Bed Friend

Bed Friend
Pemakaman


__ADS_3

Kenzo memacu mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi. 'Semoga saja aku belum terlambat,' gumam Kenzo. Setengah jam kemudian, dia pun sampai di alamat yang diberitahukan oleh Maya. Kenzo memarkirkan mobilnya di depan sebuah gang sempit lalu memasuki gang itu dan berhenti di depan sebuah rumah yang kini tampak ramai oleh kerumunan warga. Sebuah bendera warna kuning pun terpasang di depan rumah itu.


Jantung Kenzo pun berdegup semakin kencang saat memasuki rumah tersebut. Tampak jenazah yang sudah dikafani berada di ruang tamu rumah itu, seorang wanita paruh baya kini sedang menangis tersedu-sedu sambil menatap jenazah itu, tubuh kurusnya kini terlihat begitu ringkih, peluh bercampur air mata kini terlihat membasahi wajahnya. Dua orang remaja berada di samping kanan dan kirinya yang juga berurai air mata juga tampak menenangkannya. Tak jauh dari mereka, Maya tengah menatap jenazah tersebut sambil menangis.


Kenzo lalu mendekat ke arah Maya. "Maya," panggil Kenzo.


"Oh Pak Kenzo."


"Maaf tadi aku tidak mengangkat panggilan darimu karena sedang berbicara hal yang penting dengan Mama."

__ADS_1


"Oh tidak apa-apa, Pak."


"Apa yang sebenarnya telah terjadi, May? Apakah Aleta mengalami suatu musibah?"


Maya kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak Pak, dia tidak mengalami musibah apapun. Aleta sebenarnya tidak hanya mengalami kelumpuhan, saraf sebelah kirinya sudah mati sehingga dia sedikit mengalami gangguan metabolisme di dalam tubuhnya yang akhirnya menimbulkan fungsi panca inderanya terus mengalami penurunan. Tadi siang Aleta sudah kesulitan untuk bernafas, lalu kondisinya terus mengalami penurunan hingga akhirnya sore tadi dia menghembuskan nafas terakhirnya," jawab Maya sambil menghapus air matanya.


"Maaf, aku tidak tahu itu. Yang kami tahu, Aleta hanya mengalami kelumpuhan saja."


"Saya turut berdukacita, Bu," ucap Kenzo. Ibu beserta kedua adik Aleta lalu menatap Kenzo.

__ADS_1


"Terimakasih banyak sudah datang ke rumah kami Tuan Kenzo, selama ini anda dan keluarga anda sudah banyak membantu kami. Kami atas nama Aleta mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan anda, kami juga meminta maaf jika selama hidupnya, Aleta pernah melakukan kesalahan pada kalian semua."


"Iya, tidak apa-apa, Bu. Jadi jenazah Aleta akan dimakamkan malam ini juga?"


"Ya, seperti permintaan dari Aleta sebelum dia meninggal. Dia sebenarnya juga tidak ingin anda datang ke sini karena merasa malu dengan apa yang telah dia lakukan, tapi Maya bersikeras untuk memberitahu anda."


"Saya akan sangat menyesal jika tidak melihat saat-saat terakhir Aleta sebelum dimakamkan, tapi maaf malam ini saya tidak bisa mengikuti pemakaman Aleta."


"Tidak apa-apa, anda sudah datang ke sini saja, saya sudah mengucapkan banyak terima kasih," jawab ibu Aleta di sela isak tangisnya. Kenzo kemudian mendekat ke arah jenazah Aleta lalu mendoakannya. 'Selamat jalan, Aleta. Beberapa saat yang lalu aku memang sangat marah padamu, tapi sekarang aku sudah memaafkan semua yang pernah kau lakukan, aku juga sudah menghapus rasa dendam dan marahku padamu, aku akan selalu menjadi temanmu. Maafkan aku dan keluargaku jika pernah menyakitimu, semoga kau bisa beristirahat dengan tenang dan semua amal ibadahmu diterima oleh-Nya,' gumam Kenzo sambil menatap wajah Aleta yang kini terlihat begitu tenang dan damai. Kenzo kemudian pamit sebelum acara pemakaman berlangsung.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di rumahnya. Saat membuka pintu rumah, tampak Cleo sudah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.


"KAU PERGI KEMANA, KENZO!"


__ADS_2