Bed Friend

Bed Friend
Terlalu Sempurna


__ADS_3

Vansh pun mendekat pada Maya lalu memegang wajahnya. "Bagus, akhirnya aku bisa melihat kau cemburu."


"Kak Vansh! Di saat seperti ini kau masih bisa meledekku?" gerutu Maya. Vansh pun tersenyum. "Aku tidak meledekmu. Memang aku senang melihatmu cemburu seperti ini. Apa kau lupa, bahkan kita bisa bersama seperti ini gara-gara kau pergi dari rumah karena cemburu pada Sharen. Iya kan?"


"Kak Vansh! Daripada kau banyak bicara, lebih baik kau jelaskan padaku mengapa barang-barangmu ada di rumah Sharen?"


Vansh lalu mendekatkan kembali tubuhnya pada Maya lalu memeluk pinggangnya. "Dengarkan aku, kau percaya padaku kan?"


"Tergantung."


"Kenapa tergantung? "


"Kalau penjelasanmu masuk akal, aku tentu percaya padamu, Kak. Tapi entahlah, aku bahkan masih merasa sangat sakit saat mengingat kau dan Sharen pernah berpelukan di depan rumah Tante Calista. Aku sadar, kita memang berbeda. Aku memang tidak sebanding denganmu, dan kau memang lebih pantas dengan Sharen," ucap Maya sambil menundukkan kepalanya.


Vansh lalu mengangkat dagu Maya kemudian memegang wajahnya. "Dengarkan aku, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Sharen. Kami hanya berteman, dan aku sudah menganggapnya sebagai adikku. Tentang barang-barangku yang tertinggal di rumah Maya, itu karena aku memang pernah menginap di rumahnya."


"Apaaaaa? Menginap di rumah Sharen?" teriak Maya. Air mata pun mulai membasahi wajahnya.


"Maya kau belum mendengar penjelasan dariku tapi kau sudah menangis seperti ini. Maaf, aku memang belum sempat menceritakan semua ini padamu. Beberapa hari yang lalu, aku memang menginap di rumah Sharen karena aku berpura-pura menjadi suaminya. Aku melakukan semua itu bukan untuk Sharen, tapi untuk menolong Tante Inara dan Om Abimana dari cemoohan saudara mereka karena Tante Inara berasal dari keluarga berdarah biru. Kau tahu kan? Mereka dari keluarga terhormat. Jika mereka tahu yang sebenarnya jika Sharen sudah diceraikan oleh Nathan. Tentu itu sebuah hal yang sangat memalukan bagi mereka, karena itulah aku berpura-pura menjadi suami Sharen untuk menyelamatkan harga diri Tante Inara dan Om Abimana. Apa kau mengerti?"


Maya pun menganggukan kepalanya. "Aku mengerti, Kak. Tapi bagaimana jika keluarga Tante Inara menanyakanmu kembali?"


"Beberapa bulan lagi, Tante Inara akan mengatakan pada keluarga mereka jika Sharen sudah bercerai denganku karena ketidakcocokan. Mereka semua pasti akan menerima itu. Yang terpenting, jarak pernikahan dan perceraian itu tidak terlalu dekat. Kau mengerti kan, Sayang? Bagaimana penjelasanku? Apa penjelasanku masuk akal?"


Maya pun menganggukan kepalanya. "Maafkan aku Kak, aku sudah marah tanpa mendengar penjelasanmu. Maaf sikapku sangat kekanak-kanakan. Kau tahu kan bagaimana hubunganku dengan Sharen? Entah mengapa jika ada hubungannya dengan Sharen aku menjadi merasa sangat sensitif dan membuatku merasa sangat emosional."

__ADS_1


"Itu yang harus kau hilangkan di dalam hatimu, kau harus bisa menghapus dendam dan sakit hatimu pada Sharen. Bukankah temanmu Almarhum Aleta sudah tenang? Kau tidak sepantasnya bersikap seperti itu, kau mengerti kan?"


"Ya, sekali lagi maafkan aku Kak."


Vansh pun kian menempelkan tubuhnya pada Maya lalu memeluknya dengan erat. "Tolong perbaiki hubunganmu dengan Sharen, aku tidak mau calon istriku menjadi wanita yang pendendam. Kau calon ibu dari anak-anakku, kau harus membuang sifat buruk yang pernah singgah di dalam hatimu agar kelak kau bisa selalu mengajarkan kebaikan pada anak-anak kita."


Mendengar perkataan Vansh, Maya pun kembali menangis dalam dekapan Vansh. "Kenapa kau menangis?"


"Kak Vansh, maaf jika aku posesif padamu karena kau sebenarnya terlalu sempurna bagiku. Kau tampan, kaya, baik, pintar. Terkadang aku berfikir kau sangat serakah. Kau memborong semua kesempurnaan di dunia untukmu sendiri, sedangkan aku? Ah menyedihkan, terlalu banyak kekurangan pada diriku ini Kak. Bahkan mungkin hanya kau satu-satunya laki-laki yang mau denganku. Kak Vansh, mungkin sebaiknya kau memikirkan hubungan kita kembali, di luar sana banyak sekali wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku terlalu banyak kekurangan, Kak." ucap Maya dengan begitu polosnya di dalam pelukan Vansh.


Vansh pun tersenyum mendengar perkataan Maya. Dia lalu mengelus punggung Maya sambil sesekali membelai rambutnya. "Sebanyak apapun wanita di dunia jika aku hanya hanya mencintaimu dan menginginkanmu, maka semua orang bisa apa?"


"Tapi aku banyak kekurangan, Kak?"


"Aku yang akan menutupi kekuranganmu. Sudah jangan bicara seperti itu lagi!"


TIN TIN


"Itu pasti Sharen. Ayo kita turun!"


Maya kemudian menganggukkan kepalanya, apalagi bunyi bel di pintu pun mulai terdengar.


TETT TETTT.


Vansh pun membuka pintu rumahnya. Sedangkan Maya kini berdiri di sampingnya ikut menyambut kedatangan Sharen.

__ADS_1


"Selamat pagi, Sharen!" sapa Vansh.


"Selamat pagi, jadi benar sekarang kalian berpacaran?" tanya Sharen sambil menyunggingkan senyum lebarnya.


"Ya, ternyata Maya adalah cinta pertamaku dulu saat kami masih bersekolah."


"Wow, ini benar-benar luar biasa. Sepertinya kalian memang berjodoh, semoga kalian bisa menikah secepatnya."


"Terima kasih banyak, Sharen."


Mendengar perkataan Sharen, Maya kemudian mendekat pada Sharen lalu memeluknya. "Maafkan aku, maafkan aku Sharen."


Sharen yang yang terkejut mendapat pelukan hangat dari Maya lalu mengerutkan keningnya. "Minta maaf untuk apa, Maya?"


"Atas semua yang pernah kulakukan padamu, termasuk tadi saat aku mengangkat teleponmu dengan sedikit ketus."


"Astaga Maya, aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Kupikir masalah diantara kita juga sudah berakhir di malam itu. Aku juga minta maaf padamu, bagaimana jika sekarang kita berteman?"


Maya lalu melepaskan pelukannya. "Tentu," jawab Maya sambil tersenyum lalu mereka tertawa bersama.


"Kak Vansh, ini barang-barangmu. Aku harus pergi sekarang, kalau berlama-lama disini aku bisa tertinggal pesawat. Lagipula aku juga tidak ingin mengganggu kalian berdua," ucap Sharen yang membuat Vansh dan Maya terlihat salah tingkah.


"Terima kasih Sharen. Hati-hati Sharen, semoga kau bisa membuka lembaran barumu."


"Terima kasih banyak doanya. Maya, Kak Vansh aku pergi dulu," ujar Sharen. Maya dan Vansh kemudian menganggukan kepalanya. Maya lalu berjalan pergi dari rumah itu menuju ke mobilnya yang menunggu di luar pagar rumah Vansh. Sedangkan Vansh dan Maya kini tampak sudah masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Saat sedang melangkahkan kakinya, tiba-tiba Sharen mendengar sebuah suara seseorang yang mengagetkan dirinya. Seorang laki-laki yang ada di halaman rumah Vansh tiba-tiba menghampiri dirinya sambil tersenyum disertai tatapan yang membuat Sharen merasa risih.


"Hai cantik, sepertinya kau adalah jodohku. Kau benar-benar wanita idamanku, seperti yang ada di dalam mimpiku. Wajah bulat, kulit putih, badan yang montok serta payudara dan pantat yang besar. Wow sempurna! Cantik, maukah kau jadi pacarku?" ucap laki-laki itu yang membuat Sharen bergidik ngeri.


__ADS_2