
Kenzo kemudian mengangkat panggilan itu.
[Halo Tante Inara.]
[Halo Kenzo, bagaimana keadaanmu?]
[Baik tante.]
[Apakah tante mengganggu?]
[Tidak tenang saja tante, aku hanya sedang menikmati udara malam.]
[Oh, tante hanya ingin menanyakan kapan kau bisa pulang ke Indonesia?]
[Entahlah, mungkin setengah tahun lagi atau satu tahun lagi sampai aku selesai kuliah.]
[Oh, jadi kau tidak bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat? Bukankah di London sebentar lagi liburan musim dingin?]
'Jika aku pulang ke Indonesia, aku tidak bisa menghabiskan waktu untuk berduaan bersama dengan Cleo,' gumam Kenzo sambil meringis.
[Sepertinya tidak karena sebentar lagi kami harus mengerjakan tugas akhir kuliah, kami mungkin sedikit sibuk jadi kami menunda kepulangan kami untuk mengerjakan tugas akhir, mungkin sampai kami lulus.]
[Oh, ya sudah kalau begitu. Tapi bolehkah tante sering meneleponmu, mungkin untuk beberapa hari ke depan tante akan lebih sering menghubungimu. Calon suami tante ingin mengenalmu, dia juga dulu teman mamamu jadi dia ingin berkenalan denganmu.]
[Oh tentu saja tante. Tante bisa menghubungi aku kapanpun tante mau.]
[Terimakasih banyak, Kenzo.]
"KENZOOOO!!"
Teriakkan Cleo pun terdengar.
[Apa itu suara Cleo?]
[Iya, itu suara Cleo. Dia memang sedikit manja.]
[Oh ya, lebih baik tante tutup teleponnya sekarang, mungkin Cleo membutuhkanmu.]
__ADS_1
[Iya tante.] jawab Kenzo kemudian menutup teleponnya.
"Kau lama sekali," gerutu Cleo saat Kenzo duduk di sampingnya.
"Tante Inara tadi meneleponku," ucap Kenzo sambil mengubah mode ponselnya menjadi mode senyap.
"Oh."
"Cleo liburan musim dingin ini kau belum membeli tiket untuk pulang ke rumah kan?"
"Belum, bukankah kau yang menyuruhku untuk menemanimu mengerjakan tugas selama musim dingin?"
"Ya, aku memang harus mengerjakan tugas-tugas itu untuk memperbaiki nilai agar bisa mengambil tugas akhir secepatnya, agar kita bisa lulus bersama."
"Kau tenang saja, aku pasti akan membantumu. Sekarang suapi aku, Kenzo."
"Apa aku harus menyuapimu?"
"Tentu saja, bukankah kau sudah mengatakan tadi kau mau menyuapiku."
"Kenzo pelan-pelan, itu terlalu besar. Aku tidak sanggup."
"Bukankah kau yang meminta, sekarang buka mulutmu."
"Hahahaha Kenzooo!!"
"Hahahaha ayo buka Cleo!!"
'Apa maksud semua ini?' gumam salah seorang wanita yang menelpon di ujung sambungan telepon.
"Apa Kenzo sudah memiliki kekasih di sana?" ucap wanita tersebut sambil meneteskan air matanya kemudian memandang ponselnya dengan tatapan kosong, hingga sebuah teriakkan akhirnya pun membuyarkan lamunan wanita tersebut.
"Aleta apa yang sedang kau lakukan!! Kenapa kau hanya melamun saja! Cepat kerjakan pekerjaanmu!!"
🍒🍒🍒
Sementara Inara yang baru saja menutup teleponnya kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa jika Kenzo belum bisa pulang dalam waktu dekat, setidaknya aku masih memiliki waktu selama satu tahun untuk membujuk Abimana agar mau bertemu dengan anak-anak mereka dan menumbuhkan kepercayaan dirinya," ucap Inara kemudian keluar dari mobilnya lalu berjalan ke sebuah pintu kecil di gerbang sebuah lembaga pemasyarakatan.
__ADS_1
Namun belum sampai Inara sampai di pintu tersebut, pintu itu pun sudah tampak terbuka. Lalu seorang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh lima tahun keluar dari pintu gerbang itu. Melihat laki-laki itu Inara pun tersenyum, begitu pula dengan laki-laki tersebut.
"Selamat datang, Abimana. Selamat datang di dunia luar, Abimana. Selamat menjalani kehidupan baru."
"Terimakasih banyak Inara, terimakasih banyak karena sudah menjemputku, dan juga sudah begitu berbesar hati untuk menungguku selama dua puluh tahun sampai aku keluar dari penjara."
"Hahahaha, ya kupikir dua puluh tahun itu begitu lama, tapi ternyata tidak, rasanya sangat singkat."
"Kau ada-ada saja dua puluh tahun itu sangat lama, apa kau tidak melihat sudah begitu banyak kerutan di kulitku?"
"Sudahlah jangan dibahas lagi, yang jelas hidup berdampingan denganmu selama dua puluh tahun sudah membuatku merasa sangat bahagia. Lebih baik ayo sekarang kita pulang."
"Pulang kemana Inara? Aku bahkan tidak memiliki sebuah rumah."
"Pulang ke rumah kita."
"Tapi kita belum menikah?"
"Karena itulah aku membeli sebuah rumah, kita akan menempatinya jika kita sudah menikah tapi karena kita belum menikah jadi kau saja yang menepati rumah itu. Sementara aku akan tinggal di rumahku yang dulu, sebenarnya setelah papa dan mama meninggal, aku sudah tidak betah tinggal di rumah itu karena adikku dan keluarga kecilnya saat ini juga menempati rumah itu setelah pulang dari Australia, jadi itulah alasannya aku membeli rumah baru yang bisa kita tempati bersama."
Abimana kemudian mengerutkan keningnya. "Inara aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, kenapa kau begitu baik padaku? Itu sebenarnya adalah tanggung jawabku saat menjadi suamimu. Lalu bagaimana aku harus membalas budi semua kebaikanmu itu?"
"Cukup menjadi suami yang baik untukku, itu sudah cukup," jawab Inara sambil tersenyum.
"Kau yakin aku bisa membahagiakanmu meskipun aku memiliki banyak keterbatasan? Termasuk finansial?"
"Kau tidak usah memikirkan semua itu, aku sudah melakukan investasi jangka panjang lewat bisnis properti dan jual beli saham yang bisa kau lanjutkan saat keluar dari tahanan. Jadi bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Kapan kau akan menikahiku?"
"Secepatnya."
"Kapan?"
"Sekarang. Ayo kita menikah sekarang juga."
__ADS_1