
Mendengar namanya dipanggil tubuh Abimana pun terasa menegang, jantungnya berdegup kian kencang. Dengan mengumpulkan keberanian, dia pun membalikkan tubuhnya dan melihat Kenzo yang kini berdiri di belakangnya.
"Kenzo?" ucap Abimana. Kenzo pun tersenyum simpul. Perlahan dengan langkah yang begitu pelan, dia pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Abimana.
"Papa." panggil Kenzo lagi.
"Ke.. Kenzo, kau mau memanggilku dengan sebutan Papa?"
Kenzo pun tersenyum lalu menganggukan kepalanya. "Ya," jawab Kenzo singkat.
"Terimakasih Kenzo, sekali lagi terimakasih."
"Maaf aku sudah bersikap kasar pada Papa."
"Maaf? Bukan kau yang harus meminta maaf, Kenzo. Tapi Papa. Sikapku sangat buruk terhadapmu, aku memiliki kesalahan yang begitu besar padamu."
"Tapi aku juga banyak berbuat salah pada Papa, sikapku sangat buruk pada Papa, seharusnya aku tidak berkata kasar pada Papa, padahal Papa sudah meminta maaf padaku. Papa juga sudah bertaubat, seharusnya aku tidak memandang buruk lagi pada Papa, apapun yang pernah terjadi di dalam hidup kita, dan meskipun kita memiliki masa lalu yang buruk, tidak seharusnya aku bersikap buruk pada Papa, maafkan aku, Pa."
"Tidak apa-apa, Kenzo. Sudah cukup jangan minta maaf lagi karena kau tidak pernah memiliki kesalahan apapun padaku. Semua yang kau lakukan itu adalah sebuah kewajaran, sangat wajar jika kau membenciku, dan sulit menerimaku. Sejak kecil yang kau tahu ayah kandungmu adalah Rayhan, lalu tiba-tiba kau harus menerima kenyataan jika aku adalah ayah kandungmu. Dan kau juga harus menerima kenyataan yang lebih buruk jika kita pernah mengalami kisah masa lalu yang kelam, aku tahu itu sangat tidak mudah bagimu, Kenzo."
Kenzo pun hanya terdiam mendengar perkataan Abimana, hanya sebuah senyuman kecut yang tersungging di bibirnya. "Bisakah kita melupakan semua kenangan kelam di masa lalu dan memulai lembaran baru? Meskipun ini terlambat, bisakah kita memulai sebuah hubungan yang baru? Sebuah hubungan ayah dan anak yang sudah begitu lama terpisah oleh keadaan? Hubungan ayah dan anak yang terpisah karena dendam, emosi, dan juga keangkuhan? Jadilan ayahku, jadilah kakek untuk anakku, apa kau mau Pa?"
Mendengar perkataan Kenzo, air mata pun mulai menetes membasahi wajah Abimana. "Tentu saja Kenzo, tentu saja. Tanpa kau meminta, aku adalah ayahmu, aku adalah kakek untuk anakmu, dan akan selamanya seperti itu."
"Terimakasih banyak Pa,"
"Iya Kenzo."
"Sekali lagi terimakasih banyak, aku masuk ke dalam dulu, aku takut Cleo mencariku."
Saat Kenzo akan membalikkan tubuhnya tiba-tiba Abimana memanggilnya kembali.
"Kenzo!" panggil Abimana.
"Ya, Pa."
Perlahan Abimana pun mendekat ke arahnya. "Kenzo, bolehkah aku memelukmu?" tanya Abimana dengan begitu lirih. Kenzo pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya, tentu saja," jawab Kenzo. Abimana kemudian memeluk Kenzo.
"Kenzo, tahukah kau inilah pertama kalinya aku memelukmu, saat kau lahir tangan jahatku ini sudah begitu tega menggendongmu lalu membuangmu ke dalam hutan. Aku begitu berdosa padamu, Kenzo. Aku begitu berdosa padamu, dan hari ini tangan ini telah kau beri kesempatan untuk memelukmu, terimakasih banyak putraku, terimakasih banyak."
"Iya Pa, bukankah aku sudah mengatakan untuk menutup masa lalu dan kenangan buruk yang pernah terjadi di antara kita? Tolong jangan katakan itu lagi."
"Iya Kenzo, sekali lagi terimakasih," ucap Abimana sambil melepaskan pelukannya pada Kenzo.
__ADS_1
"Papa, aku ke dalam dulu. Cleo mungkin sudah menungguku, kalau kami ada kesempatan, kami akan menginap di rumah Papa, bukankah Papa sangat menyayangi Shane? Bukankah Papa ingin melihat diriku saat masih kecil dalam diri Shane?"
"Iya Kenzo, datanglah kapanpun kau mau ke rumah Papa, pintu rumah Papa akan selalu terbuka untukmu, kami menunggu kedatanganmu, Nak."
"Iya Pa, aku ke dalam dulu."
Kenzo lalu meninggalkan Abimana yang kini menatap punggungnya saat dia berjalan memasuki hotel kembali. Tiba-tiba sebuah tepukan hangat pun menempel di bahu Abimana. Abimana lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Inara yang kini berdiri di belakangnya sambil tersenyum disertai air mata yang membasahi wajahnya.
"Kau bahagia?"
"Sangat bahagia, Inara. Sangat bahagia," jawab Abimana dengan begitu terisak.
"Yang Kenzo butuhkan hanya waktu, Abimana. Dan waktu itu kini sudah tiba, penantian panjangmu sudah berakhir."
"Ya, dan kau terimakasih banyak sudah menemani penantian panjangku."
Inara pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
🍒🍒🍒
❣️ Dua hari kemudian ❣️
"Mama, kami pergi dulu," ucap Clarissa pada Amanda.
"Iya Ma."
"Nathan, tolong jaga Clarissa selama di Bandung. Mama minta kalian harus bisa membatasi diri kalian, jangan berbuat hal yang tidak-tidak sebelum kalian menikah!"
"Iya Tante Amanda, kami pergi dulu," jawab Nathan. Clarissa dan Nathan lalu masuk ke dalam mobil menuju ke Bandung.
Dua setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai di apartemen milik Clarissa yang ada di Bandung.
"Jadi kau tinggal di sini?" tanya Nathan saat memasuki apartemen tersebut.
"Ya."
"Sendirian?"
"Tidak, bersama dengan dua orang temanku tapi mereka tidak ikut semester pendek jadi aku tinggal sendiri di sini selama dua minggu."
"Oh, kau tenang saja, aku akan menemanimu, kau tidak perlu khawatir."
"Dan jangan coba-coba untuk menggangguku," sungut Clarissa.
"Hahahaha, kau tau saja aku di sini untuk mengganggumu."
__ADS_1
"Kak Nathan!" gerutu Clarissa sambil memelototkan matanya.
"Hahahaha, ini untukmu," ucap Nathan sambil memberikan sebuah papper bag pada Clarissa.
"Apa ini?" tanya Clarissa sambil mengerutkan keningnya.
"Buka saja, kau pasti menyukainya," jawab Nathan.
Clarissa pun membuka paper bag tersebut, dia lalu mengambil sebuah komik Doraemon edisi eksklusif yang ada di dalam paper bag tersebut.
"Edisi eksklusif? Ini keren sekali," ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Sekarang bukalah komik itu."
"Tapi aku belum ingin membacanya, Kak," gerutu Clarissa.
"Buka saja Clarissa sayang! Kalau tidak aku mengganggu belajarmu selama di sini!" perintah Nathan.
"Baik, aku akan membukanya," jawab Clarissa kemudian membuka komik Doraemon tersebut, namun ternyata itu bukanlah sebuah komik tapi hanya sampulnya saja, sebuah kertas di bawah sampul tersebut pun menarik perhatian Clarissa. Dia kemudian memandang Nathan yang kini terlihat sedang menganggukan kepalanya. Clarissa pun membuka kertas tersebut.
...Dulu, ada seorang wanita yang pernah berkata padaku:...
..."Rasa cintamu itu seperti hujan yang turun dengan derasnya, tapi sayangnya dia memilih berteduh pada yang lain. Lebih baik kau hentikan semua itu, karena setelah hujan berhenti pasti akan ada pelangi yang bisa menghiasi hidupmu jauh lebih indah"...
...Perkataan wanita tersebut memang benar, kini aku sudah bisa menghentikan derasnya hujan yang ada di dalam hatiku, dan benar saja, setelah hujan itu reda ada pelangi yang kini menghiasi hidupku jauh lebih indah....
...Wahai pelangiku, menikahlah denganku, aku ingin kau selamanya menjadi pelangi yang menghiasi hidupku, aku sangat mencintaimu pelangiku, Clarissa....
NOTE:
Dear jangan lupa mampir ke karya bestie aku ya Kak Nurma Azalia judulnya Rahasia Istri Culunku dijamin ceritanya seru bgt 🥰❤️
Blurb:
"Aku apa? ngomong yang jelas !" bentak Ali karena Ara justru diam.
"Aku mencintai Kamu.!" jawab Ara dengan lantang.
"Ha-ha-ha, lelucon macam apa itu? Jelas saja banyak wanita yang mencintai aku. Aku tampan, gagah dan juga berkarisma," Ali menjawab serta menertawakan gadis culun yang mengaku mencintai nya.
"sedangkan, Kau? Aku yakin, tidak ada yang sudi dengan gadis culun sepertimu. Seharusnya kau berkaca dulu, Nona Gunawan !" lanjut Ali semakin menghina Ara. ucapannya sangat menusuk hati Ara.
"Sial, kenapa rasanya sakit sekali. Ketika kau dihina, oleh orang yang kau cintai Ara ! Luka ini bahkan lebih menyakitkan, dari pada Lukamu yang biasa kau dapatkan," batin Ara menahan sakit yang Ali berikan di hati nya.
__ADS_1