Bed Friend

Bed Friend
Perpisahan Termanis


__ADS_3

"Apa kau sadar dengan yang kau katakan, Shakila."


"Sangat sadar, tolong jangan pergi Kak. Bisakah kita bersikap egois untuk sebentar saja? Bukankah kita juga berhak bahagia?"


"Tidak Shakila, tolong jangan bersikap seperti ini. Kita tidak boleh mengecewakan Papa dan Mama. Bukankah kau sejak awal mengatakan jika ini adalah sebuah kesalahan? Saat aku menyadarinya, kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini, Shakila. Tolong jangan bersikap seperti ini."


"Tapi Kak...."


"Shakila, kau anak yang baik. Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini. Kau tidak boleh mengecewakan Papa dan Mama Shakila, kau tidak boleh mengecewakan mereka."


"Lalu haruskah kau pergi?"


"Ya, karena hanya itu satu-satunya cara Shakila. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa melupakanmu. Perasaan ini sudah terlalu menyiksaku, "


"Juga menyiksaku, Kak."


"Itulah alasannya kita harus berpisah."


"Tapi Kak...," ucapku tertahan. Aku benar-benar merasa tidak terima dengan keputusannya. Rasanya sungguh berat, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya hidupku tanpa dia di sampingku.


"Tapi apa? Ingat Shakila, sejak awal kau yang selalu mengingatkanku jika hubungan ini adalah sebuah kesalahan. Tolong jangan goyah dengan pendirianmu, Shakila. Jangan mudah terbujuk keegoisan dan ambisi semata. Ini adalah sebuah kesalahan, ini adalah dosa besar," ucap Kak Darren.


"Tidak Kak, aku tidak mau kehilanganmu," ucapku sambil memeluk kian erat tubuh Kak Darren. Aku benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya, dan aku tidak ingin dia pergi dari hidupku, tidak ingin dia pergi dari sampingku. Aku pun semakin terisak di dalam dekapan dadanya.


Kilau cahaya senja, seolah menjadi saksi kisah cintaku sekaligus kesedihanku. Cinta dan kesedihan yang kini melebur menjadi satu, dalam sebuah kisah. Kisah yang bisa kutebak jika hanya ada rasa sakit di ujung cerita.


Saat aku masih terisak dalam pelukan Kak Darren. Tiba-tiba, sebuah ketukan pintu pun kembali terdengar.


TOK TOK TOK

__ADS_1


"Shakila! Shakila, apa kau baik-baik saja?" tanya sebuah suara dari arah luar. Spontan, aku dan Kak Darren pun melepaskan pelukan kami. Mendengar ketukan dari Mama Aini yang semakin keras terdengar. Kak Darren pun bergegas pergi dari balkon kamarku, dia kemudian melompat tembok menuju ke balkon kamarnya.


Sebelum dia masuk ke dalam kamarnya, dia menarik sudut bibirnya dengan kedua tangannya sebagai kode untuk menyuruhku tersenyum. Aku pun tersenyum, meskipun berat sekali rasanya.


TOK TOK TOK


Suara ketukan pintu kembali terdengar. Aku kemudian bergegas berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu tersebut.


"Shakila, apa kau baik-baik saja?" tanya Mama Aini padaku.


"Iya Ma, aku baik-baik saja. Aku sudah cukup beristirahat. Aku baik-baik saja Ma," jawabku agar tidak membuat Mama Aini cemas.


"Syukurlah, ini Mama berikan sesuatu padamu. Ini oleh-oleh dari kakek, dan nenekmu di Jogja," kata Mama Aini sambil memberikan beberapa bungkus paper bag padaku.


Aku pun mengambil paper bag itu dari tangan Mama Aini. Sebenarnya aku sedikit terkejut dengan benda-benda yang diberikan oleh Mama Aini, semua barang-barang ini adalah barang-barang branded dan bermerek, bahkan ada beberapa produk impor yang tidak dijual disini. Sedangkan setauku kedua orang tua Mama Aini yang merupakan kakek dan nenekku berasal dari desa.


'Darimana mereka bisa memberikan semua barang-barang ini untukku? Ah, aku tidak mau memikirkan semua itu. Mungkin saja mereka menitipkan barang-barang ini pada sanak saudara mereka. Sebaiknya aku tidak terlalu banyak berfikir karena kisah cintaku yang begitu rumit ini saja begitu menyiksa tenaga dan pikiranku,' gumamku.


"Shakila, kita makan malam sekarang!" perintah Mama Aini padaku. Aku pun menganggukkan kepalaku, sebenarnya aku belum merasa lapar. Tapi aku tidak ingin membuat mereka curiga.


Aku kemudian mengikuti langkah Mama Aini menuju ke ruang makan, tampak di meja makan sudah ada Papa dan Tristan. Tak lama setelah aku duduk, Kak Darren pun duduk tepat di sampingku.


Melihat kedatangannya, aku pun tersenyum. Sepanjang acara makan malam, rasanya aku begitu kesal karena mendengar Papa dan Kak Darren yang sedang membicarakan rencana kuliah Kak Darren ke Australia. Hatiku sakit dan begitu kesal mendengar perbincanganmn mereka. Rasanya, aku benar-benar tidak rela Kak Darren pergi dari hidupku, dan waktu selama satu minggu benar-benar waktu yang singkat.


Tak tahan mendengar perbincangan Papa dan Kak Darren, aku pun menyudahi makan malamku. "Permisi, aku ke kamar dulu. Ada tugas yang harus kuselesaikan," ucapkku pada semua yang ada di meja makan.


"Iya sayang, jangan terlalu lelah Shakila, kalau kau kesulitan mengerjakan tugas-tugasmu kau bisa minta bantuan Darren. Iya kan Darren?" tanya Mama Aini. Aku pun tersenyum tipis, sedangkan Kak Darren menganggukkan kepalanya.


"Iya Ma, aku ke kamar dulu," ucapku. Tanpa memedulikan tatapan Kak Darren padaku. Aku berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah lunglai.

__ADS_1


Setelah memasuki kamar, aku kemudian berjalan ke arah balkon kembali dan menangis dengan sejadi-jadinya sambil memandang langit malam yang kelam dan tak berbintang. Mungkin semesta pun tahu bagaimana perasaanku saat ini, kelam dan diselimuti oleh sedih yang begitu mendalam.


"Bukankah sudah kubilang jangan menangis, kenapa kau masih menangis?" tanya sebuah suara yang membuyarkan lamunanku. Aku pun melihat ke arah sumber suara itu kemudian menghapus air mataku dengan kasar.


"Tolong jangan pergi," ucapku padanya dengan tatapan mengiba. Namum Kak Darren semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Aku pun berhambur memeluknya kembali dan menangis hanyut dalam dekapannya.


Kak Darren masih terdiam. "Tidak bisa, Shakila. Sekarang bahkan perasaanku semakin kacau mendengar kata cinta darimu. Aku takut Shakila, aku takut jika rasa ini semakin dalam dan tak bisa kulepaskan. Rasanya benar-benar sakit."


Aku pun tak mampu lagi mengucap sesuatu. Nalarku pun berkata demikian, alasan Kak Darren memang benar. Jika rasa ini semakin dalam, tentu akan semakin sulit kami lepaskan. Tapi tidak dengan perasaanku yang masih tidak bisa menerima semua itu. Terlalu sakit, dan menyedihkan.


Aku pun makin terisak, pelukanku makin erat, sedangkan mataku terpejam rapat. Kuberanikan diri mengangkat wajahku dan menatap Kak Darren meskipun dengan wajah yang terlihat begitu berantakan.


"Kak," panggilku lirih.


Kak Darren balas menatapku dengan senyuman sambil menghapus air mataku dengan tangannya. Bisa kurasakan rasa sakit yang sama lewat tatapan matanya.


"Shakila, dengarkan aku. Aku tahu rasa yang terjalin diantara kita berdua adalah sebuah kesalahan. Tapi aku tidak akan pernah menyesal telah jatuh cinta padamu. Ini masalah hati Shakila, dan kita tidak tahu pada siapa hati kita akan berlabuh.


Kak Darren lalu menarik daguku. Wajah kami kini terasa begitu dekat, jarak diantara kami berdua pun semakin terkikis. Kak Darren memiringkan kepalanya kembali yang membuatku menahan nafas beberapa detik. Semakin dekat dan akhirnya bibir kami menyatu.


Aku tidak peduli dia adalah kakakku. Yang aku pedulikan sekarang adalah perasaanku yang tidak ingin berpisah dengannya. Kak Darren memaggutku dengan lembut dan lambat dan tampak begitu menikmati bibirku. Rasanya aku begitu luluh dan ingin menyerahkan semua yang aku miliki.


Tidak hanya Kak Darren yang melummat bibirku, aku pun membalas lummatan bibirnya. Decakan demi decakan kini mulai terdengar, kami memang berciuman dengan cukup lama, hingga akhirnya kami melepaskan ciuman kami masing-masing.


"Kakak," ucapku kembali.


"Bolehkah sekali lagi?" tanya Kak Darren dan gilanya aku mengangguk. Kak Darren mengangkat tubuhku tanpa melepas ciuman kami kemudian membawaku masuk ke dalam kamar dan mendudukkan tubuh kami di atas sofa.


"Kak," ucapku saat Kak Darren melepaskan ciuman kami.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kak lakukan apapun yang kakak inginkan padaku. Jadikanlah malam ini sebagai perpisahan termanis diantara kita berdua. Aku ingin malam ini menjadi malam yang tidak bisa kulupakan sepanjang hidupku."


__ADS_2