
Sharen lalu meninggalkan Maya kemudian bergegas mengendarai mobil milik Calista yang digunakan olehnya menuju ke cafe tempat Cleo menunggunya. Tanpa Sharen sadari tiga pasang mata di dalam sebuah mobil kini tampak sedang mengawasi dirinya. Dua orang diantara mereka lalu turun dari mobil tersebut, sedangkan salah seorang yang ada di mobil pergi membuntuti kemana Sharen pergi.
Dua orang tersebut lalu perlahan mengendap-endap ke arah rumah itu lewat pekarangan di samping rumah agat tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka lalu mengamati seluruh ruangan dari balik cermin yang tampak sangat berdebu. Setelah mengamati beberapa ruangan, akhirnya mereka menemukan jendela kamar tempat Maya saat ini disekap. Salah seorang diantara mereka lalu mengambil ponselnya kemudian tampak menelepon seseorang.
[Halo Bos.]
[Ada seorang wanita yang disekap oleh Sharen, Bos.]
[Cepat lepaskan wanita yang disekap oleh Sharen. Katakan padanya jika dia ingin selamat suruh dia agar mau bekerjasama denganku. Lalu bawa dia untuk menemuiku di kantor sekarang juga.]
[Baik Bos.]
[Satu lagi. Tolong saat kalian membebaskan wanita itu jangan sampai anak buah Sharen tau, buatlah seolah-olah agar wanita itu tampak melarikan diri agar Sharen tidak curiga padaku jika aku sedang membuntuti gerak-geriknya.]
[Baik Bos, kami akan melakukan semua yang Bos katakan.] Dia kemudian menutup teleponnya lalu bersama dengan temannya mencongkel jendela tempat Maya disekap.
Setelah kaca jendela itu berhasil dicongkel, mereka pun memasuki kamar tersebut, lalu berjalan mengendap-endap menuju ke sofa tempat wanita itu duduk. Maya yang melihat kedatangan orang asing di dalam kamar itu pun begitu terkejut. Dia tampak membelalakkan matanya disertai degup jantung yang kini semakin begitu kencang. Dua orang tersebut lalu membuka ikatan di tubuh Maya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Kami akan menolongmu, jika kau ingin aman dari Sharen, kau ikuti kemana kami pergi untuk bertemu dengan Bos kami, kau akan aman dalam perlindungannya."
"Benarkah?"
"Untuk apa kami berbohong."
"Baiklah," jawab Maya kemudian mengikuti kedua orang tersebut keluar dari kamar melalui jendela.
***
Sharen mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi karena jarak Cafe dengan rumah tempat dia menyekap Maya cukup jauh. Setengah jam kemudian, dia pun sudah sampai di cafe tersebut. Sharen lalu memasuki cafe kemudian langsung ke arah Cleo yang kini tampak sedang menikmati pancake ditemani oleh secangkir kopi.
__ADS_1
"Halo Cleo," sapa Sharen.
"Kau sudah datang Kak?"
"Ya," jawab Sharen kemudian memeluk Cleo sambil mencium kedua pipi Cleo.
"Aku sangat merindukanmu," tambah Sharen.
"Aku juga sangat merindukanmu, Kak. Apa kau betah tinggal di Bandung?"
"Oh ya tentu saja."
"Memangnya sejak kapan kau pergi ke Bandung? Bukankah saat aku melangsungkan resepsi pernikahanku dengan Kenzo kau masih ada di sini?"
"Ya, aku memang belum lama pindah. Kira-kira sepuluh hari setelah pesta pernikahan kalian."
Cleo dan Sharen kini sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Sepuluh hari setelah pesta pernikahanku? Bukankah pada tanggal itu juga terjadi tragedi antara Nathan dan Kak Sharen? Jadi saat kejadian berlangsung, dia juga baru saja pulang dari Bandung? Atau jangan-jangan dia mengikuti Nathan pergi ke Bandung?' gumam Cleo.
"Cleo, kenapa kau diam? Apa apa sesuatu yang kau pikirkan?"
"Oh tidak apa-apa, pantas saja kami tidak bertemu denganmu saat pergi ke rumah Papa Abimana. Kami baru berkunjung ke rumah Papa Abimana dua minggu setelah kami menikah."
'Kita memang tidak bertemu, Cleo karena sehari sebelum kau mengunjungi rumah Papa, Mama Inara mengantarkan aku ke rumah Tante Calista. Malam itu setelah akad nikah sebenarnya aku merasa sangat kecewa karena Nathan menolak untuk tinggal satu atap denganku, dia beralasan ada hati yang harus dia jaga, yaitu Clarissa. Jadi, aku sengaja membuka aibku di depan tetangga dan kerabat dekat Mama dan Papa agar mereka menggunjingku, dan seperti dugaanku, saat Papa dan Mama mendengar gunjingan itu, mereka berinisiatif mengantarkan aku ke rumah Tante Calista. Sayangnya, Nathan memang sangat keras kepala, dia tetap saja menolak tinggal satu atap denganku, bahkan beberapa hari setelah pernikahan kami ternyata dia juga sudah menikahi Clarissa secara resmi,' gumam Sharen lagi.
"Jadi, kau belum bertemu dengan Clarissa setelah dia menikah dengan Nathan?"
"Belum," jawab Sharen sambil menahan perasaan kesal di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa kau tau Kak, aku sebenarnya sangat bahagia Nathan sudah bisa melupakanku, dan saat ini dia terlihat sangat mencintai Clarissa, sayangnya..."
Cleo tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
"Sayangnya apa Cleo? Cepat katakan, bukankah tadi di telepon kau mengatakan ada sebuah rahasia tentang hubungan Clarissa dan Nathan?" tanya Sharen dengan begitu berapi-api. Namun saat Cleo akan menjawab pertanyaan Sharen, tiba-tiba ponsel Sharen pun berbunyi.
"Sebentar Cleo," ujar Sharen saat melihat nama penelepon yang ada di layar ponselnya.
NOTE:
Mampir ke karya bestie aku yuk, karya Kak AG Sweetie yang sweet abis, wajib pantengin loooo. Nyesel kalo ga mampir
Blurb:
"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."
~ Vlora Yukika ~
"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"
~ Haedar Gibran ~
Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?
Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.
"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."
__ADS_1
~ Tristan Pratama ~
Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?