Bed Friend

Bed Friend
Penolakan


__ADS_3

"Laurie?"


"Ya namanya Laurie."


"Cantik sekali namanya."


"Ya, papa juga sudah melihat wajahnya. Wajahnya pun sangat cantik, kemarin mamamu memperlihatkan fotonya. Meskipun dia sedang koma, dia tetap terlihat sangat cantik."


"Kasihan sekali, kalau dia cantik, kenapa dia sampai disia-siakan oleh suaminya?"


"Entahlah. Mamamu juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Lalu bagaimana dengan suaminya?"


"Suaminya belum menampakkan batang hidungnya. Saat ini Laurie hanya ditemani oleh ibunya, Olivia. Tapi saat ini Olivia sendirian, dia sedang menunggu kedatangan suami dan putranya. Suami dan anak pertamanya ada di Australia, mengurus bisnis mereka yang ada di sana."


"Mengurus bisnis yang ada di Australia?"


"Iya Alvaro, mereka bukanlah orang sembarangan. Karena itulah ayah dari Laurie, Kenan menjodohkan Laurie dengan seorang pengusaha kelas atas juga. Tapi sayangnya pernikahan itu, mungkin tidak berjalan dengan semestinya karena ada hati dan jiwa yang tersakiti."


"Iya Pa, jiwa dan hati Laurie pasti sangat tersakiti oleh sikap suaminya. Memangnya apa yang diperbuat oleh suami Laurie hingga menyebabkan dia, seperti itu?"


"Entahlah, mereka menikah karena perjodohan. Mungkin ketidakcocokan atau tidak saling mencintai."


"Untungnya kalian tidak menjodohkan aku," kekeh Alvaro.


"Alvaro, tidak semuanya perjodohan berakhir menderita. Contohnya kakakmu Cleo, dan temanmu Luna. Perjodohan mereka berakhir dengan kebahagiaan."


"Apa? Luna dijodohkan Pa? Bagaimana mungkin? Aku mengenal orang tua Luna."


Firman tersenyum. "Alvaro, Luna tidaklah seperti yang kau pikirkan karena Luna bukanlah putri kandung dari Bu Rahma."


"Apa Luna bukan putri kandung dari Bu Rahma? Lalu siapa sebenarnya Luna?"


"Alvaro, Luna bukan dari keturunan keluarga biasa. Dia adalah putri kedua dari mantan istri papa, Luna adalah putri kedua dari Delia dan Dimas. Nama aslinya adalah Sachi, saat dia masih berusia tiga bulan, dia hilang karena tertinggal di dalam sebuah gerbong kereta api. Dan mereka baru menemukan Luna, saat dia dewasa. Saat itu, Sachi sebenarnya sudah dijodohkan dengan Devano. Namun, tanpa mereka ketahui ternyata Luna sudah berpacaran terlebih dulu dengan Devano, bahkan sudah menikah secara siri dengannya."

__ADS_1


"Astaga!" pekik Alvaro.


"Kau kenapa Alvaro?"


"Oh tidak apa-apa, aku hanya terkejut."


"Ya sudah, lebih baik kau tidur sekarang. Besok acara pernikahan Luna dan Devano, mereka akan menikah secara resmi besok. Kau harus datang ke pernikahan temanmu itu."


Jantung Alvaro pun seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Firman. Semua terasa begitu mengagetkan baginya. Belum habis rasa terkejutnya melihat Luna yang dengan mudahnya jatuh ke pelukan Devano, dia pun harus mendapati kenyataan kalau ternyata mereka sudah dijodohkan, karena Luna ternyata bukanlah dari kalangan biasa seperti yang dia pikirkan selama ini. Meskipun masih mencoba menata hatinya, Alvaro pun menjawab pertanyaan Firman.


"Ya Pa, besok aku pasti datang ke pernikahan Luna," jawab Alvaro, disertai lara yang begitu menusuk ke relung hatinya.


"Lebih baik kau sekarang istirahat Alvaro. Setelah kau menata hatimu, kau harus ikut bekerja di rumah sakit pamanmu."


"Iya Pa," jawab Alvaro. Firman kemudian meninggalkan Alvaro sendiri di dalam kamarnya. Alvaro kemudian termenung, sambil menatap gelapnya langit dini hari yang bertabur bintang.


"Bagaimana aku bisa mengatakan kehilangan dirimu, jika ternyata aku tidak pernah memiliki hatimu. Hanya sekedar menggenggam tanganmu pun aku tidak pernah bisa, apalagi memiliki hatimu. Rasa cinta ini memang tidak mudah, dan terasa begitu rumit. Tahukah kau, bahkan untuk sekedar menghapus tawamu yang tersimpan dalam memori hatiku, rasanya aku hampir kehilangan kewarasanku. Andai saja, aku tidak pernah membuatmu tersenyum, mungkin aku tidak akan pernah merindukan tawamu itu."


Alvaro kemudian merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. "Ikhlas, aku akan ikhlas melepasmu, pada sumber kebahagiaanmu itu. Cukup kemarin dan hari ini aku merasakan runtuh yang begitu hebat, tapi esok takkan kubiarkan hati ini kembali runtuh untuk kesekian kali. Selamat tinggal, Luna."


***


Hari masih begitu pagi, matahari pun masih belum menampakan sinarnya. Vallen mendekat ke arah Olivia yang masih terlelap di atas ranjang jaga yang ada di kamar perawatan Laurie.


Vallen kemudian membangunkannya. "Kak Olive! Kak Olive, aku pulang dulu Kak."


Seketika, Olivia yang tidurnya memang tidak terlalu lelap pun terbangun mendengar ucapan Vallen. "Oh iya Vallen, terima kasih banyak. Malam ini kau sudah menemaniku. Kau sebenarnya tidak usah repot-repot seperti ini."


"Tidak apa-apa Kak Olive. Saat ini kau sendirian, suami dan putramu belum pulang, sedangkan Kak Calista sedang sibuk ikut mengurus cucunya. Sudah sepantasnya aku menemanimu di sini."


"Sekali lagi, terima kasih banyak."


"Tidak apa-apa Kak Olive, aku yang seharusnya minta maaf karena aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus menghadiri pesta pernikahan anak kedua Delia dan Dimas."


"Jadi, putri kedua dari Dimas dan Delia akan menikah hari ini?"

__ADS_1


"Iya Kak Olive."


"Tolong sampaikan salamku pada mereka. Tolong sampaikan juga permintaan maaf karena aku tidak bisa datang ke pesta pernikahan itu."


"Tidak apa-apa Kak Olive. Kak Olivia tenang saja, mereka pasti memahami kondisi Kak Olivia. Aku pulang dulu ya Kak."


"Iya Vallen, hati-hati di jalan."


"Iya Kak."


Valen kemudian mendekat ke arah Laurie, dan menatap wajah cantik itu, membelai wajahnya sebentar dan mengecup keningnya. "Tante pulang dulu Laurieku yang cantik. Semoga kau bisa secepatnya sadarkan diri."


Vallen lalu pergi meninggalkan ruangan itu, tepat di saat itulah, tanpa diketahui siapapun setetes air mata keluar dari sudut mata Laurie.


Beberapa Jam Kemudian...


Beberapa buah mobil, tampak memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Seorang laki-laki tampan berbadan tegap keluar dari salah satu mobil itu dengan menggunakan kacamata hitam.


Laki-laki itu, lalu bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Di sekitar laki-laki itu, tampak beberapa orang pria yang mengenakan pakaian formal menghalau orang-orang di sekitarnya untuk memberi jalan pada laki-laki berkacamata tersebut.


Laki-laki berbadan tegap itu, lalu berjalan ke sebuah ruang perawatan yang ada di salah satu pojok rumah sakit. Saat berada di depan ruang perawatan tersebut, laki-laki itu sempat terdiam sejenak, lalu mengambil nafas dalam-dalam, kemudian perlahan membuka pintu kamar perawatan itu.


Saat dia masuk ke dalam ruang perawatan itu, sesosok wanita tampak menatapnya dengan tatapan mata tajam.


"Mau apa kau kesini Zack?" teriak sebuah suara wanita.


"Mama Olivia, maaf aku baru bisa menjenguk Laurie."


"Kau tidak perlu menjenguk putriku!"


"Mama maafkan aku, kejadian ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan. Mama tolong Izinkan aku bertemu dengan Laurie."


"Tidak akan dan tidak akan pernah!"


"Tapi aku mamaksa karena aku ingin menemani Laurie di sini!"

__ADS_1


"Tidak Zack!"


Mendengar penolakan Olivia, Zack hanya memiringkan bibirnya, lalu memberi kode pada anak buahnya.


__ADS_2