
Tangan Vansh pun mulai meringsak masuk ke dalam pakaian Maya lalu mendaratkan tangannya pada gundukan kenyal milik Maya. Vansh kemudian merabanya perlahan.
"Emh, Kak!" pekik Maya seketika mengehentikan ciuman mereka.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut. Baru pernah ada yang menyentuh milikku," jawab Maya sambil meringis. Vansh kemudian menempelkan bibirnya kembali lalu memainkan lidahnya, sedangkan tangannya mulai merremas dan memmilin putting Maya hingga membuat Maya mengeluarkan dessahan lembut yang membuat nafsu Vansh kian bergejolak.
Bibir keduanya masih saling melummat, dengan tangan Vansh yang mulai melucuti pakaian Maya hingga menyisakan pakaian dalam berenda berwarna merah. Maya yang semakin terbuai oleh sentuhan Vansh kemudian menekan tengkuk Vansh, melepaskan ciumannya sebentar lalu meremass bahu Vansh dan meninggalkan gigitan warna merah di dada suaminya. Sedangkan Vansh mulai meraba punggung Maya, mencari pengait branya kemudian melepaskan bra warna merah itu serta menurunkan celanna dallam yang dikenakan oleh Maya.
Vansh kemudian mendorong tubuh Maya hingga keduanya terjatuh di atas tempat tidur lalu mulai mengecup seluruh tubuh Maya, mengissap dan melumatt gunung kembar milik Maya hingga dessahan-dessahan pun mulai keluar dari bibir Maya memenuhi seluruh sudut kamar. Vansh lalu memasukkan asetnya yang membuat Maya berteriak. "Awww!" teriak Maya.
"Sabar sayang, sebentar ya," ucap Vansh sambil menatap Maya dengan tatapan hangat. Maya pun mengangguk. Vansh kemudian mencoba memasukkan asetnya kembali yang membuat Maya meringis kesakitan. Sebenarnya, Vansh merasa tidak tega melihat wajah Maya yang kini terlihat tersiksa.
"Bagaimana, Sayang? Kalau kau tidak sanggup, aku tidak akan memaksamu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak. Lakukan saja," jawab Maya sambil menahan rasa perih, hingga tanpa dia sadari, setetes air mata pun mulai keluar dari sudut matanya. Vansh yang melihatnya lalu menghapus air mata itu.
"Sakit!" rintih Maya.
"Aku tidak akan memaksamu, Maya."
"Aku tidak apa-apa, Kak. Lakukan saja," pinta Maya, wajahnya pun kini terlihat pucat. Vansh yang melihat Maya yang tampak begitu tersiksa lalu mulai mulai menghentakkan kakinya dengan keras.
"KAK!!" jerit Maya sambil meremas punggung Vansh disertai mata yang masih berkaca-kaca. Cairan berwarna merah pun mulai keluar dari selaput liang hangat milik Maya, dan menempel di aset milik Vansh, mengalir di paha mereka berdua kemudian menetes di atas ranjang.
"Sudah masuk, Sayang. Sudah masuk," ucap Vansh lalu mengecup kening Maya. Maya pun menganggukkan kepalanya. Sementara Vansh mulai memainkan pingguulnya sambil sesekali mencium bibir dan mengissap buah dada milik Maya.
"I love you," bisik Vansh.
"Love you too," jawab Maya disertai nafas yang masih menderu. Wajahnya menunjukkan rasa lelah, sambil menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.
__ADS_1
"Masih sakit?" tanya Vansh yang dijawab anggukan kepala oleh Maya.
"Lemas, Kak."
Melihat Maya yang kini terlihat kelelahan, Vansh kemudian bangun dari atas ranjang. Mengenakan celana boxernya lalu membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dia kemudian mengambil handuk hangat dan memberikannya pada Maya.
"Bersihkan terlebih dulu tubuhmu May, kau sepertinya terlalu lemas untuk membersihkan tubuhmu di kamar mandi. Maaf jika aku sudah memaksamu malam ini."
Maya pun bangkit dari atas ranjang lalu membersihkan tubuhnya dengan handuk hangat yang diberikan oleh Vansh dan mengenakan pakaiannya kembali.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya tidak menyangka jika rasanya ternyata seperti ini," jawab Maya sambil meringis. Vansh pun tersenyum, lalu membelai rambut Maya.
"Sebaiknya kau tidur, Sayang. Aku mandi dulu," ucap Vansh. Namun Maya mencekal tangan Vansh hingga langkahnya terhenti.
"Temani aku dulu, Kak. Peluk aku sampai aku tidur," rengek Maya. Vansh pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia kemudian masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh Maya yang kini terlihat lemas.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, raut wajah Maya pun mulai terlihat begitu damai, disertai aliran nafas yang teratur. Vansh pun tersenyum lalu membelai wajah Maya. Ingin rasanya dia mengumumkan pada seisi dunia jika wanita yang sangat dia cintai, yang menjadi cinta pertamanya kini sudah menjadi miliknya. Dia kemudian mengecup kening Maya sambil menatap wajahnya dengan tatapan yang menyiratkan rasa sayang yang begitu dalam.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas penantian panjang selama dua belas tahun. Terima kasih, untuk malam yang indah ini. Inilah jawaban di ujung penantian cinta kita. I will always love you, together."