Bed Friend

Bed Friend
Berjuang Bersamaku


__ADS_3

Kenan lalu mengangkat panggilan dari Leo.


[Halo, ada apa Leo?]


[Kenan, tolong pulanglah. Tolong kau dan Olivia pulang sekarang juga.]


[Memangnya ada apa Leo?]


[Maaf Kenan, aku tidak bisa menjelaskan semua ini lewat sambungan telepon. Kau harus pulang secepatnya! Jangan lupa, ajak Laurie dan Darren juga karena ini benar-benar penting, Kenan.]


[Leo, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa pulang tanpa alasan yang jelas. Pekerjaanku di sini tidak bisa ditinggalkan begitu saja.]


[Lebih baik kau pulang sekarang atau kau akan menyesal selamanya, Kenan!]


[Kau memang selalu menyebalkan, Leo!] gerutu Kenan kemudian menutup panggilan telepon itu.


"Ada apa Kenan?" tanya Olivia.


"Leo menyuruh kita pulang."


"Memangnya ada apa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Entahlah. Leo tidak mengatakan alasannya. Dia hanya mengatakan jika kita harus pulang secepatnya. Olive, lebih baik kau beritahu Darren, aku akan menelepon Laurie agar pulang sekarang juga."


"Iya," jawab Olivia. Dia kemudian keluar dari kamar menuju ke kamar Darren.


TOK TOK TOK


"Masuk!" jawab Darren.


Olivia kemudian membuka pintu itu. Dia lalu tersenyum pada Darren yang sedang memainkan laptopnya.


"Ada apa Tante Olive? Apa Tante mau menanyakan hal yang tadi Tante tanyakan? Maaf Tante, sepertinya aku tidak bisa ikut pulang bersama Tante. Aku ada acara dengan beberapa temanku sebelum kami wisuda."


"Oh, sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan Darren. Tadi baru saja Leo menelepon Kenan dan menyuruh kita semua untuk pulang, termasuk kau dan Laurie. Maaf jika ini sedikit mendadak dan membatalkan rencanamu bersama dengan teman-temanmu, tapi sepertinya ini sesuatu hal yang sangat penting, Darren."

__ADS_1


"Oh baiklah, Tante. Tidak apa-apa. Lalu kapan kita pulang?"


"Besok pagi, kita pulang dengan penerbangan paling awal."


"Baik Tante," jawab Darren sambil merasakan sesak yang ada di dalam dadanya. Dia kemudian memejamkan matanya.


'Shakila,' gumam Darren. Bayangan seorang gadis manis berlesung pipit itu pun kembali menari di dalam benaknya.


'Tuhan, kenapa engkau menciptakan rasa cinta jika cinta ini tidak pernah bisa memiliki? Kenapa rasa cinta ini harus ada jika hanya sakit yang kurasa? Ini tentang cinta, cinta yang sudah kuberikan pada seseorang yang tidak akan pernah bisa kumiliki, padahal hatiku jatuh dan benar-benar terjatuh. Saat kembali kutata hati ini, ternyata tidak bisa karena hati ini sudah patah berkeping-keping, dan kehilangan adalah jawaban dari semua ini. Sekarang tidak ada yang bisa kulakukan, selain tertatih menuju keikhlasan untuk tidak pernah bisa memiliki, meskipun aku tahu, aku tidak akan pernah ikhlas. Memang ini terdengar egois, ya aku memang egois karena aku hanya seonggok manusia hina yang ada di hadapan-Mu,' gumam Darren sambil menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Tuhan, begitu banyak wanita yang ada di dunia ini, tapi kenapa aku harus mencintai adikku sendiri?" ucap Darren sambil tersenyum kecut.


...***...


Sementara Leo yang baru saja menutup teleponnya tampak tersenyum pada orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Bagaimana Leo? Apakah Kenan dan Olive mau pulang?"


"Tentu saja Calista. Kenan selalu menuruti kata-kataku."


Leo lalu menatap Vansh dan Maya. "Bagaimana? Kalian sudah siap kan dengan rencana kita besok?"


"Kami siap," jawab Vansh. Maya lalu menatap Vansh dan Leo secara bergantian.


"Kenapa kita harus melakukan seperti ini? Apa Tante Olivia dan Om Kenan tidak menyetujui hubungan kita, Kak? Se... Sebenarnya aku cukup tahu diri, karena itulah sejak aku jatuh cinta padamu, aku tidak pernah berharap apapun karena aku tahu kita tidak sama. Aku memang tidak sepadan dengan kalian semua," ucap Maya.


Leo dan Calista lalu saling berpandangan. "Emh, E.. Maya sayang, bukan seperti itu. Sebenarnya bukan seperti itu. Kami semua tidak pernah memandangmu seperti itu. Maaf jika kami harus mengatakan ini, hanya saja Kenan sebenarnya telah menjodohkan Vansh dengan salah seorang anak dari rekan bisnisnya. Kami hanya ingin menggagalkan rencana perjodohan ini, karena terus terang saja, Tante juga tidak setuju jika Vansh dijodohkan dengan Alexa."


"Dijodohkan? Jadi kau sudah dijodohkan, Kak?" tanya Maya sambil menatap Vansh. Vansh pun tampak menggelengkan kepalanya.


"Aku juga baru tahu Maya, Om Leo yang baru saja mengatakannya padaku. Tapi kau tenang saja, kau tahu kan aku hanya mencintaimu. Aku tidak mungkin mau dijodohkan oleh kedua orang tuaku."


"Bukan kedua orang tuamu Vansh, tapi hanya Daddymu. Olivia juga tidak menyetujui perjodohan itu," sela Leo.


"Kau dengar kan Maya, kau tidak perlu mencemaskan semua ini. Kami semua akan mendukungmu, kami akan mendukung hubunganmu dengan Vansh, jadi kau tidak perlu berkecil hati," tambah Calista.

__ADS_1


Maya kemudian tersenyum, apalagi saat ini Vansh merengkuh pundaknya kian kencang.


"Baik, kalau begitu kami pulang dulu. Lebih baik kalian sekarang beristirahat saja. Persiapkan diri kalian untuk besok. Aku akan mengatur semuanya, kalian mengerti kan?"


"Iya Om, terima kasih banyak," jawab Vansh sambil tersenyum.


"Kami pulang dulu," kata Calista.


Vansh dan Maya kemudian menganggukan kepalanya. Leo dan Calista lalu berjalan ke arah pintu dan keluar dari rumah itu. Sementara Vansh kini tampak membalik tubuh Maya untuk menghadap ke arahnya.


"Kau tenang saja, everything is gonna be okay. Sampai kapanpun aku akan memperjuangkan cinta kita, kau mau kan berjuang bersamaku? Maya, tolong jangan biarkan aku berjuang sendiri, berjuanglah bersamaku untuk mempertahankan cinta ini. Kau mau kan?" tanya Vansh sambil memegang wajah Maya. Maya pun mengulaskan senyum tipisnya kemudian menganggukan kepalanya.


"Yes, i will," jawab Maya dengan begitu lembut yang membuat Vansh tampak begitu gemas lalu mulai mendekatkan wajahnya kemudian melummat bibir sensual milik Maya yang tampak begitu merona.


...***...


"Bagaimana Kenan? Apa sopir yang diperintahkan Kak Calista sudah menjemput kita?" tanya Olivia saat berjalan keluar dari Bandara.


"Sepertinya sudah, itu dia," jawab Kenan sambil menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berdiri di samping sebuah mobil Land Cruiser warna hitam milik Leo.


"Oh ayo kita kesana. Ayo Darren!" perintah Olivia pada Darren yang berjalan di belakang mereka dengan langkah kaki begitu berat.


Mereka pun mendekat dan menaiki mobil tersebut. Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah Kenan. Namun, betapa terkejutnya mereka saat sampai di rumah itu, tampak rumah itu sudah terlihat begitu ramai.


"Olive, apa-apaan ini Olive? Kenapa banyak sekali sanak saudara yang berkumpul di rumah kita? Ada apa ini sebenarnya Olivia?" tanya Kenan saat mereka masih berada di dalam mobil.


"Entahlah, aku juga tidak tahu Kenan. Bukankah kau yang menjawab telepon dari Leo? Kenapa kau malah bertanya padaku?"


Kenan pun tampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Leo memang kurang ajar!" gerutu Kenan dengan begitu kesal. Apalagi saat ini, dia melihat Leo kini tengah berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arah mobil dan melambaikan tangannya.


NOTE:


Assalamualaikum wr wb, bestie readers aku tercinta, mampir juga ya ke karya temen aku author Rima Jenia, dijamin ceritanya keren dan seru abis


__ADS_1


__ADS_2