
Melihat tangan Jane yang mulai mengayunkan pisau di tangannya. Kak Darren refleks langsung mengambil pisau itu dari tangan Kak Jane dan melemparkannya.
"Shakila! Buang pisau itu ke tempat sampah di belakang rumah!" perintah Kak Darren. Aku pun bergegas mengambil pisau itu kemudian berjalan ke arah belakang rumah dan membuang pisau itu ke dalam tong sampah yang ada di belakang rumah.
Saat aku kembali ke ruang tamu, tampak Kak Jane masih menangis di atas lantai sedangkan Kak Darren terlihat sedang memarahi Kak Jane sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bukankah sudah kubilang agar tidak usah bermain drama di depanku, Jane! Aku sudah sangat muak dengan semua drama yang pernah kau tunjukkan padaku. Aku sudah sangat muak! Apakah belum cukup semua drama yang kau lakukan selama enam tahun terakhir ini, Jane? Apakah belum cukup semua penolakan yang pernah kulakukan padamu? Apakah semua ini belum bisa membuatmu sadar tentang bagaimana perasaanku padamu? Kau tidak bisa selalu memaksakan kehendakmu padaku! Aku sudah sangat muak, Jane! Aku sudah sangat muak!" bentak Kak Darren yang membuat Kak Jane semakin menangis tersedu-sedu.
Aku merasa begitu iba melihat keadaan Kak Jane saat ini. Aku kemudian mendekat padanya. "Kak!" panggilku padanya.
Mendengar suaraku. Kak Jane kemudian mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan iba.
"Shakila," ucapnya pelan. Melihat raut wajahnya, aku pun tak kuasa untuk memeluknya dan membiarkan dirinya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukanku.
"Sabar Kak," ucapku sambil mengusap punggungnya saat sedang memenangkan dirinya.
"Shakila! Biarkan saja! Jangan terpengaruh oleh tangisan busuknya. Aku sudah muak, Shakila! Lebih baik, kau masuk ke dalam kamarmu!" perintah Kak Darren. Namun melihat keadaan Kak Jane, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. "Tidak Kak," jawabku.
"Tolong jangan keras kepala, Shakila. Biar aku saja yang mengurus Jane!"
"Tapi Kak..."
"Tidak ada tapi-tapi. Ayo, Jane!" potong Kak Darren. Dia kemudian menarik tangan Jane agar bangkit dari atas lantai lalu berjalan ke arah luar.
Sedangkan aku, aku hanya bisa menatap kepergian Kak Darren dan Kak Jane dengan tatapan nanar.
'Apakah satu-satunya wanita yang sejak dulu dicintai oleh Kak Darren itu aku? Jadi Kak Darren sudah sejak dulu jatuh cinta padaku? Ah, sepertinya aku terlalu percaya diri, lebih baik sekarang aku mandi saja,' gumamku.
Aku kemudian berjalan masuk ke dalam kamar lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengisi bathtub dan menaruh bath foam di dalam bathtub tersebut. Setelah sepenuhnya terisi, aku pun melepaskan pakaianku dan masuk ke dalam bathtub tersebut.
__ADS_1
Saat sedang asyik memainkan busa, tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. 'Astaga, siapa yang membuka pintu kamar mandi? Lancang sekali? Bukankah tadi aku sudah mengunci pintu kamarku? Lalu siapa yang bisa masuk ke dalam kamar ini?' gumamku disertai perasaan yang begitu campur aduk.
Aku pun begitu terkejut saat melihat pintu kamar mandi sepenuhnya terbuka dan melihat Kak Darren yang kini berdiri di ambang pintu sambil tersenyum padaku.
"Kak Darren!" teriakku. Melihatku yang terkejut saat melihat kedatangannya, Kak Darren pun hanya bisa terkekeh.
"Kenapa?" tanya Kak Darren padaku.
'Astaga, ini benar-benar sungguh lancang. Dia dengan santainya masuk ke kamar mandi lalu berkata seperti itu? Dasar benar-benar menyebalkan,' gumamku.
"Kau terkejut aku bisa masuk ke dalam kamarmu? Apa kau sudah lupa jika balkon kamar kita bersebelahan? Aku bisa masuk ke dalam kamarmu kapanpun aku mau, asal kau tidak mengunci pintu balkon kamarmu," ucap Kak Darren sambil terkekeh.
'Ah Kak Darren memang benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak berfikir dengan jernih hingga masuk ke dalam sebuah kamar mandi wanita dewasa begitu saja? Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran kakakku ini?' gerutuku kembali di dalam hati.
"Kenapa kau cemberut seperti itu? Apa kau malu?" tanya Kak Darren. Aku pun menganggukkan kepalaku dengan cepat.
"Baik kalau kau malu, aku keluar dulu!" ujar Kak Darren.
"Oh dia sudah pulang, dia pulang diantar oleh Pak Mamat, supir pribadi kita."
"Astaga, kau benar-benar jahat, Kak. Kenapa bukan kau saja yang mengantarkan dia pulang?"
"Shakila, jika aku yang mengantarkan dia pulang. Drama yang dia lakukan tidak akan berhenti begitu saja, aku sudah muak melihat semua dramanya."
"Kau benar juga Kak."
"Ya, sudah. Aku pergi dulu," ujar Kak Darren. Dia kemudian membalikkan tubuhnya. Namun saat akan melangkahkan kakinya, aku kembali mencegahnya.
"Tunggu, Kak."
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Lalu, apa alasanmu masuk ke dalam kamar mandiku?"
"Memandikanmu, tapi sepertinya kau tidak mau. Ya, sudah aku pergi dulu," jawab Kak Darren dengan begitu entengnya sedangkan perasaanku saat ini begitu amburadul.
'Astaga, nakal sekali,' gumamku sambil melihat Kak Darren yang berjalan keluar dari kamar mandiku.
Setelah aku mandi dan mengenakan pakaian. Aku kemudian berjalan ke arah balkon, menghampiri Kak Darren yang sepertinya sudah menungguku.
"Kak!"
"Kau sudah selesai?" tanya Kak Darren yang dijawab anggukan kepala olehku.
"Apa kakak menungguku?" Kak Darren pun menganggukkan kepalanya.
"Duduklah, Shakila!" perintahnya. Aku pun kemudian duduk di sampingnya lalu menyender ke bahunya.
"Shakila, aku ingin menceritakan sesuatu padamu."
"Cerita? Cerita tentang apa, Kak?" tanyaku. Kak Darren kemudian merengkuh kedua bahuku lalu menariknya hingga tubuhku kini bersandar di dadanya. Kak Darren kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu melingkarkan kedua tangannya di perutku.
"Aku ingin bercerita tentang seseorang. Dua puluh tahun lalu pada tanggal 2 November, lahirlah seorang wanita yang kehadirannya tidak pernah kuketahui, mungkin karena usiaku yang hanya terpaut kurang dari dua tahun dengannya, atau mungkin sudah menjadi takdirku untuk tidak melihat kehadirannya di dunia ini. Dan saat nalarku sudah mulai berjalan, keadaan memaksaku untuk memanggilnya dengan sebutan adik. Sampai di masa itu, aku masih bisa memegang tangannya dan menatap mata indahnya dengan sentuhan dan tatapan mata polosku."
Kak Darren kemudian mengecup tengkukku yang membuat seluruh tubuhku merinding. "Saat aku mulai beranjak dewasa, tanpa aku sadari aku merasa sebuah rasa yang mungkin bisa disebut dengan cinta, meskipun awalnya aku tidak menyadarinya. Saat itu, aku merasakan betapa beruntungnya aku bisa lahir di dunia dan mengenal wanita secantik dirinya. Semakin hari, aku semakin jatuh cinta padanya. Namun, aku juga harus sadar jika sedalam apapun rasa ini, kami harus dipisah oleh sebuah status yang menurutku sangat kejam. Rasanya, aku seperti bermain dengan api. Jika kupegang, tanganku akan terbakar. Tapi jika kulepas api itu akan mati."
"Namun, aku tetap akan berterima kasih pada semesta karena telah menuliskan kisah kita, meskipun aku sudah tahu akhir dari kisah ini jika kita tidak akan pernah bisa memiliki. Tetapi, setidaknya aku pernah merasa jika jatuh cinta itu indah, dan pemilik kata cinta itu adalah dirimu. Keindahan bagiku adalah dirimu, meskipun hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan kisah ini yaitu sulit, karena sulit, itu adalah kita."
Kak Darren kemudian mendorong sedikit tubuhku lalu memutar tubuh ini agar menghadap ke arahnya hingga kami berdua akhirnya bertatapan.
__ADS_1
"Shakila, maafkan aku. Aku sudah memutuskan jika malam ini aku harus pergi, tolong lupakan aku. Lupakan semua hubungan ini. Semoga kau bisa menemukan cinta yang lain dan hidup bahagia dengan laki-laki lain," ucap Kak Darren sambil mengecup keningku.
'Sakit Kak,'