Bed Friend

Bed Friend
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Ini sudah sore, kau mau kuantar pulang jam berapa, Sayang?" tanya Vansh saat dia dan Maya sedang duduk di atas sofa. Maya lalu bangkit dari atas dada Vansh kemudian menatapnya sambil memonyongkan bibirnya. Vansh pun tersenyum.


"Ada apa Nona Manis?" tanya Vansh lagi sambil mencubit pipi Maya.


"Bisakah aku menginap satu malam disini lagi?"


"Hahahaha. Kenapa? Apa kau masih ingin bersamaku?"


Maya pun mengangguk cepat sambil tersenyum. "Lalu bagaimana dengan ibumu?" tanya Vansh kembali.


"Bukankah aku mengatakan pada Mama kalau aku bekerja di luar kota? Jadi yang Mama tahu aku sedang bekerja di luar kota."


"Dasar nakal!" ucap Vansh sambil mengacak-acak rambut Maya. Di saat itu pula, bel pintu pun berbunyi.


TETTTT TETTT


"Kak Vansh, kau dengar itu? Ada yang memencet bel rumahmu. Pasti ada tamu yang datang Kak. Apa sebaiknya aku bersembunyi dulu di dalam kamar?" ucap Maya kemudian bangkit dari atas sofa. Vansh lalu mencekal tangan Maya.


"Jangan Maya, kau disini saja!" perintah Vansh.


"Tapi bagaimana jika ada yang tahu aku ada di sini?"


"Memangnya kenapa? Bukankah kau calon istriku? Kau akan kuperkenalkan sebagai calon istriku."


"Kau jangan mengada-ada Kak, kita belum mendapatkan restu dari kedua orang tuamu."


"Orang tuaku pasti akan merestui hubungan kita, Maya. Kau tenang saja," ucap Vansh.


"Kau duduk saja di sini, aku akan membuka pintunya terlebih dulu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Maya. Tenanglah. Kau masih ingat bagaimana baiknya Tante Calista dan Om Leo kan? Seperti itulah keluargaku," ucap Vansh. Perlahan, rasa cemas di dalam hati Maya pun memudar.

__ADS_1


"Iya Kak."


Vansh lalu berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu tersebut. Saat pintu itu terbuka, tampak Calista dan Leo berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


"O... Om Le..Leo, Tante Calista," sapa Vansh dengan sedikit terbata-bata


"Selamat sore, Vansh. Apa kami mengganggu kalian?" tanya Leo.


"Kalian?"


"Ya, kau dan Maya. Maya ada di dalam kan?" jawab Calista. Vansh pun hanya tersenyum dengan sedikit salah tingkah.


"Silahkan masuk Om, Tante."


Calista dan Leo lalu masuk ke dalam rumah tersebut. Tampak Maya yang duduk di sofa ruang televisi pun terkejut dengan kedatangan Calista dan Leo.


"Nyonya Calista, Tuan Leo," sapa Calista.


Maya lalu tersenyum dengan sedikit canggung. "Ba.. Baik Tante Calista," jawab Maya.


"Maya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Ayo ikut aku!" perintah Calista sambil menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menarik tangan Maya lalu mengajaknya duduk di tepi kolam renang yang ada di rumah Vansh.


"Bisakah aku juga bicara denganmu, Vansh?" tanya Leo sambil menatap Vansh.


"Tentu Om."


"Sudah berapa lama?" tanya Leo.


"Apanya Om?"

__ADS_1


"Hubungan kalian berdua."


"Belum lama, baru saja kemarin kami resmi berpacaran."


"Jadi perasaanmu belum dalam kan? Sebaiknya kau akhiri hubungan ini saja Vansh, sebelum hubungan kalian semakin dalam dan tak bisa dipisahkan."


"A... Apa maksud Om Leo? Apa alasan Om dan Tante Calista mengatakan hal seperti itu? Apa ini ada kaitannya dengan Mommy dan Daddy?"


Leo lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Apa kau yakin hubunganmu dengan Maya akan direstui oleh orang tua kalian? Maksudku oleh Kenan. Kalau Olivia, aku yakin Olive akan menyetujui hubungan ini tapi tidak dengan Daddymu Vansh. Apa kau sudah lupa bagaimana hubungan Laurie, adikmu yang kandas dengan pacarnya karena perbedaan status yang begitu mencolok? Bukankah kau tahu bagaimana sifat Daddymu? Sebelum hubungan kalian lebih dalam dan akhirnya akan mempersulit hubungan kalian berdua, sebaiknya kau akhiri hubungan ini."


"Tidak Om, ini tidak seperti yang Om Leo pikiran. Kami memang baru saja menjalani hubungan ini, tapi kisah cinta kami berdua sudah terjalin selama bertahun-tahun, bahkan sebelum aku mengenal Queen di dalam hidupku. Maya adalah cinta pertamaku, Om. Dia adalah cinta pertamaku yang baru saja aku ingat setelah aku sembuh dari amnesia itu "


"Ja.. Jadi kau sudah sembuh, Vansh? Jadi kau sudah ingat tentang masa lalumu?"


"Ya, sejak dulu aku sudah jatuh cinta pada Maya. Saat itu aku ingin memberikan sebuah liontin pada Maya, tapi di saat itu juga dia hampir saja tertabrak mobil, dan sekuat tenaga aku berlari menyelamatkan Maya, itulah kejadian yang sebenarnya. Itulah kejadian yang sebenarnya saat aku mengalami kecelakaan itu. Sedangkan Queen? Almarhum Queen sebenarnya adalah wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku dengan Maya karena berhasil memanfaatkan keadaan. Kisah cintaku dengan Maya, tidaklah sesederhana yang kalian pikirkan. Jadi kumohon tolong jangan berkata seperti itu."


"Lalu bagaimana jika Kenan ternyata juga sudah memilihkan calon istri untukmu?"


Vansh lalu mengerutkan keningnya. "Apa maksud Om Leo?"


"Kenan sudah menjodohkanmu dengan seorang wanita, anak dari rekan bisnisnya."


"Tidak, tidak Om. Darimana Om bisa tahu tentang hal itu?"


"Daddymu yang menceritakan sendiri padaku."


"Astaga, ini tidak boleh terjadi," ucap Vansh sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kemudian melirik pada Maya yang kini tampak sedang bercanda gurau dengan Calista.


"Kenapa Vansh? Apa kau sangat mencintai gadis itu?" tanya Leo. Vansh pun hanya terdiam, perlahan dia pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kisah cintaku dengannya bukan hal yang mudah. Lalu dengan mudahnya kami akan terpisahkan begitu saja karena perjodohan? Tidak Om, aku tidak ingin semua itu terjadi. Aku akan mempertahankan hubungan ini, apapun resikonya."


Leo pun tersenyum kecut mendengar perkataan Vansh. "Apa kau butuh bantuan, Vansh?"


__ADS_2