
Aini melangkahkan kakinya keluar dari Bandara sambil melirik pada Shakila yang kini tampak begitu bersemangat. Hatinya terasa begitu sakit, bahkan semilir angin segar di pagi hari yang biasanya terasa begitu dia rindukan saat mengunjungi kota asalnya tersebut kini bahkan terasa ikut menambah perih di hatinya.
'Senyuman itu, apakah hari ini bisa kulihat lagi di wajah cantikmu saat kau tahu kebenaran yang akan kau hadapi, Nak,' gumam Aini saat melihat senyuman yang tersungging di bibir Shakila.
"Ayo Ma!" ucap Shakila saat sebuah taksi kini berhenti di depan mereka.
"Iya Shakila," jawab Aini. Mereka kemudian naik ke dalam taksi tersebut yang akan membawa mereka ke sebuah lembaga pemasyarakatan.
"Kita mau kemana, Ma? Bukankah rumah Oma ada di pinggiran kota?"
"Kita akan bertemu dengan Oma Fitri dulu, Shakila," jawab Aini, sebuah kalimat singkat tapi terasa membuat hatinya begitu hancur.
'Shakila, maafkan Mama. Maafkan Mama, Shakila. Maaf baru sekarang Mama memberi tahu jati dirimu yang sebenarnya. Ini pasti sangat menyakitkan bagimu,' gumam Aini sambil menghapus air matanya yang hampir saja lolos dari sudut matanya.
'Shakila tidak boleh melihat aku menangis, jika tidak, dia akan curiga sebelum dia bertemu dengan keluarga kandungnya,' batin Aini kembali.
'Oh, jadi aku langsung bertemu dengan Oma Fitri? Kupikir aku akan pergi ke rumah Oma terlebih dulu. Ah ini kebetulan sekali,' batin Shakila.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di depan sebuah bangunan dengan tembok keliling yang begitu tinggi, dan hanya ada sebuah pintu kecil di bagian tengah bangunan tersebut.
'Apa ini? Sebuah Lembaga Pemasyarakatan? Apa maksud Mama hingga membawaku ke tempat seperti ini?' gumam Shakila sambil mengerutkan keningnya. Saat masih diliputi rasa terkejut, tiba-tiba teguran dari Aini membuyarkan lamunannya.
"Ayo turun, Shakila!" tegur Aini.
"I.. I.. Iya, Ma."
Aini lalu turun dari taksi, kemudian diikuti Shakila yang turun di belakangnya. Saat turun dari taksi tersebut, tampak Fitri sudah berdiri menunggunya di samping sebuah mobil SUV sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
'Oma Fitri? Oma Fitri juga ada di sini? A.. Ada apa ini sebenarnya? Apakah calon suamiku menjadi salah seorang tahanan di lapas ini? Oh tidak mungkin! Bukankah Mama Aini dan Oma Fitri juga sangat menyayangiku. Mereka tidak mungkin menyuruhku menikah dengan seorang tahanan. Mereka tidak mungkin melakukan itu,' gumam Shakila. Dia kemudian mengikuti langkah Aini mendekat pada Fitri meskipun hatinya dihinggapi berbagai perasaan bimbang.
"Selamat pagi, Tante," ucap Aini.
__ADS_1
"Selamat pagi, Aini. Selamat pagi, Shakila. Bagaimana kabarmu, Shakila?"
"Ba.. Baik Oma," jawab Shakila sambil memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.
"Lama tidak berjumpa denganmu. Kau semakin cantik, Shakila. Bagaimana, apa kau masih sering merasa sedih karena kehilangan kakakmu itu?"
DEGGG
Jantung Shakila pun seakan berhenti berdetak saat mendengar perkataan Fitri, tak hanya Shakila tapi juga Aini yang ikut terkejut mendengar perkataan Fitri.
"Apa maksud Tante? Shakila sedih karena kehilangan Darren?"
"Itulah alasannya mengapa dulu aku tidak mau menuruti keinginan Dimas dan Delia, tapi ah sudahlah. Ini memang yang terbaik, aku juga tidak mau cucuku tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan cemoohan, yang bisa menggangu kesehatan jiwanya."
'Cucuku? Apa maksud dari semua ini? Siapa cucu yang dimaksud oleh Oma Fitri? Kenapa tiba-tiba aku seperti terseret dalam sebuah pusaran yang begitu membingungkan seperti ini?' gumam Shakila.
Melihat Shakila yang saat ini terdiam, Fitri kemudian menggenggam tangan Shakila. "Apa kau bingung dengan percakapan kami?" tanya Fitri, yang hanya dijawab dengan sebuah senyuman.
'Ah, apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kata-kata Oma Fitri terasa begitu penuh misteri?' gumam Shakila.
Saat masih dipenuhi berbagai kebimbangan dan dipenuhi dengan berbagai tanda tanya, tiba-tiba pintu lembaga pemasyarakatan itu pun perlahan terbuka.
Kemudian, dari balik pintu besi itu, tampak seorang wanita dewasa seusia Aini keluar dengan menenteng koper di tangan kirinya.
"Ayo Shakila!" perintah Aini agar mendekat ke arah wanita tersebut.
Melihat Aini dan Shakila yang mendekat ke arahnya, wanita itu pun tak mampu lagi menahan air matanya. Saat ini, dia hanya bisa menangis dengan begitu terisak sambil menutup mulutnya.
"Apa kabarmu, Delia? Apa kabarmu?" tanya Aini yang langsung menggenggam dengan erat tangan Delia yang saat ini menangis dengan begitu terisak.
"Jangan menangis, Delia. Jangan menangis lagi, semua sudah berlalu, semua sudah berlalu. Setelah ini kau bisa hidup bahagia. Tolong jangan menangis lagi, Delia," ucap Aini yang dijawab anggukan kepala oleh Delia.
__ADS_1
Aini kemudian memeluk Delia, mengelus punggungnya dan membiarkan air mata Delia membasahi bahunya. Air mata dari seorang wanita rapuh karena harus terpisah dari keluarga kecilnya, air mata dari seorang ibu yang begitu merindukan buah hatinya, sekaligus air mata penuh kecemasan jika mendapat penolakan dari orang yang sangat dia rindukan.
"Sudah jangan menangis lagi, jangan menangis lagi, lihat ini. Ini Shakila, bukankah aku sudah berjanji jika kau keluar dari sini, dia orang yang pertama kali akan kau lihat? Aku sudah memenuhi janjiku, saat pertama kali keluar, dia orang yang pertama kali kau lihat kan? Meskipun puluhan tahun kau tidak bertemu dengannya, tapi kau pasti bisa mengenalinya kan?"
Delia pun menganggukan kepalanya sambil terus menangis, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah samping dan melihat sosok wanita muda yang sangat cantik saat ini berdiri di samping Aini.
"Sha... Shakila?" ucap Delia dengan begitu terbata-bata.
Mendengar namanya disebut oleh wanita yang ada di depannya, Shakila pun tersenyum.
"Bolehkah aku menyentuhmu?" tanya Delia pada Shakila.
"Tentu," jawab Shakila yang masih dihinggapi berbagai pertanyaan di dalam benaknya. Delia kemudian mengelus wajah Shakila, menatapnya dengan tatapan sendunya hingga akhirnya dia tak mampu lagi menahan perasaan yang begitu bergejolak. Dia kemudian memeluk Shakila, awalnya sebuah pelukan lembut, namun pelukan lembut itu kini berubah menjadi pelukan kencang dengan diiringi isak tangis yang begitu pilu.
"Shakila," ucap Delia kembali. Aini dan Fitri yang melihat suasana haru itu hanya bisa ikut terisak. Sementara Shakila, saat ini masih dihinggapi berbagai pertanyaan yang menari di dalam benaknya.
Delia kemudian melepaskan pelukannya pada Shakila sambil menghapus air matanya dan mencoba tersenyum. "Maafkan aku, Shakila. Maaf jika aku membuatmu bingung. Seharusnya aku bisa mengendalikan perasaanku dan tidak memelukmu seperti itu," ucap Delia.
"Tidak apa-apa, Tante. Tidak apa-apa," jawab Shakila.
"Delia, kau tidak perlu berkata seperti itu. Aku sudah menyelesaikan tugasku untuk menjaga Shakila selama dua puluh tahun, sekarang tanggung jawab itu menjadi sepenuhnya milikmu dan Dimas," ucap Aini.
Mendengar perkataan Aini, jantung Shakila pun seakan berhenti berdetak. Aliran listrik seakan mengalir dalam tubuhnya hingga kepalanya yang membuat Shakila diam terpaku.
'Apa maksud dari semua ini? Apa maksud dari semua ini?' gumam Shakila. Perlahan dia pun memberanikan dirinya untuk membuka suaranya.
"Mama, apa maksud dari semua ini? Siapa sebenarnya Tante Delia, Ma?" tanya Shakila.
"Shakila, maaf jika aku telah menyembunyikan semua rahasia ini darimu. Delia adalah ibu kandungmu," jawab Aini yang membuat hati Shakila tiba-tiba terasa begitu hancur.
❣️Delia
__ADS_1
Tanpa kusadari, cinta sejatiku adalah orang yang selalu melakukan kesalahan bersamaku. (Epilog Salah Kamar)