Bed Friend

Bed Friend
Sebuah Proses


__ADS_3

"Ya, kesepakatan Kak. Setelah kau pergi, Papa memanggilku, lalu kami bicara empat mata di dalam kamar. Saat itu Papa memintaku untuk memikirkan lagi keputusan yang akan kuambil. Tahukah kau saat tadi siang aku bertemu denganmu, sebenarnya aku amat berat untuk melepasmu, Kak. Tapi aku tidak ingin mengecewakan Oma. Aku tidak ingin mengecewakan Oma karena Oma sudah memberikan aku kesempatan saat pergi ke Jakarta tapi ternyata kepergianku tidak ada artinya."


"Maafkan aku, maafkan aku Shakila. Jika saja aku mau mendengarkanmu tentu kisah kita tidak seperti ini. Aku memang sangat bodoh."


Shakila pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Kak. Bukankah kau bersikap seperti itu karena kau terlalu mencintaiku? Itu jawaban yang sudah cukup membuatku merasa bahagia. Aku sangat bahagia saat kau tadi mengatakan jika selama dua tahun ini kau tidak pernah bisa melupakan aku. Aku juga sangat bahagia saat tadi kau mengatakan jika saat aku sakit kau berniat untuk pulang, dan mengatakan pada dunia jika kau hanya mencintaiku dan mengabaikan semua norma yang ada. Meskipun pada akhirnya, cinta kita harus tertunda kembali sampai sekarang."


Setetes air mata kemudian lolos dari sudut mata Shakila. "Mungkin kisah cinta kita memang seperti ini Kak, proses cinta kita sangat panjang, dan berbeda dengan yang lain."


Darren lalu memandang Shakila yang kini terlihat mulai menetaskan air matanya. Darren kemudian menggenggam tangan Shakila lalu mengangkat dagunya.


Dia kemudian menghapus air mata di wajah Shakila lalu mengecup wajah bekas air mata tersebut. Shakila pun tersenyum melihat tingkah Darren.


"Are you okay?"


"Always, always okay if you beside me."


Darren pun tersenyum kemudian merengkuh tubuh Shakila ke dalam dekapannya. "Kalau kau sudah tenang, kau bisa menceritakan semua padaku."


Shakila kemudian menganggukan kepalanya. "Saat aku belum selesai berbicara dengan Papa, tiba-tiba Oma mengetuk pintu kamar lalu mengajakku keluar untuk bertemu dengan Devano. Saat itu aku hanya bisa pasrah, aku pasrah karena saat itu aku memang sudah mengatakan jika aku memilih Devano. Saat aku pulang tidak denganmu itu artinya aku harus siap menerima konsekuensiku untuk menikah dengan Devano, itulah yanga ada di pikiranku saat itu."


Mendengar perkataan Shakila, Darren pun memejamkan matanya, hatinya terasa begitu perih mengingat semua sikap dan penolakan yang dia lakukan pada Shakila.


"Maaf," ujar Darren lirih.


"Tidak apa-apa, Kak. Setelah Oma masuk ke dalam kamar, dia kemudian mengajakku untuk bertemu dengan Devano, aku pun menuruti keinginan Oma. Setelah aku keluar dari kamar, Papa Dimas juga bergegas keluar dari dalam kamar lalu menghampiri Devano dan kedua orang tuanya. Saat itu aku, Oma, dan Mama Delia hanya bisa melihat tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh Papa Dimas. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka. Hingga akhirnya Papa memanggil kami dan meminta kami memulai pesta pertunangan tersebut. Setelah aku merasakan harapan yang mulai datang, tiba-tiba aku harus kembali merasa pasrah saat pertunangan akan dimulai. Namun, harapan itu kembali hadir beberapa saat sebelum Devano memakaikan cincin, Papa mengatakan padaku jika ini hanyalah sebuah kesepakatan."

__ADS_1


"Kesepakatan?" tanya Darren sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, kesepakatan."


"Kesepakatan apa Shakila? Sebenarnya ada kesepakatan apa antara orang tuamu dan orang tua Devano?"


"Sachi," jawab Shakila lirih.


"Sachi?" tanya Darren kembali.


"Ya, ternyata aku memiliki seorang adik perempuan bernama Sachi. Namun, saat Mama membawa kami pergi ke Jakarta, dia hilang. Saat itu, Sachi baru lahir. Mama yang sedang frustrasi sampai melupakan keberadaan Sachi saat kami menaiki kereta. Dia tertinggal di kereta dan Mama baru menyadarinya saat kami turun dari kereta tersebut," ucap Shakila sambil terisak.


"Lalu apa hubungan kesepakatan ini dengan Sachi, Shakila?"


"Astaga... Jadi itu artinya kita harus menemukan Sachi?"


Shakila pun menganggukkan kepalanya. "Kita punya waktu untuk mencari Sachi selama dua bulan, Kak."


"Shakila, ini rasanya seperti bukan sebuah kesepakatan, tapi sebuah perjudian. Lalu, bagaimana jika kita tidak bisa menemukan Sachi? Apa artinya kau harus menikah dengan Devano?"


Shakila lalu tersenyum kecut. "Menurutmu?"


Darren lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak Shakila, tidak! Apapun yang akan terjadi kau tidak boleh menikah dengan Devano! Ingat Shakila, mulai hari ini dan seterusnya kau adalah milikku. Kau tidak boleh menikah dengan laki-laki lain selain diriku! Aku akan melakukan apapun agar kita bisa tetap bersama! Kita pasti bisa menikah, kita pasti bisa menikah Shakila! Apa kau mengerti?"


Mendengar perkataan Darren, Shakila pun tersenyum. Darren lalu mengerutkan keningnya saat melihat senyum Shakila yang seakan meledeknya.

__ADS_1


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"


"Kakak, ini kata-kata yang paling kutunggu darimu, aku sudah lama ingin mendengar kata-kata ini keluar dari mulutmu, Kak."


Darren pun ikut tersenyum.


"Jika aku tahu sejak dulu kau bukan adikku, kau tidak perlu menunggu begitu lama untuk mendengar semua kata-kata ini, Shakila."


"Memang benar, kisah kita memang harus melalui sebuah proses yang panjang. Jauh lebih panjang dibandingkan dengan kisah cinta yang lain."


"Lalu apa kau mau melewati proses itu lagi bersamaku?"


"Tentu, tentu aku akan melalui proses yang panjang itu lagi denganmu, Kak."


"Kau salah, hanya sebuah proses, bukan proses yang panjang lagi. Kita hanya tinggal melewati sebuah proses sampai di ujung kisah kita, Shakila. Hanya tinggal sebuah proses. Apa kau mengerti?"


Shakila kemudian menganggukan kepalanya lalu mendekap tubuh Darren kian kencang. Sedangkan Darren kini tampak mengecup kening Shakila.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tampak mengamati mereka dari dalam sebuah mobil.


Bersambung..


NOTE:


Othor ingetin ya, dulu waktu Dimas dipenjara kan Delia lagi hamil anak Dimas, hasil One Night Stand sama Dimas untuk yang kedua kalinya saat mau jebak Firman sama Vallen ya.

__ADS_1


__ADS_2