Bed Friend

Bed Friend
Orang Tua Kandung


__ADS_3

Abimana pun menganggukkan kepalanya sambil menangis, ingin rasanya dia memeluk Sharen yang berdiri di hadapannya, namun dia ragu jika ada penolakan dari Sharen. Akhirnya dia pun hanya bisa diam mematung, Inara yang melihat Abimana pun hanya bisa menggenggam tangannya sambil menganggukkan kepalanya pada Sharen. Melihat anggukan Inara dan Abimana, Sharen pun mendekat ke arahnya lalu menghambur ke tubuh Abimana. Abimana yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Sharen pun sedikit terkejut, dia kemudian balas memeluknya sambil membelai rambutnya.


"Abimana, Sharen sebaiknya kalian duduk dulu, kita bicara di sini," ucap Inara sambil menepuk-nepuk sofa tempat dia duduk. Abimana dan Sharen kemudian duduk di atas sofa tersebut.


"Sharen, kau mau menerimaku sebagai orang tua kandungmu?"


Sharen pun menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, bagaimanapun juga kau adalah papa kandungku, Mama Amanda dan Papa Rayhan memang sangat baik padaku tapi aku juga tidak ingin melupakanmu sebagai orang tua kandungku, Pa."


"Kau bisa berbicara seperti itu karena kau tidak tahu masa laluku, Nak. Papa bukan manusia yang baik, kau pasti malu memiliki orang tua seperti papa."


"Masa lalu apa? Apa maksud papa sebagai mantan tahanan?"


Abimana kemudian menganggukan kepalanya.


"Sharen, aku bukanlah orang yang baik. Aku tidak keberatan jika kau tidak mau mengakuiku sebagai orang tuamu."


"Darimana kau tahu kalau Papamu mantan tahanan, Sharen?"


Sharen kemudian tersenyum. "Aku sudah tahu semuanya sejak dulu Tante Inara, sudah lama aku mengetahuinya, sejak tiga tahun lalu saat kau meminta foto-fotoku dan Kenzo."


"Astaga," ucap Inara sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Jadi kau sudah tahu semua itu sejak lama, Sharen?"

__ADS_1


"Ya, aku sudah tahu sejak lama."


Sharen lalu mengalihkan pandangannya pada Abimana. "Papa Abimana, sekarang kau sudah tahu jika aku sudah tahu sejak lama mengenai statusmu itu, tapi aku masih mau mencari tahu tentangmu, bahkan aku sampai ada di sini untuk mencari tahu tentang dirimu, lalu apakah kau masih bisa beranggapan jika aku tidak mengakuimu sebagai orang tuaku? Bukankah sudah kukatakan jika bagaimanapun juga kau adalah orang tua kandungku, dan akan selamanya seperti itu. Aku tidak akan pernah membuangmu dalam kehidupanku."


Abimana kemudian menggenggam tangan Sharen. "Terimakasih banyak, Sharen. Terimakasih karena kau mau menerima papa."


"Tentu saja, Pa."


"Memangnya kau tahu dosa apa yang telah papa perbuat?"


"Ya, aku tahu. Aku pernah mencari tahu tentang kejahatan yang pernah papa lakukan, aku membacanya di sebuah berita online, jejak digital memang sulit dihapus pa. Berita tentang kejahatan yang pernah papa lakukan masih ada di beberapa situs berita online."


"Dan kau masih mau menerima papa setelah tahu kebenaran tentang papa?"


"Terimakasih banyak, Nak. Aku benar-benar tidak menyangka jika kau menjadi wanita yang bijaksana dalam memandang sebuah kehidupan, aku yakin Amanda pasti sudah mendidikmu dengan sangat baik sehingga kau tumbuh menjadi pribadi yang sangat luar biasa, Nak."


Sharen pun menganggukkan kepalanya."Ya, Mama Amanda dan Papa Rayhan orang tua yang sangat baik. Dia bahkan tidak membeda-bedakan aku dengan Kenzo dan Clarissa meskipun aku adalah satu-satunya anak yang tidak pernah lahir dari rahim Mama Amanda."


"Jadi kau juga sudah tahu kau bukan anak kandung dari Amanda?"


"Ya, tentu saja. Wajahku saja sangat berbeda dengan Mama Amanda dan Papa Rayhan, tidak seperti Kenzo. Kenzo memiliki banyak kemiripan dengan Mama Amanda."


"Ya, kau memang bukan anak kandung dari Amanda. Saat papa menikah dengan Amanda, papa sudah berselingkuh di belakangnya dengan wanita laknat yang bernama Ghea."

__ADS_1


"Abimana, kau jangan berkata seperti itu, ada Sharen disini," ucap Inara sambil menggelengkan kepalanya.


"Biarkan saja agar Sharen tahu ibu kandungnya bukanlah wanita yang baik, karena Ghea aku jadi begitu jahat pada Amanda dan papa, bahkan dia dan keluarganya pun tidak mau mengasuh Sharen sebagai anak kandungnya dan membiarkan mama membesarkan Sharen, untungnya ada Amanda yang mau ikut membesarkan Sharen."


"Tapi Abimana..."


"Tidak apa-apa, Tante Inara. Aku sudah tahu mama kandungku pasti bukan seorang ibu yang baik. Jika dia ibu yang baik, dia pasti tidak akan membiarkanku diasuh oleh orang lain yang bukan bagian dari keluarganya. Jika dia wanita dan istri yang baik pasti dia akan setia menjadi istri papa sampai habis menjalani masa tahanannya. Tapi pada kenyataannya, Tante Inara lah yang sudah begitu baik menemani papa dan selalu memberikan semangat pada papa selama menjalani masa tahanannya. Iya kan Pa?"


Abimana pun menganggukkan kepalanya. "Kau benar Sharen, Inara wanita yang sangat luar biasa, tidak ada wanita seperti dirinya yang mau menerima seorang tahanan bahkan menunggunya selama dua puluh tahun dengan begitu sabar."


"Terimakasih banyak Tante Inara," ucap Sharen sambil memeluk Inara.


"Iya sayang."


"Lalu bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan Mama?"


"Tentu saja, Tante bahkan merasa sangat bahagia jika kau mau memanggilku dengan sebutan itu."


"Terimakasih Mama Inara."


Namun tanpa mereka sadari, seorang wanita kini tampak berdiri di depan pintu gerbang rumah itu.


"Beberapa hari yang lalu saat Abimana dan istrinya makan di rumah makan tempatku bekerja aku berhasil membuntuti mereka pulang ke rumah ini, tapi saat itu hari sudah gelap jadi aku tidak terlalu jelas melihat rumah ini, sekarang aku bisa melihat dengan jelas rumah Abimana. Rumah ini memang sangat mewah, aku harus bisa memanfaatkan situasi ini agar aku bisa memiliki banyak uang kembali, apalagi aku adalah ibu kandung dari Sharen. Sharen pasti tidak akan tega melihat kondisiku yang dihimpit kemiskinan seperti ini," ucap Ghea sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2