
Mendengar perkataan Nathan, tubuh Kenzo pun menegang. 'Astaga, aku lupa. Bukankah di ruang tamu ini ada foto Clarissa? Pasti Kak Nathan sudah melihat foto keluarga itu,' gumam Kenzo dengan perasaan cemas.
"Oh iya Clarissa, ada apa dengan Clarissa, Kak?" jawab Kenzo disertai dengan perasaan yang begitu cemas.
"Jadi Clarissa itu adikmu?" tanya Nathan dengan begitu tenang. Kenzo pun hanya tersenyum.
"Katakan saja yang sebenarnya, Kenzo. Aku tidak akan marah padamu. Kau yang membuat permainan itu kan? Kau membuat permainan yang hampir sama denganku?"
"Maafkan aku, Kak. Aku memang yang sudah membuat permainan ini, aku memang telah menyuruh Clarissa untuk berpura-pura tertabrak mobilmu. Lalu membuatmu sibuk mengurus Clarissa agar kau tidak bisa menggangu rencana pernikahanku dan Cleo, sekali lagi aku minta maaf padamu, Kak."
"Tidak apa-apa, Kenzo. Awalnya memang aku sedikit kesal tapi setelah kupikirkan kembali, yang kau lakukan itu tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan yang pernah kulakukan padamu dan Cleo, aku pernah mempermainkan kalian selama dua tahun lamanya, tidak sebanding dengan yang kalian lakukan padaku saat ini," ucap Nathan sambil tersenyum.
"Jadi kau tidak marah pada kami?" tanya Kenzo. Nathan lalu menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih banyak, Kak Nathan. Kau memang sangat bijaksana."
"Aku hanya mencoba memperbaiki diriku saja. Jadi sebenarnya Clarissa tidak pernah tertabrak mobilku kan?"
"Tidak, dia hanya menyerempetkan sekaligus memukul mobilmu dengan menggunakan tasnya saja agar kau merasa seperti menabrak seseorang."
"Kalian memang benar-benar cerdik," ucap Nathan sambil tersenyum kecut.
"Maaf Kak. Lalu bagaimana keadaan Clarissa saat ini? Dia baik-baik saja kan?"
"Ya, dia baik-baik saja, tadi aku meninggalkannya saat dia sedang tidur siang."
"Apa dia merepotkanmu, Kak?"
"Sangat merepotkan dan juga sangat galak," jawab Nathan sambil tertawa terbahak-bahak. Kenzo pun ikut tertawa. "Dia memang sangat galak, sejak kecil dia sangatlah dimanja oleh Mama dan Papa, semua yang dia inginkan selalu dituruti oleh Papa dan Mama, apalagi dia adalah satu-satunya anak kandung Papa Rayhan dan Mama Amanda, mereka sangat menyayangi Clarissa, dia memang tidak segan-segan memarahi orang-orang yang ada di sekitarnya jika orang itu berbuat kesalahan ataupun telah menyinggungnya."
"Kau benar, Kenzo. Bahkan dia juga tidak segan untuk menamparku," gerutu Nathan sambil memegang pipinya.
"Hahahaha... Hahahaha.. Astaga, jadi dia juga menamparmu? Dia sering melakukan itu sejak sekolah dulu, terutama jika ada laki-laki yang mengganggunya."
__ADS_1
"Ya, dia tidak hanya menamparku satu kali tapi dua kali," gerutu Nathan lagi.
"Memangnya apa kesalahan yang kau lakukan padanya hingga dia sampai menamparmu dua kali? Apa kau membuatnya tersinggung?"
"Oh.. E.. Itu, itu karena komik Doraemon, ya itu karena komik Doraemon," ujar Nathan sambil meringis.
'Sebenarnya dia menamparku karena aku sudah mencium pipinya dan tidak sengaja jatuh di atas buah d*danya, jangan sampai Kenzo ataupun Tante Amanda dan Om Rayhan tahu tentang semua ini, mereka semua pasti akan marah padaku. Lalu mau kutaruh dimana mukaku di hadapan mereka semua? Apalagi di hadapan Papa dan Mama, benar-benar memalukan,' gumam Nathan.
"Kasar sekali, akan kunasehati nanti. Hanya karena komik Doraemon dia sampai menamparmu?"
"Oh, E.. Tidak usah Kenzo, tidak usah. Aku ikhlas ditampar Clarissa kapanpun dia mau, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, aku sangat bahkan sangat senang jika Clarissa masih bisa menamparku."
"Apa maksudmu Kak Nathan? Kau senang jika Clarissa menamparmu?" tanya Kenzo sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, jika Clarissa menamparku itu tandanya dia masih hidup," ucap Nathan dengan begitu gugup.
"Masih hidup? Bukankah Clarissa memang masih hidup? Kak Nathan, sungguh aku tidak mengerti dengan kata-katamu, kenapa kau tiba-tiba jadi aneh seperti ini saat kita membicarakan Clarissa. Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?"
"Oh tidak Kenzo, mungkin aku menghawatirkan Clarissa karena dia sendirian karena aku tidak pamit padanya saat saat pergi ke sini. Emh.. E.. Sebaiknya aku ke apartemen sekarang, aku menghawatirkan keadaan Clarissa, mungkin juga saat ini dia sudah bangun. Aku pergi dulu, Kenzo."
"Iya, nanti akan kusampaikan pada Clarissa," jawab Nathan. Dia kemudian keluar dari rumah Kenzo lalu bergegas pergi ke apartemen. Tak lupa, dia berhenti sebentar di sebuah rumah makan cepat saji untuk membelikan makanan terlebih dulu untuk Clarissa. Sesampainya di gedung apartemen, dia kemudian bergegas menuju ke apartemen Clarissa.
TETTTT TEEETTT
Pintu apartemen pun terbuka. Clarissa membuka pintu itu sambil tersenyum dengan sangat manis. "Kau darimana Kak? Kupikir kau sudah pulang."
"Aku hanya membeli makanan untuk kita berdua. Aku yakin, saat kau bangun kau pasti merasa lapar, iya kan?" jawab Nathan sambil masuk ke dalam apartemen.
"Ya, tapi bukankah biasanya kau lebih suka memesan makanan secara online?"
"Oh itu karena tadi aku ingin membeli rokok, rokokku habis jadi aku ke minimarket yang ada si dekat sini sekaligus membeli makanan di luar."
"Oh, ayo kita makan sekarang. Kak Nathan juga belum makan kan?"
__ADS_1
Nathan menggelengkan kepalanya. Mereka lalu berjalan ke meja makan, Clarissa kemudian mengikuti langkah Nathan yang kini sudah menaruh makanan tersebut di atas meja makan.
"Bagaimana keadaan tanganmu, Clarissa? Sini kusuapi saja, tanganmu masih sakit kan?"
"Emh.. E.. Baik-baik saja, kondisiku jauh lebih baik sekarang."
"Bagus, kau harus banyak beristirahat agar lukamu cepat sembuh."
"Iya Kak, terimakasih banyak."
Nathan lalu menyuapkan makanan yang dibelinya pada Clarissa sambil tersenyum dan menatap Clarissa yang kini tengah asyik makan sambil sesekali mengobrol dengannya.
'Lebih baik aku tetap terlihat bodoh didepanmu, teruslah berpura-pura padaku dan aku akan melanjutkan kebodohanku, lanjutkan saja sandiwaramu itu agar aku tetap bisa merasakan kenyamanan saat berada di sampingmu, meskipun kenyamanan itu kudapat dari kebohongan yang kau lakukan padaku,' gumam Nathan.
"Sudah selesai, terimakasih banyak," ucap Clarissa.
"Ya, aku ke belakang dulu Clarissa," jawab Nathan. Dia kemudian menuju ke kamar mandi. Di saat itulah ponsel Clarissa berbunyi. Clarissa lalu mengangkat panggilan telepon itu.
[Ya, halo Kak.]
[Halo Clarissa, apa Kak Nathan sudah mengatakan pesanku padamu?]
[Pesan? Pesan apa?]
[Agar kau segera pulang.]
[Pulang? Untuk apa pulang? Bukankah kita masih bersandiwara?]
[Tidak Clarissa, Kak Nathan sudah tau semuanya. Dia tau kita hanyalah bersandiwara saja. Apa dia belum mengatakan itu padamu?]
[Belum.] jawab Clarissa lirih, perasaannya kini begitu berkecamuk dipenuhi tanda tanya, berbagai pikiran pun menari di benaknya.
[Ya sudah lebih baik kau bicarakan saja dengan Kak Nathan.]
__ADS_1
[Ya.] jawab Clarissa sambil menutup teleponnya.
'Kak Nathan kau mau menipuku atau menjebakku?'