Bed Friend

Bed Friend
Selamat Tinggal Cinta


__ADS_3

"Mama Aini," ucap Shakila saat melihat Aini yang menghubungi ponselnya.


"Aku angkat panggilan dari Mama Aini dulu, Oma."


Fitri pun menganggukkan kepalanya. Shakila kemudian mengangkat panggilan itu.


[Halo, Ma.] jawab Shakila.


[Halo Shakila, apa kabar?]


[Sangat baik, Ma. Ada apa Ma? Apa Mama merindukanku?] ucap Shakila sambil terkekeh.


[Tentu saja, setiap saat Mama selalu merindukanmu, Shakila. Mama sudah merawatmu sejak kau berumur satu tahun, berpisah denganmu itu sangat tidak mudah.]


[Tapi selamanya Mama dan Papa Roy tetap menjadi orang tuaku, kalian tetap memiliki ruang tersendiri di dalam hatiku. Bagaimanapun juga kalian lah yang sudah merawatku sejak aku kecil, dan begitu menyayangiku. Aku tidak mungkin melupakan kalian begitu saja, Ma.]


[Iya Shakila, iya. Kau tetap menjadi bagian dari keluarga kami. Itulah alasannya aku meneleponmu. Aku meneleponmu untuk memberi tahu jika besok pagi Vansh, anak Tante Olivia akan menikah. Kau bisa kan datang ke pernikahan Vansh?]


[Jadi maksud Mama, Mama menyuruhku untuk datang ke Jakarta?]


[Iya Shakila. Kalau kau mau datang, Mama akan memesankan tiket pesawat untuk penerbangan nanti sore ke Jakarta.]


[Ma, apa itu berarti Kak Darren juga akan pulang?]


[Emhhh sepertinya Darren juga akan pulang bersama Tante Olivia dan Om Kenan.]


[Benarkah Ma?] tanya Shakila dengan begitu bersemangat.


[Iya, Darren sepertinya juga akan ikut pulang karena tadi Tante Calista mengatakan jika Om Leo sudah menyuruh mereka semua untuk pulang.]


"Yess!" ucap Shakila sambil setengah berteriak.


[Lalu bagaimana? Apa kau mau menghadiri pernikahan Vansh?]


[Tentu saja Ma, aku mau datang ke pesta pernikahan Kak Vansh.]


[Oke, Shakila. Mama akan memesankan tiket untuk penerbangan nanti sore.]


[Terima kasih, Ma.]


[Sama-sama, Shakila. Sampai bertemu nanti malam.]


[Sampai bertemu nanti malam, Ma.] jawab Shakila. Dia kemudian menutup telepon dari Aini.

__ADS_1


Shakila kemudian menatap Fitri dengan tatapan merajuk. "Oma, ijinkan aku pergi ke Jakarta? Please," rajuk Shakila. Fitri kemudian menggelengkan kepalanya sambil berdecak.


"Ck, kenapa kau harus meminta ijin padaku? Bukankah kau sudah membuat keputusan secara sepihak?"


"Hahahaha, jadi Oma mengijinkanku?"


"Mau bagaimana lagi?"


"Terima kasih banyak, Oma!" teriak Shakila sambil memeluk Fitri.


"Tapi itu bukan berarti kau bisa lepas begitu saja dari perjodohan dengan Devano, Shakila!"


"Apa maksud Oma?"


"Apa kau belum sadar juga jika Darren sudah menjauhimu?"


"Oma, kenapa Oma berkata seperti itu?"


"Jadi kau belum sadar juga? Orang yang sedang jatuh cinta memang sulit dinasehati!" gerutu Fitri.


"Oma, tolong jangan berkata seperti itu pada Kak Darren, aku yakin dia pasti masih mencintaiku sama seperti dulu. Aku yakin, aku masih jadi pemilik hatinya, dan aku yakin Kak Darren tidak akan melupakanku begitu saja."


"Terserah kau saja, kau memang keras kepala, Shakila. Untuk saat ini, silahkan kau hidup dengan keyakinanmu. Oma akan memberi kau kesempatan untuk bertemu dengan Darren di Jakarta, tapi jika ternyata dia sudah tidak mencintaimu lagi, ataupun jika sudah ada wanita lain di hidupnya, kau harus secepatnya pulang dan menerima perjodohan dengan Devano."


"Bersiaplah sekarang, sebentar lagi kau harus ke Bandara kan?"


Shakila lalu menganggukkan kepalanya. Fitri lalu keluar dari kamar Shakila. "Saat ini hiduplah dengan keyakinanmu Shakila, tapi aku yakin kau pasti besok akan kembali lagi dan menyetujui perjodohan itu, karena firasatku tidak pernah salah. Orang yang kau cintai itu pasti sudah memilih wanita lain di dalam hidupnya. Dan kau tetap akan berjodoh dengan Devano," kata Fitri saat keluar dari kamar Shakila sambil sesekali melirik Shakira yang saat ini sedang tersenyum bahagia.


***


Flashback end..


❣️ Bestie, Flashback end ya, kita kembali lagi ke part waktu sehabis makan malam setelah pernikahan Vansh, saat Jane datang ke rumah Darren, waktu Shakila mergokin dari jendela balkon kamar, Darren lagi nyium Jane, terus Shakila nangis di kamar.


***


Sementara itu, di balik jendela kamar di rumah tersebut, seorang gadis tengah menangis sambil menyenderkan tubuhnya pada tembok. Tangannya dia letakkan di atas dadanya sambil meremmas pakaiannya. Hatinya terasa begitu hancur melihat dua insan yang sedang saling bermesraan, berpelukan, dan saling memaggut di depan mata kepalanya.


'Kakak, tolong ajari aku untuk bisa mengabaikanmu seperti kau mengabaikanku. Ajari aku agar aku bisa meninggalkanmu seperti kau meninggalkan aku. Rasanya, aku hanya pernah jatuh cinta sekali seumur hidupku tapi rasanya seperti patah berkali-kali. Sehancur inikah aku? Serapuh inikah hatiku? Mengapa aku tidak pernah menyadari semua kesalahan ini? Dan bodohnya aku masih menganggap semua ini sebagai cinta yang suci,' gumam Shakila diiringi air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.


Dia kemudian menghapus air matanya lalu mengutak-atik ponselnya dan mengambil pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam koper.


"Benar kata Oma, kau ternyata sudah melupakanku dan memilih wanita yang lain."

__ADS_1


Shakila kemudian menghapus air matanya kembali. "Kau melupakanku dengan menggunakan hati yang baru, aku pun akan mencoba melupakanmu, Kak. Tapi bukan dengan menggunakan hati yang baru tapi aku akan mencoba berdamai dengan hatiku sendiri karena selama ini hati ini yang memilihmu. Aku selalu menuruti kata hatiku dan mengabaikan logikaku."


Shakila kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu mengehembuskannya.


"Aku tidak pernah menggunakan logikaku hingga benar-benar terlihat bodoh. Ya, bodoh, itulah kata yang pantas bagiku, aku menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya, menahan rindu hingga rasanya hampir gila, bahkan aku sampai tidak memiliki keinginan hidup karena raga ini yang terpisah darimu. Selama ini, aku selalu menahan lara dan tangis dalam diam, dan sekarang saatnya waktu yang tepat untuk melepasmu, meskipun sakit dan pasti rasanya begitu sulit, semua pasti akan terbiasa. Bukankah selama ini aku sudah terbiasa hidup tanpa kabar, terbiasa tanpa rindu, hingga akhirnya aku akan terbiasa untuk melupakan. Selamat tinggal, Kak Darren," ucap Shakila sambil mengemasi barang-barangnya.


Dia kemudian menarik koper miliknya keluar dari kamarnya lalu turun dan mendekat pada Aini dan Roy yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Shakila, kau mau kemana?" tanya Aini. Dia kemudian berpandangan dengan Roy yang juga terkejut melihat Shakila yang sedang membawa barang-barangnya.


"Ma, Pa, maaf ini sedikit mendadak. Shakila harus pulang sekarang juga."


"Kenapa mendadak sekali seperti ini, Shakila?"


"Maaf Ma, Oma Fitri baru saja memberi tahu jika acara pertunanganku dengan Devano akan dipercepat. Kami akan melangsungkan pertunangan besok siang Ma."


"Kenapa mendadak sekali, Shakila?"


"Sebenarnya aku yang sudah memundurkan acara pertunangan kami, seharusnya acara pertunangan itu dilaksanakan saat Mama meneleponku, tapi aku meminta waktu karena ingin menghadiri pernikahan Kak Vansh. Aku tidak mau mengecewakan Oma, jadi saat Oma menghubungiku lagi, aku langsung mengiyakan permintaan Oma tersebut."


"Astaga, Shakila. Kenapa kau tidak mengatakan pada kami semua? Kalau seperti ini keadaannya, aku tidak akan memintamu untuk pergi ke Jakarta!" omel Aini.


"Tidak apa-apa, Ma. Bukankah sudah kukatakan jika aku juga ingin menyaksikan pernikahan Kak Vansh."


"Lalu apa kau sudah memesan tiket penerbangan?"


"Sudah Ma, kebetulan masih ada bangku kosong untuk penerbangan dini hari."


"Kenapa tidak menunggu sampai besok pagi saja, Sayang?"


"Tidak Ma, aku bisa tergesa-gesa. Mama tau kan aku terkadang gugup."


"Baiklah jika itu maumu. Papa dan Mama akan mengantarmu ke Bandara, sekarang! Sebentar kami bersiap dulu, Shakila," ujar Roy.


"Iya Pa!"


Aini dan Roy lalu masuk ke dalam kamar mereka, sedangkan saat ini Shakila tampak mengamati seluruh rumah itu.


"Rumah ini, rumah yang penuh dengan kenangan, bahkan di setiap sudutnya. Selamat tinggal cinta, selamat tinggal kenangan, aku akan mengubur semua cinta dan kenangan di dalam hatiku."


"Ayo Shakila, kita pergi sekarang!"


Shakila kemudian menganggukan kepalanya. "Ya," jawab Shakila lirih kemudian keluar dari rumah itu mengikuti langkah Aini dan Roy.

__ADS_1


__ADS_2