Bed Friend

Bed Friend
Perasaan Yang Salah


__ADS_3

Maya yang sejak tadi juga sedang mengamati laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya kemudian ikut tersenyum.


"Tuan! Anda disini?" tanya Maya yang tak kalah terkejut melihat Kenan.


"Apa kalian saling mengenal?" Calista pun ikut terkejut melihat Maya dan Kenan yang terlihat sudah saling mengenal.


"Oh tidak, aku hanya bertemu dengan Tuan ini sekali saja. Saat itu Nyonya Amanda menyuruhku untuk mengantarkan berkas ke kantor Tuan ini, kebetulan saat itu kami berpapasan dan aku melihat salah satu berkas yang dibawa oleh Tuan ini ada yang terjatuh, entah kenapa aku memiliki firasat jika itu adalah berkas penting. Namun, dia tidak menyadarinya dan dia masuk ke dalam mobilnya begitu saja. Aku lalu mengejar Tuan ini dengan menaiki sebuah ojek online, dan syukurlah aku bisa mengejarnya di saat yang tepat. Saat Tuan ini akan memulai rapat dengan kliennya."


Olivia dan Vansh kini pun sudah berada di dekat mereka dan mendengarkan semua yang diceritakan oleh Maya.


"Astaga! Lalu, apa kau sudah mengucapkan terima kasih pada Maya? Dia calon menantumu, Kenan!" ucap Calista sambil terkekeh.


'Astaga, jadi laki-laki ini adalah ayahnya Kak Vansh? Oh tidak, aku bahkan tadi berbicara dengan sok akrab padanya. Ini benar-benar memalukan,' gumam Maya sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Tentu saja sudah. Aku sudah mengucapkan terima kasih pada Maya," jawab Kenan pada Calista.


"Kenan, kau seharusnya kau tidak hanya berterima kasih pada Maya. Berkas itu tentunya berkas yang sangat penting yang akan kau gunakan untuk rapat dengan klienmu itu kan? Kau seharusnya memberi hadiah atau sesuatu yang istimewa pada Maya? Bukankah seharusnya seperti itu, Olive? Kenan harus memberikan sesuatu yang istimewa pada Maya?"


"Ya, kau seharusnya kau memberikan sesuatu yang istimewa pada Maya, berkas itu pasti sangat penting kan, Kenan? Coba kau pikir, bagaimana jika berkas itu tidak ditemukan oleh Maya? Kau pasti malu karena terlihat tidak profesional dan itu benar-benar menjatuhkan harga dirimu sendiri," gerutu Olivia pada Kenan yang kini terlihat salah tingkah.


Olivia lalu menatap Maya. "Maya, apa yang ingin kau minta dari suamiku? Katakan saja, apa yang kau inginkan dari suamiku?"


Maya pun terlihat malu-malu dan sedikit canggung. "Katakan saja, Maya. Tidak apa-apa, aku ini juga ibumu. Sebentar lagi kau juga akan memanggilku dengan panggilan Mommy, sama seperti Vansh."

__ADS_1


"OLIVIA!" bentak Kenan saat mendengar perkataan Olivia. Namun Olivia mengindahkan bentakan Kenan. Dia kemudian berbalik menatap Kenan dengan tatapan tajam lalu mendengus kesal.


"Jika kau tidak suka dengan perkataanku, tolong jangan pernah anggap aku lagi sebagai istrimu," bisik Olivia sambil melirik ke arah Kenan dengan tatapan sinis.


Sedangkan Maya pun begitu tertegun mendengar bentakan Kenan pada Olivia. Mata Maya pun tampak berembun. Olivia kemudian mendekat pada Maya lalu menggenggam tangannya.


"Tidak apa-apa, jangan diambil hati. Sekarang katakan saja apa yang kau inginkan dari suamiku. Kau sudah menolong suamiku, sudah sepantasnya suamiku memberikan sesuatu padamu, anggap saja sebagai ucapan terima kasih."


Maya pun masih terdiam. "Kau tidak perlu ragu, Maya. Katakan saja."


Perlahan, Maya pun membuka suaranya. "Tante, bolehkah aku menanyakan sesuatu pada Tante?"


"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan Maya?"


Olivia pun tersenyum mendengar perkataan Maya. "Tentu saja, everything for my son. Bagiku, yang terpenting adalah kebahagiaan bagi Vansh. Yang diinginkan oleh setiap orang tua adalah kebahagiaan anaknya. Itu jauh lebih penting dibanding dengan apapun, Maya."


"Terima kasih, Tante Olive. Terima kasih banyak atas restu darimu."


"Lalu, apa yang kau inginkan dari kami? Tolong jangan sungkan, katakan saja yang kau inginkan dari suamiku?"


"Emh.., e begini. Aku tidak menginginkan apapun karena yang aku inginkan adalah restu dari kalian berdua. Aku sudah mendengar restu yang diberikan oleh Tante Olive. Aku juga ingin Om Kenan memberikan restunya pada kami berdua. Apalah artinya pernikahan ini jika kami tidak mendapatkan restu dari salah seorang diantara kalian berdua? Lalu apakah pernikahan yang kami jalani akan bahagia? Tidak Tante. Jadi, jika aku masih memiliki diberi kesempatan untuk meminta sesuatu dari Om Kenan, aku tidak meminta apapun kecuali restu darinya," ucap Maya, saat dia menutup kalimatnya setetes butir cairan bening pun lolos dari sudut matanya.


"Jangan menangis Maya, jangan menangis, ini hari bahagiamu dengan putraku, seharusnya bukan air mata kesedihan yang keluar, tapi air mata kebahagiaan," kata Olivia sambil menghapus air mata di wajah Maya yang kini sudah terlihat begitu cantik dengan make up minimalis yang menempel di wajahnya.

__ADS_1


Olivia lalu memberikan isyarat pada Calista dan Vansh untuk menenangkan Maya. Sementara dirinya mendekat pada Kenan yang sudah menjauhi mereka tak lama setelah membentak Olivia.


"Kau hanya punya dua pilihan, memilihku dan Vansh sebagai bagian dari keluarga kecil kita atau memilih hubungan persahabatanmu dengan Bram itu!" bisik Olivia dengan nada membentak.


Kenan pun begitu tertegun mendengar perkataan Olivia. Namun dia tidak mempunyai pilihan. Dia akhirnya mengambil nafas dalam-dalam lalu melirik pada Olivia kemudian mendekat pada Maya dan Vansh. Kenan lalu menatap Vansh dan Maya secara bergantian.


"Ayo kita langsungkan akad nikah kalian sekarang!" perintah Kenan pada Vansh dan Maya. Mereka kemudian berpandangan sambil tersenyum.


"Jadi Daddy merestui pernikahan kami?"


"Mau bagaimana lagi?" jawab Kenan sambil berjalan meninggalkan mereka. Apalagi orang tua Maya juga kini sudah hadir di rumah tersebut.


Vansh dan Maya lalu berjalan ke meja akad, lalu duduk di depan penghulu yang sudah menunggu mereka. Vansh lalu menjabat tangan ayah dari Maya dan mengucapkan ijab qabul dengan satu tarikan nafas.


Riuh teriakkan "SAH" dari para saksi yang ada di ruangan itu pun memenuhi seisi ruangan. Semuanya tampak bahagia, semua terlihat gembira, kecuali dua insan manusia yang tampak saling menatap dari kejauhan.


Hati mereka sebenarnya begitu bergejolak menahan rindu. Rindu yang telah lama mereka pendam. Seharusnya rindu ini bisa tersampaikan karena sudah tidak ada lagi jarak yang membentang diantara mereka, namun ada suatu batas yang tidak bisa mereka lampaui.


'Kakak, sakit Kak. Ternyata rasanya sesakit ini jika rindu ini tidak bisa tersampaikan, jika rindu ini terhalang oleh sebuah ikatan, ikatan persaudaraan diantara kita yang tidak terbantahkan. Lalu, kenapa harus ada cinta diantara kita berdua? Padahal kita tahu, perasaan ini adalah perasaan yang salah,' gumam Shakila sambil menatap Darren yang juga menatapnya dengan tatapan nanar.


NOTE:


Othor ingetin ya, Shakila itu anaknya Dimas sama Delia. Tapi Darren dan Shakila itu menganggap mereka itu saudara beda ibu, padahal mereka ga ada hubungan darah sama sekali. Kok bisa ya Shakila jadi anaknya Aini sama Roy, jadi adiknya Darren? Memangnya dimana Dimas sama Delia? Tau ah 😂 Tetep keep stay tune ya gaes 😭😭😭🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2