Bed Friend

Bed Friend
Sebuah Tamparan


__ADS_3

"Jaga bicaramu, Devano! Itulah alasannya aku tidak pernah meminta pertanggung jawaban dari laki-laki menjijikkan sepertimu, karena aku tahu kau pasti tidak akan mengakui anak ini dan selalu menuduh kalau anak yang ada di dalam kandungan ini adalah anak Brian!"


Devano pun tersenyum sinis mendengar perkataan Luna. "Laki-laki menjijikan?Apa kau sadar berkata seperti itu padaku Luna? Apa karena kau sudah pernah disentuh oleh laki-laki lain semacam Brian hingga kau bisa bicara seperti itu?"


"Lebih baik kau tutup mulutmu, Devano!"


Saat Devano akan membuka suaranya tiba-tiba pintu ruangan pun diketuk.


TOK TOK TOK


"Permisi," sapa seorang dokter wanita. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan itu lalu menghampiri Devano dan Luna.


"Permisi Tuan Devano, kami harus membawa istri anda ke ruang perawatan," ujar dokter tersebut.


"Silahkan," jawab Devano.


Dokter tersebut lalu memerintahkan seorang perawat untuk membantu Luna turun dari brankar kemudian duduk di atas kursi roda dan membawanya ke ruang perawatan. Setelah sampai di ruang perawatan tersebut, dokter wanita itu lalu memeriksa kandungan Luna kembali. Sementara Devano tampak duduk di depan ruang perawatan Luna sambil memainkan ponselnya.


"Anda harus beristirahat total kurang lebih satu atau dua minggu Nyonya Luna, tolong kurangi aktifitas anda dan jangan terlalu banyak berfikir."


"Emhhh tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya dok?"


"Anda tenang saja, saya akan membuatkan surat keterangan dari dokter untuk beristirahat total."


"Tapi dok, bagaimana kalau saya dipecat.... "


Belum sempat Luna melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba air mata sudah jatuh membasahi pipinya.


"Hai, kenapa anda menangis?" ucap dokter tersebut sambil menggengam tangan Luna.


"Dokter, saya tulang punggung keluarga saya. Jika saya dipecat bagaimana saya menghidupi keluarga saya? Saya sangat membutuhkan pekerjaan saya dok..."


"Panggil saya Vallen, nama saya Dokter Vallen. Kenapa kau harus bersedih seperti ini, Nak?" ujar Vallen yang ikut merasa sedih melihat Luna yang saat ini mulai terisak.

__ADS_1


"Saya takut dipecat dok, saat ini saya ada dalam kondisi yang sulit."


"Kondisi yang sulit?"


Luna pun menganggukan kepalanya perlahan. "Ya, saya dalam kondisi yang sulit. Saat ini saya sedang mengandung, kalau saya tidak bekerja, lalu bagaimana saya bisa mencukupi kehidupan keluarga saya dan anak yang ada di dalam kandungan saya, Dok."


"Lalu dimana suamimu?" tanya Vallen dengan sedikit berhati-hati. Namun, Luna hanya menggelengkan kepalanya. Yang terlihat saat ini hanya tetes demi tetes butiran bening yang keluar dari sudut matanya.


"Saya belum menikah," jawab Luna dengan suara parau. Vallen pun begitu terkejut mendengar perkataan Luna, namun dia menutupi rasa terkejutnya dengan bersikap biasa saja agar tidak menyakiti hati Luna.


Kini, tangis Luna pun pecah, Vallen tak kuasa melihat wanita muda yang kini menangis di depannya. Seorang wanita yang terlihat begitu rapuh. Dia kemudian memeluk Luna sambil membelai rambutnya.


"Menangislah, menangislah untuk mengurangi bebanmu. Anggap aku sebagai orang terdekatmu, aku tahu saat ini kau pasti menjalani hidup yang tak mudah Luna. Aku tahu itu."


Luna pun terisak dalam pelukan Vallen. "Terima kasih banyak, dokter. Anda baik sekali."


Vallen kemudian melepaskan pelukannya pada Luna. Dia lalu tersenyum sambil menghapus air mata yang membasahi wajah Luna.


Luna pun menganggukan kepalanya. "Luna, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Tentu, apa yang ingin dokter tanyakan?"


"Emh maafkan aku Luna, bolehkah aku tahu siapa laki-lali yang ada di depan itu? Laki-lali yang menunggumu?"


Mendengar pertanyaan Vallen, Luna pun memundukkan kepalanya.


"Dia, dia mantan bos di tempat saya bekerja, Dok."


Luna pun hanya bisa tertunduk lesu. "Benarkah hanya sebatas itu hubungan kalian?" tanya Vallen yang membuat Luna kini terlihat begitu gugup.


"Emhhhh... Ya, dia mantan bos saya dulu, Dok."


"Benarkah hanya sebatas mantan bos bagimu? Apa tidak pernah ada hubungan lebih?

__ADS_1


"Ya, hanya sebatas hubungan profesional sebagai atasan dan bawahan."


"Tapi kenapa matamu mengatakan jika kalian memiliki hubungan yang lebih dari itu, Luna?"


Luna pun hanya memejamkan matanya lalu meremmas dadanya yang kini terasa begitu sesak.


Vallen kemudian menggengam tangan Luna kembali. "Baik jika kau belum ingin memberi tahu padaku, Luna. Kau bisa memberi tahu kapanpun kau mau. Aku akan mendengar keluh kesahmu, maaf bukannya aku terlalu ikut campur pada kehidupan pribadimu. Tetapi, aku hanya ingin membantu meringankan bebanmu, itu saja."


"Iya saya tahu maksud anda baik, Dok."


"Baik kalau begitu, beristirahatlah. Aku keluar dulu," ucap Vallen.


"Iya Dokter, terima kasih banyak."


Vallen kemudian tersenyum. "Gadis cantik, aku tahu kau wanita yang kuat," ujar Vallen sambil membelai wajah Luna sebelum keluar dari ruangan itu.


Luna pun tersenyum. Setelah Vallen keluar dari ruangan itu, Devano pun masuk ke dalam ruangan dan mendekat pada Luna.


"Apa perlu kutelepon kekasihmu itu? Dia pasti sangat bahagia saat tahu kau mengandung darah dagingnya."


Luna pun hanya terdiam mendengar perkataan Devano. "Tuan jika tujuan anda di sini hanya ingin membicarakan hal itu, lebih baik anda pergi dari sini! Karena anak yang saya kandung bukanlah anak Brian, tapi anakmu!"


"Bohong!"


"Saya tidak pernah berbohong padamu! Kalau anda tidak percaya, silahkan hitung saya tanggal terakhir kita berhubungan badan dua bulan yang lalu, sebelum orang tua anda mengadu domba kita, dihitung dari hari terakhir saya menstruasi terakhir saat masih menjalin hubungan dengan anda, bukankah usianya sama dengan usia kandungan saya, Tuan Devano? Seharusnya anda bahagia saya tidak pernah meminta pertanggung jawaban anda atas bayi ini. Jadi, tolong anda tidak usah ikut campur atas hidup saya! Dan, lebih baik anda pergi dari sini, Tuan! Pergi!" bentak Luna.


"Pergi Tuan Devano!" teriak Luna kembali.


Devano pun mendengus kesal lalu membalikkan tubuhnya. Namum, saat dia baru saja membalikkan tubuhnya tersebut, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


PLAKKKK PLAKKK PLAKKK


Devano pun begitu terkejut saat melihat seorang wanita yang kini ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2