
"Akhirnya kau pulang juga! Dasar wanita bodoh! Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana keadaan keponakanku?"
"Baik-baik saja bagaimana? Raut wajahmu saja terlihat sendu seperti itu. Tidak usah kau tanyakan, putraku dan istriku baik-baik saja. Karena mereka punya ayah dan suami yang baik dan bertanggung jawab sepertiku. Tidak seperti pacarmu itu."
"Mantan pacar, Nathan. Kau tidak usah meledekku, keadaanku sangat baik."
"Baiklah aku percaya, tapi boong. Hahahhaha."
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak bisa menghiburku?"
"Nala, bagaimana aku mau menghiburmu? Bukankah sejak dulu sudah kukatakan padamu kalau Alvin memiliki niat yang tidak baik padamu! Kau saja yang tidak pernah percaya perkataanku! Kau selalu dibutakan oleh cinta. Sekarang makan tuh cinta yang selalu kau katakan dulu! Kau bisa lihat sendiri kan, bagaimana Alvin menghianatimu dengan wanita lain? Kau seharusnya jangan mau dibodohi oleh cinta!"
"Memangnya kau tidak pernah terlihat bodoh karena cinta? Kau juga cinta mati pada istrimu itu kan?"
"Setidaknya istriku tidak pernah membodohiku."
"Baiklah, kau memang tidak pernah mengalah padaku!"
"Kalau aku mengalah padamu, bukan Nathan namanya. Ayo pulang sekarang! Mama sudah menunggumu!" ujar Nathan sambil mengacak-acak rambut Nala. Dia kemudian berjalan keluar dari bandara dengan raut wajah yang masih terlihat lesu. Sementara itu, Nathan tampak berjalan di belakangnya sambil terkekeh.
'Kau tidak tahu, istriku saja dulu membohingiku saat awal kami berhubungan, dan tidak ada yang tahu karena aku tidak mau terlihat bodoh di depan kalian,' kata Nathan dalam hati.
***
"Hei, dokter ingusan cepat katakan padaku penawaran apa yang ingin kau tawarkan padaku?"
Mendengar perkataan Zack, Alvaro kemudian tersenyum. "Kenapa kau malah tersenyum seperti itu? Aku sedang menanyakan penawaran apa yang kau tawarkan padaku? Kuperingatkan agar kau jangan pernah sekali-kali meledekku! Dokter ingusan, kau pikir kau terlihat hebat hah? Terus terang saja aku tidak percaya padamu! Kau masih sangat muda dan belum berpengalaman. Aku tidak yakin kau bisa menyembuhkan istriku, Laurie."
"Maaf Tuan Zack, saya tidak bermaksud meledek anda, saya hanya mencoba untuk bersikap ramah pada anda."
__ADS_1
"Cih! bersikap ramah? Aku tidak perlu sikap ramah darimu yang aku inginkan hanyalah istriku Laurie bisa cepat sembuh secepatnya!"
"Saya akan berusaha Tuan Zack, saya akan berusaha semaksimal mungkin memberikan perawatan yang terbaik untuk Nyonya Laurie agar dia bisa sembuh secepatnya."
"Lalu penawaran apa yang ingin kau tawarkan padaku? Cepat katakan atau aku akan minta Laurie ditangani oleh dokter lain di rumah sakit ini."
"Begini Tuan Zack, tolong beri saya waktu maksimal sampai 3 bulan untuk merawat Nyonya Laurie."
"Bagaimana jika dalam waktu itu istriku tidak bisa sembuh? Apa yang akan kau lakukan? Aku butuh jaminan darimu?"
"Maka saya akan membantu anda agar Nyonya Laurie bisa dipindahkan ke rumah sakit yang anda inginkan, rumah sakit di luar negeri seperti yang anda katakan tadi."
"Sepertinya itu penawaran yang bagus, tapi bagaimana aku bisa percaya padamu? Aku ingin tahu dimana kau bersekolah dulu? Dimana kau mengambil ilmu kedokteranmu itu? Aku tidak mau istriku ditangani oleh seorang abal-abal yang memiliki kualitas pendidikan rendah!"
"Kalau masalah itu, anda bisa mengecek pendidikan saya di situs rumah sakit ini."
"Baiklah nanti akan kucari tahu tentang dirimu! Tapi awas kalau ternyata kualitas pendidikanmu rendah! Aku tidak segan-segan untuk meminta istriku agar ditangani oleh dokter selain dirimu!"
"Iya Tuan Zack."
Alvaro lalu tersenyum kecut. "Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau takut kan?"
"Tidak Tuan, saya terima konsekuensinya. Silahkan berbuat apapun yang anda mau padaku kalau sampai keadaan istri anda memburuk. Untuk saat ini, tenangkan diri anda karena saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk kesembuhan Nyonya Laurie."
"Baiklah kalau begitu..."
Belum sempat Zack menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia kemudian menjawab panggilan ponsel itu.
"Hai dokter ingusan, aku pergi dulu. Aku ada urusan di luar, tolong rawat istriku sebaik mungkin! Dan, ingat kata-kataku! Jangan pernah berani macam-macam denganku!" kata Zack setelah menutup panggilan teleponnya.
"Iya Tuan Zack," jawab Alvaro. Dia kemudian keluar dari ruangan itu. Sementara Alvaro menatap Laurie sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nyonya Laurie bukankah kau sangat beruntung, suamimu sepertinya sangat mencintaimu, dan aku yakin tidak hanya suamimu tapi keluargamu juga pasti sangat menyayangimu. Banyak orang yang sedih melihat kondisimu seperti ini, Nyonya Laurie."
Alvaro kemudian diam, beberapa saat mengamati Laurie, lalu sedikit memberikan rangssangan pada beberapa bagian syaraf di tubuhnya. "Jadi kau belum mau bangun? Memangnya kenapa? Ada apa sebenarnya denganmu, Nyonya Laurie? Apa kehidupan ini terlalu menyakitkan bagimu sehingga kau memilih untuk tidur seperti ini? Kalau kehidupan ini terlalu menyakitkan bagimu, kau ceritakan saja padaku! Kau bisa menceritakan semua masalah yang kau rasakan padaku! Ceritakan saja semua kesedihan dan keluh kesahmu. Aku mau mendengar semua kesedihan dan keluh kesahmu, Nyonya Laurie. Tapi bagaimana aku bisa mendengar semua ceritamu kalau saat ini matamu saja terpejam seperti ini? Nyonya Laurie, apa kau tidak mau berjumpa denganku? Apa kau tidak mau menceritakan kisahmu padaku?"
Baru saja Alvaro menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba ponsel nya pun berbunyi.
"Oh Paman David," ujar Alvaro saat melihat sebuah nama di layar ponselnya. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Paman.]
[Kau dimana Alvaro? Sejak tadi aku sudah menunggumu.]
[Oh, maaf paman. Aku sedang melihat pasienku sebentar.]
[Kalau sudah selesai, cepat datang ke ruanganku. Ada yang perlu kau tandatangani.]
[Baik Paman, tunggu sebentar.] jawab Alvaro.
Dia kemudian menutup panggilan telepon itu, lalu menatap Laurie kembali. "Nyonya Laurie aku tinggal sebentar, nanti aku ke sini lagi untuk melihat keadaanmu," kata Alvaro. Dia kemudian keluar dari ruangan itu.
Namun, tanpa Alvaro tahu saat dia keluar dari ruangan itu, jari telunjuk tangan kanan Laurie sedikit bergerak.
***
"Nathan, katakan padaku bagaimana keadaan Derick, apa dia masih patah hati karena ditinggal Laurie menikah?" tanya Nala saat dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Nathan pun hanya terdiam. "Kenapa kau hanya diam Nathan? Cepat katakan padaku bagaimana keadaan Derick, apa dia masih patah hati?"
"Tidak, dia sudah tidak patah hati."
"Baguslah, aku sangat mengkhawatirkan dia."
__ADS_1
"Nala, Derick sudah tidak lagi merasakan patah hati lagi karena dia sudah tidak ada didunia ini."
"Apa?"