesuatu telah terjadi pada Vansh? Apa kepulangannya ke Indonesia semakin membuatnya terpuruk?]


[Oh tidak, Olive. Bukan seperti itu, Vansh baik-baik saja. Keadaannya bahkan sangat baik.]


[Oh syukurlah. Lalu ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan, Kak?]


[Begini Olive, Vansh yang sekarang bukanlah Vansh yang dulu. Awalnya, saat baru saja datang ke rumah ini, dia memang sangat pemurung. Ya, masih seperti dulu saat baru saja ditinggalkan oleh Queen. Tapi sejak beberapa hari terakhir ini, dia sudah kembali menjadi Vansh yang dulu. Vansh yang hangat dan penuh keceriaan.]


[Benarkah yang kau katakan, Kak?]


[Tentu saja, Olive. Untuk apa aku berbohong padamu?] gerutu Calista.


[Hahahaha, iya Kak. Aku percaya padamu, terima kasih banyak karena sudah membantu Vansh keluar dari trauma masa lalunya.]


[Jangan berterima kasih padaku Olive, karena aku tidak melakukan apapun.]


[Jadi, siapa yang membuat Vansh berubah jika bukan karenamu Kak?]


[Entahlah, aku juga tidak tahu Olive. Karena itulah aku menghubungimu. Lebih baik kau pulang secepatnya, siapa tahu kau akan memiliki menantu baru, sama sepertiku.] ucap Calista sambil terkekeh.


[Menantu baru? Jadi Kakak pikir Vansh sudah memiliki seorang pacar?]

__ADS_1


[Entahlah, sepertinya belum. Tapi bisa saja putramu itu sedang jatuh cinta.]


[Astaga! Syukurlah jika Vansh sudah bisa jatuh cinta lagi. Aku sebenarnya ingin cepat pulang, tapi bukankah kau tahu selain harus mengurus bisnis kami disini, kami juga dititipi Darren oleh Aini? Dan bulan depan Darren baru selesai menyelesaikan kuliah masternya.]


[Astaga, kenapa aku melupakan Darren begitu saja?] gerutu Calista yang membuat Olivia terkekeh.


[Jadi, kau baru bisa pulang kira-kira satu bulan lagi?] tanya Calista kembali.


[Iya, aku baru bisa pulang satu bulan lagi.] jawab Olivia.


[Baiklah, Olive. Aku menunggu kepulanganmu satu bulan lagi, mudah-mudahan kondisi Vansh tetap seperti ini dan tidak berubah.]


[Iya Kak. Aku juga berharap seperti itu.]


[Aku tutup dulu teleponnya, Olive. Sebentar lagi Leo pulang, aku harus menyiapkan makan malam.]


[Iya Kak.] jawab Olivia kemudian menutup teleponnya. Di saat itulah, Darren tiba-tiba melintas di depannya.


"Darren!"


"Ada apa Tante Olivia?"


"Iya Tante."


"Aku tahu, kau pasti sudah sangat merindukan kedua adikmu. Shakila dan Tristan, iya kan?" tanya Olivia yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Darren.


...***...


Sementara Vansh keluar dari rumah Calista dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi. Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di depan sebuah gang sempit tempat rumah Maya berada. Dia pun turun dari mobil itu lalu bergegas berlari masuk ke dalam gang. Namun, saat masuk ke dalam gang itu, Vansh pun tampak kebingungan.


"Astaga, aku tidak tahu mana rumah Maya," gerutu Vansh sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia pun kemudian bertanya pada salah seorang warga yang sedang berjalan untuk menanyakan rumah Maya.


"Permisi, maaf apakah Ibu tahu rumah Maya?" pada salah seorang wanita paruh baya yang melewatinya.


"Itu rumahnya, yang bercat warna putih," jawab wanita paruh baya tersebut.


"Oh, baik. Terima kasih banyak," jawab Vansh. Dia kemudian bergegas berjalan ke arah rumah itu lalu mengetuk pintu tersebut.

__ADS_1


TOK TOK TOK


Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya memakai setelan gamis berwarna cokelat tampak membukakan pintu dan menyambut Vansh dengan senyum ramahnya.


"Selamat sore, Tuan Muda. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu saat melihat Vansh yang terlihat dari kalangan berada.


"Selamat sore, bisakah saya bertemu dengan Maya?" ucap Vansh sambil menahan detak jantung yang berdegup begitu kencang.


"Oh Maya, dia baru saja pergi beberapa menit yang lalu. Dia tadi berpamitan jika mulai besok dia akan mulai pergi bekerja di luar kota."


"Bekerja di luar kota?" tanya Vansh.


"Iya Tuan, tadi Maya mengatakan seperti itu. Dia juga sudah membawa barang-barangnya."


'Astaga, aku sudah terlambat. Aku harus segera mencarinya sebelum dia pergi jauh dari sini,' gumam Vansh di dalam hati. Vansh pun kemudian berpamitan.


"Oh baiklah kalau begitu, saya pulang dulu," kata Vansh pada wanita paruh baya itu.


"Iya Tuan Muda." Wanita paruh baya itu lalu menutup pintu rumahnya. Sedangkan Vansh bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mulai menghubungi nomor ponsel milik Maya. Namun, beberapa kali dia melakukan panggilan pada Maya. Panggilan itu pun tertolak.


"Astaga, sepertinya dia memblokir nomorku. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah tadi saat kami berpisah, dia masih bersikap baik padaku? Bukankah tadi hubungan kami baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba dia jadi seperti ini?" keluh Vansh sambil mengerutkan keningnya. Di saat itulah, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.


"Mama Reni," ucap Vansh saat melihat nama di layar ponselnya. Vansh kemudian menjawab panggilan telepon itu.


[Halo Vansh.]


[Halo Ma, ada apa?]


[Apa kau sudah bertemu dengan Maya? Tadi Mama sudah menceritakan semuanya pada Maya, tentang kau yang sudah mengetahui siapa Maya sebenarnya. Dan, Mama juga menyuruh Maya untuk segera menemuimu untuk saling berbicara dari hati ke hati. Apa dia sudah menemuimu, Vansh.]


[Belum Ma, dia belum menemuiku.] jawab Vansh sambil berusaha tetep tenang.


[Oh mungkin dia malu, Vansh. Sebaiknya kau saja yang menemuinya dan bicarakan masa lalu kalian berdua. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, karena hanya ini yang bisa Mama lakukan untuk menebus dosa Queen.]


[Iya Ma, aku akan menemui Maya.]


[Baik, kalau begitu Mama tutup teleponnya terlebih dulu.]

__ADS_1


Vansh pun menutup panggilan dari Reni, setelah itu dia mengusap wajahnya dengan kasar sambil berdecak. "Ck, hufttt. Pasti telah terjadi kesalahpahaman. Aku yakin tadi Maya pasti datang ke rumah dan melihatku berpelukan dengan Sharen yang akhirnya membuat dia marah lalu beraniat pergi dari hidupku. Astaga, Maya! Aku harus menemukanmu secepatnya!" ucap Vansh. Dia kemudian mengemudikan mobilnya menyusuri sepanjang jalanan itu.


__ADS_2