
Melihat sepeda motor yang mendekat ke arahnya, Ghea pun mulai berpura-pura menyebrang jalan yang membuat pengendara sepeda motor itu terkejut lalu tanpa sengaja menyerempet tubuh Ghea.
"AWWWW!!" teriak Ghea yang membuat perhatian Sharen tertuju padanya.
"Astaga, ada kecelakaan," ucap Sharen dengan begitu panik saat melihat seorang wanita yang kini terkapar di atas aspal, apalagi pengendara sepeda motor yang menyerempetnya terlihat melarikan diri, dia lalu bergegas keluar dari kamarnya. Inara yang sedang memasak pun terkejut melihat Sharen yang kini berlari keluar rumah dengan begitu panik.
"Ada apa Sharen?"
"Ada kecelakaan ma. Sharen mau menolong korbannya."
"Oh iya, Nak," jawab Inara sambil meneruskan memasak di dapur.
Sharen yang kini sudah ada di jalan depan rumahnya lalu bergegas menolong wanita yang kini terduduk di samping jalan.
"Tante, tante tidak apa-apa?" tanya Sharen pada wanita yang kini sedang membersihkan luka di tangannya.
"Tidak apa-apa, nak. Hanya luka lecet di tangan dan kaki."
"Tante, sebaiknya saya obati luka itu dulu. Bisa infeksi kalau tidak diobati."
"Tidak usah Nak, tante tidak mau merepotkanmu."
"Tidak tante, saya tidak repot sama sekali. Ayo kita masuk ke rumahku dulu, nanti kuobati lukanya."
Ghea pun mengangguk. Sharen kemudian menuntun Ghea masuk ke dalam rumahnya. Ghea pun tersenyum menyeringai saat memasuki rumah mewah tersebut.
'Aku harus bisa tinggal di rumah mewah ini bersama dengan Sharen. Dia pasti tidak akan tega membiarkan ibu kandungnya hidup miskin dan terlunta-lunta di jalan seperti ini, Aku akan berusaha apapun caranya agar tinggal di rumah mewah ini.'
"Tante duduk dulu di sini, saya ambilkan kotak P3K dulu untuk mengobati luka tante."
"Iya Nak, terimakasih banyak."
__ADS_1
Sharen kemudian masuk ke dalam rumah lalu beberapa saat kemudian menghampiri Ghea kembali sambil membawa kotak P3K di tangannya. Dia kemudian mengobati luka-luka di bagian tangan dan kaki Ghea.
Beberapa saat kemudian, Inara pun keluar sambil membawakan minuman untuk Ghea. Inara pun tidak mencurigai wanita tersebut karena dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ghea, bahkan untuk sekedar melihat fotonya karena Abimana tidak pernah mau mengingat apapun tentang Ghea. Melihat Inara yang mendekat ke arah mereka, Ghea pun merasa kesal, apalagi Sharen tampak terlihat akrab dengan Inara.
"Bagaimana lukanya?" tanya Inara pada Sharen.
"Sudah ada sebagian yang kuobati ma," jawab Sharen sambil menutup salah satu luka Ghea dengan kain kasa. Inara kemudian tersenyum pada Ghea.
'Apaa? Sharen memanggil wanita sialan ini dengan sebutan mama? Lancang sekali putriku memanggil dia seperti itu, seharusnya aku yang dipanggil mama olehnya.'
"Silahkan diminum, rumah anda dimana?"
"Oh tidak jauh dari sini."
"Nanti saya pesankan taksi saja untuk mengantar anda pulang."
"Tidak usah saya bisa pulang sendiri, terimaksih sudah membantu saya, jika saya boleh tahu siapa namamu, Nak?"
"Sharen?" tanya Ghea sambil mengerutkan keningnya.
Sharen dan Inara kemudian berpandangan melihat Ghea yang kini mulai meneteskan air matanya.
"Ada apa Nyonya?" tanya Inara pada Ghea.
"Saya juga memiliki seorang putri yang seusia dengannya, dia juga bernama Sharen," ucap Ghea sambil pura-pura mulai terisak.
"Kau memiliki putri yang seumuran dengan putriku? Namanya juga Sharen? Lalu siapa nama anda?" tanya Inara disertai perasaan yang mulai begitu tak menentu.
"Siapa nama anda?" tanya Inara lagi sedangkan Sharen kini menatap Ghea dengan tatapan kosong. Namun saat Ghea akan menjawab pertanyaannya Inara tiba-tiba Abimana sudah mendekat ke arah mereka.
"GHEA!!" teriak Abimana yang membuat Inara dan Sharen menatap Abimana.
__ADS_1
"Apa katamu Abi? Dia Ghea?"
Abimana pun menganggukkan kepalanya lalu mendekat ke arah mereka. "Apa yang kau lakukan di sini, Ghea? Cepat pergi dari sini sekarang juga!" bentak Abimana.
"Abimana, tadi Ghea mengalami kecelakaan di depan, jadi Sharen menolongnya, kau seharusnya tidak bersikap seperti itu, Abi. Ghea sedang mengalami musibah."
"Pasti dia hanya berpura-pura saja, Inara! Ghea cepat kau pergi dari sini!"
"Abimana, tolong jangan berfikiran buruk padaku! Aku benar-benar mengalami kecelakaan, apa kau tidak melihat luka-luka di sekujur tubuhku?"
"Baik, untuk sekarang aku percaya kau mengalami kecelakaan. Tapi Sharen dan Inara sudah mengobati lukamu kan? Sekarang kau pergi dari sini sekarang juga! Inara pesankan taksi untuk Ghea."
"Abimana! Kenapa kau bersikap seperti itu padaku? Aku baru saja bertemu dengan Sharen setelah dua puluh tahun aku tidak bertemu dengannya! Lalu kau mengusirku begitu saja? Dimana perasaanmu Abimana?"
"Kau bicara perasaan, Ghea? Memangnya kau punya perasaan? Apa kau sudah lupa kau dan keluargamu bahkan selalu menolak Sharen sejak aku masuk ke penjara karena aku tidak pernah memberikan uang lagi pada keluargamu, jadi kalian mencampakkan Sharen begitu saja kan! Lalu apa kau sudah lupa saat kau tidak mau menemui Amanda dan mama yang membawa Sharen ke penjara saat dia menangis terus menerus saat merindukanmu? Aku sangat malu dan hancur saat mengingat semua itu! Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada Amanda yang sudah begitu lapang dada menganggap Sharen sebagai putri kandungnya!"
Inara kemudian mengelus punggung Abimana. "Sabar Abi."
"Kau bilang sabar Inara? Aku tidak akan pernah bisa sabar menghadapi wanita terkutuk itu! Dasar wanita baj*ngan! Cepat pergi dari sini sekarang juga!"
"Abimana! Tolong jangan berkata seperti itu padaku! Apa kau sudah lupa bagaimanapun juga aku adalah ibu kandung dari Sharen, aku berhak bertemu dengan putriku."
Ghea kemudian mendekat ke arah Sharen lalu menggenggam tangannya. "Sharen mama merindukanmu sayang, jangan pernah dengarkan perkataan papamu, semua yang papamu katakan tidak benar, Nak. Mama sangat merindukanmu, sayang."
Mendengar perkataan Ghea, Sharen pun hanya diam sambil menatap Ghea dengan tatapan kosongnya, hanya air mata dan isakan yang mulai terdengar.
"Sharen sayang, jangan menangis, kau juga pasti merindukan mama kan?" tanya Ghea sambil mencoba memeluk Sharen. Namun belum sempat Ghea memeluk tubuh Sharen, tiba-tiba Sharen memundurkan langkahnya.
"Sharen, kau kenapa? Ini mamamu, Nak. Mama kandungmu."
Sharen lalu menatap tajam pada Ghea, dadanya pun kini terlihat naik turun disertai nafas yang begitu tersengal-sengal.
__ADS_1
"PERGI DARI SINI!! AKU TIDAK MAU MEMILIKI SEORANG IBU SEPERTI DIRIMU!!"