
"Bertemu dengan Mama? Tentu saja, Boleh. Mama ada di ruang perawatan, Tante."
"Benar aku boleh bertemu dengan Mamamu? Memangnya Mamamu sakit apa?"
"Tentu saja boleh, Tante. Emh, Mama sedikit mengalami cidera."
"Cidera? Cidera apa, Nak?"
"Nanti Tante lihat sendiri saja."
"Iya, ayo kita temui Mamamu sekarang."
"Emhhh, lebih baik Tante makan dulu saja. Bukankah tadi Tante baru saja mau memulai makan siang?"
"Oh, tidak apa-apa, Nak. Kita langsung temui Mamamu saja."
"Tante, tenang saja. Kami akan menunggu tante makan siang," ujar Arka dan Kayla. Delia lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menikmati makan siangnya, meskipun dengan sedikit terburu-buru.
"Ayo, tante sudah selesai," ucap Delia.
"Iya Tante, kita ke ruangan Mama sekarang."
"Iya Arka. Emh begini, bolehkah aku ditemani oleh putriku?"
"Tentu saja Tante, Tante bisa ditemani putri Tante. Putri Tante bisa ke ruang perawatan Mama, di Ruang Sakura nomor 2."
"Iya akan aku beritahu putriku dulu." Delia kemudian mengutak-atik ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Shakila, agar menemuinya di ruang perawatan yang nomor kamarnya sudah dikirimkan oleh Delia.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan ke ruang perawatan Rahma, dan saat mereka baru saja tiba di depan ruang perawatan itu, tampak Shakila yang sudah berjalan ke arahnya.
"Mama!" panggil Shakila.
"Arka, ini putriku Shakila. Shakila kenalkan ini Arka dan Kayla."
Shakila kemudian menjabat tangannya pada Arka dan Kayla. "Dia kakak dari Sachi atau Luna."
"Tante, tolong maafkan Ibu kami. Maaf jika Mama telah mengambil salah satu bagian keluarga kalian, maaf jika sikap Mama telah membuat kalian terluka."
"Tidak apa-apa, ini sudah lama berlalu. Kami juga sudah pernah bertemu dengan Sachi atau Luna. Ayo kita masuk sekarang karena aku punya urusan penting dengan mamamu."
Mereka kemudian masuk ke ruangan tersebut, dan menghampiri Rahma yang saat ini ada di ruang perawatan sambil menonton televisi. Wajahnya masih terlihat pucat akibat kehilangan banyak darah, tubuhnya pun masih terlihat lemah.
Menyadari kedatangan Arka dan dua orang wanita yang berjalan di belakangnya, Rahma lalu memandang mereka sambil mengerutkan keningnya.
DEG
"No-Nona Shakila, Nyo-Nyo-nya Delia," ujar Rahma dengan begitu terbata-bata. Shakila dan Delia lalu tersenyum.
"Bu Rahma apa yang terjadi dengan anda? Kenapa anda seperti ini?" tanya Delia.
"Dea yang melakukan semua ini, Tente Delia. Dia yang telah melukai Mama," ujar Arka. Mendengar perkataan Arka, Delia dan Shakila pun begitu terkejut. Mereka saling bertatapan sambil mengerutkan keningnya, dan menenangkan hati mereka yang begitu bergejolak.
"Ini perbuatan Dea?" tanya Delia.
"Ya, ini perbuatan Dea. Tadi malam dia datang kerumah kami dan sempat berdebat dengan Mama. Dea tidak ingin Mama menceritakan kejadian yang sebenarnya, tentang identitasnya, agar Dea bisa menikah dengan Devano," tutur Arka.
__ADS_1
"Benarkah? Menakutkan sekali, dia benar-benar kurang ajar. Mama, sekarang Mama bisa lihat sendiri kan, bagaimana sikap Dea. Itulah alasannya aku tidak pernah bisa menerima Dea. Jika dia tidak bersikap seperti itu, tentu aku akan menyayanginya meskipun dia bukan adik kandungku. Tapi Mama lihat sendiri kan bagaimana sikap Dea yang sebenarnya, dia bukan anak yang baik. Dia bahkan tega melukai ibu kandungnya sendiri, jadi Mama tidak usah membela dia lagi dengan alasan karena merasa bersalah padanya. Dia memang harus diberi pelajaran agar tidak bersikap seperti ini," cerocos Shakila.
"Nyonya Delia, Nona Shakila, tolong maafkan putriku," kata Rahma sambil terisak, dan menundukan wajahnya, seolah tak berani menatap Delia serta Shakila karena merasa begitu malu dan bersalah. Kesalahan yang diperbuat oleh dirinya dan putri kandungnya.
"Maafkan aku Nyonya Delia, kesalahanku begitu besar dan banyak padamu, semenjak aku mengambil putrimu, maaf aku benar-benar tidak sengaja. Saat melihatmu meninggalkan Sachi begitu saja, kupikir kau sengaja meninggalkan dia di dalam gerbong kereta, jadi aku mengambil Sachi dan merawatnya. Sekali lagi maafkan aku, aku tidak pernah berniat buruk pada Sachi, maaf aku telah memisahkan Sachi dengan kalian semua. Maaf jika sikap egoisku telah merugikan kalian."
"Tidak apa-apa Bu Rahma, semua sudah berlalu, aku pun sudah bertemu dengan Luna."
"Tapi aku minta maaf karena kesalahanku, kalian tidak bisa melihat tumbuh kembang Sachi sejak kecil."
"Bu Rahma tidak usah dipikirkan, meskipun pada saat itu Sachi sudah ditemukan, aku pun tidak bisa menemani masa kecil Sachi, karena saat itu aku mendekam di penjara karena kesalahan yang kulakukan."
Mendengar perkataan Delia, Rahma pun begitu terperanjat. "Maafkan aku tidak tahu, aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu."
"Tidak apa-apa, semua memang sudah berlalu. Terima kasih telah merawat Sachiku dengan penuh kasih sayang. Terima kasih telah menggantikan tugasku sebagai ibunya Bu Rahma," ucap Delia sambil menggengam tangan Rahma.
"Kalian sungguh baik, dan berjiwa besar, kalian begitu berbesar hati mau memaafkan aku. Sekarang tolong katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untuk kalian? Aku ingin menebus kesalahanku dan aku juga ingin Luna atau Sachi bisa hidup dengan bahagia."
Delia dan Shakila lalu saling berpandangan. "Begini Bu Rahma, sejak kemarin Dea datang kerumah Devano dan dan mengaku jika dia adalah Sachi yang sebenarnya. Da ingin mempercepat pernikahannya dengan Devano dengan mempengaruhi orang tua Devano. Namun, untuk saat ini kami tidak punya bukti kalau Dea bukankah Sachi. Jadi, kami minta tolong ke Bu Rahma untuk membuat pengakuan kalau Dea bukanlah Sachi, karena tes DNA itu masih baru keluar satu minggu lagi. Jadi, untuk saat ini kami belum memiliki bukti apapun kecuali pengakuan dari Bu Rahma. Apa Bu Rahma mau membantu kami?"
"Tentu saja, tentu saja aku mau membantu kalian. Tapi apa yang harus kulakukan? Kalian bisa lihat sendiri keadaanku saat ini sangat tidak memungkinkan. Aku belum diperbolehkan dokter untuk meninggalkan rumah sakit ini.
"Oh kalau itu bisa diatur Bu Rahma, kami bisa merekam pengakuan Bu Rahma, dan memberikan video berisi pengakuan Bu Rahma pada Devano. Nanti Devano yang akan bicara pada orang tuanya, dan mengatakan kalau Sachi yang sebenarnya adalah Luna, istrinya sendiri, bukan Dea."
"Oh baiklah, Nona Shakila."
"Kita mulai sekarang?"
__ADS_1
"Iya, baik Nona."
Shakila kemudian merekam pengakuan Rahma, lalu mengirimkannya pada Devano, disertai bukti berupa hasil tes golongan darah yang berbeda antara Dea dengan kedua orangtuanya. Sementara itu, Devano yang sedang mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya setelah beberapa kali di mendapat kiriman pesan dari Dea tentang Viona yang saat ini tengah sakit, tersenyum kecut saat melihat rekaman yang dikirimkan oleh Shakila beserta bukti lainnya.