Bed Friend

Bed Friend
Rasanya Sangat Sakit


__ADS_3

Maya pun hanya terdiam melihat layar ponselnya. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lalu mengangkat panggilan telepon itu.


[Halo Tu... Tuan.]


[Halo, kau dimana?]


[Saya sedang ada urusan di luar, Tuan.]


[Bagus, kalau begitu tolong setengah jam lagi kau temui aku di Space Cafe, kau tau kan tempatnya.]


[I... Iya Tuan.]


[Jangan lupa bawa jaketku, jaket itu pemberian dari mantan Istriku!]


[Baik Tuan.]


Maya kemudian menutup panggilan telepon dari Vansh dengan perasaan begitu tercabik-cabik. Dadanya terasa begitu sesak, dia kemudian menyenderkan tubuhnya pada pagar keliling di makam tersebut sambil menutup wajahnya.


'Kenapa rasanya sakit sekali?' gumam Maya. Dia kemudian membuka tangannya lalu melihat jaket yang ada di dalam tasnya.


"Jadi, jaket ini pemberian darimu, Queen?" ucap Maya sambil menahan sakit di dalam hatinya.


'Rasanya aku ingin berlari dari semua kenyataan ini, rasanya sangat sakit mengingat semua kenangan masa lalu diantara kita. Rasanya sangat sakit mengingat kisah cinta yang terjadi antara kalian berdua selama bertahun-tahun. Rasanya sangat sakit, ketika luka ini kembali terbuka dan mengetahui kenyataan jika ksatriaku telah direbut oleh sahabatku dengan cara yang begitu menyakitkan. Rasanya sangat sakit, jika aku harus bertemu denganmu dan rasa yang tertinggal di dalam hatimu hanyalah perasaan cinta pada wanita yang telah merebutmu dariku. Ah tapi benarkah seperti itu? Mungkin saja jika kau tahu yang sebenarnya, kau juga tidak pernah mencintai diriku? Jadi sebenarnya, bukankah rasa sakit dan cemburu itu sebenarnya tidak pantas kurasakan,' gumam Maya. Dia kemudian menghapus air matanya lalu mencoba menguatkan hatinya.


"Lebih baik aku temui ksatriaku itu. Oh bukan, dia bukan ksatriaku karena ksatriaku sudah menjadi milik yang lain. Dia adalah Tuan Dingin, Tuan Dingin yang selalu menganggapku sebagai gadis lancang yang menggangu hidupnya," kata Maya. Dia kemudian menghapus air matanya lalu masuk ke dalam taksi online yang kini sudah menunggunya.


Vansh tampak memarkirkan mobilnya di sebuah cafe berkonsep aestetik yang ada di pusat kota. Dia kemudian turun dari mobil lalu memasuki cafe tersebut. Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat seorang wanita yang sudah duduk di salah satu pojok cafe tersebut.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Vansh. Maya lalu mengangkat wajahnya dan melihat Vansh yang kini duduk di hadapannya dengan jantung yang berdegup begitu kencang. Hatinya pun terasa begitu campur aduk, rasa bahagia, sedih, dan haru, kini bercampur menjadi satu yang membuat dirinya seketika hanya bisa terdiam.

__ADS_1


'Ksatriaku? Kau kah ksatriaku? Ksatriaku yang selalu kurindukan dalam angan-anganku? Ksatriaku yang hampir selalu datang di setiap mimpiku, ksatriaku yang telah menolong nyawaku dan merelakan dirinya terhantam sebuah mobil yang saat itu melaju dengan kecepatan begitu tinggi. Ksatriaku pemilik liontin yang kutemukan saat dia menjatuhkan liontin itu saat menolongku? Kau kah ksatriaku, Tuan Dingin?' gumam Maya sambil meremass dadanya yang terasa begitu nyeri.


"Hai, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"


"Oo... Oh, belum Tuan."


"Kau sudah memesan makanan?"


"Belum," jawab Maya lirih.


"Kau mau makan apa?"


"Apa saja."


"Jadi kau menyuruhku memesankan makanan untukmu? Lancang sekali."


"Kenapa kau tiba-tiba aneh sekali?" potong Vansh.


"Aneh?" tanya Maya sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, bukankah biasanya kau begitu ceria? Kenapa sekarang tiba-tiba wajahmu murung seperti itu? Kau juga selalu menjawab pertanyaanku dengan begitu terbata-bata," ucap Vansh yang kini terlihat sedikit kesal. Dia kemudian memanggil pelayan cafe tersebut lalu memberikan pesanannya.


"Ma, maafkan saya Tuan."


"Apa kau marah padaku? Kau marah karena tadi malam kau sudah membuatkan kue untukku tapi aku menolak bertemu denganmu? Bukankah sekarang aku sudah menemuimu? Jadi, kau tidak berhak marah padaku! Apa kau mengerti!" omel Vansh.


"Bu... Bukan seperti itu, saya hanya sedang merasa sedih karena saya baru tahu jika seorang sahabat saya sudah meninggal satu tahun yang lalu."


"Jadi kau baru tahu sahabatmu meninggal, padahal dia sudah meninggal satu tahun yang lalu? Sahabat macam apa kau ini?" gerutu Vansh. Maya pun hanya tersenyum getir.

__ADS_1


"Lalu, mana kue yang akan kau berikan padaku!"


"Emh.. E.. E.. Maaf, kue itu sudah saya berikan pada yang lain."


"Apa? Bukankah kau membuatkan kue itu untukku, kenapa kau memberikan kue itu pada yang lain?"


"Bukankah tadi malam anda yang mengatakan pada saya jika hari ini kita tidak bisa bertemu, jadi saya memberikan kue itu pada orang lain. Lalu dimana salah saya?"


"Aku tidak mau membahas itu! Yang jelas kau berhutang untuk memberikan kue padaku!"


Mendengar perkataan Vansh, Maya pun tersenyum. "Kenapa kau tersenyum, gadis lancang!"


"Anda ternyata sangat lucu."


"Naif sekali!" gerutu Vansh. Maya kemudian mengeluarkan sebuah liontin dari tasnya lalu memperlihatkan liontin itu pada Vansh.


"Tuan, saya ingin menceritakan sebuah kisah tentang liontin ini. Apa anda mau mendengarkan ceritaku?"


"Aku tidak tertarik dengan cerita liontin itu."


"Tapi saya ingin menceritakan tentang kisah liontin itu, dan anda harus mendengarkan cerita saya."


"Aku tidak mau! Dan sebaiknya kau jangan memaksaku, memangnya kau pikir siapa dirimu?" jawab Vansh. Maya pun hanya tersenyum getir.


'Mungkin ini belum saatnya,' gumam Maya.


"Baiklah," jawab Maya. Di lalu mengambil tasnya, dan bermaksud memasukkan liontin itu kembali ke dalam tasnya.


"Tunggu dulu!" teriak Vansh saat Maya akan memasukkan liontin tersebut.

__ADS_1


__ADS_2