
Maya yang terpaku dengan kedatangan tiga orang yang berada di dalam mobil tersebut hanya bisa terdiam. Tanpa dia sadari, dua orang yang ada di dalam mobil itu turun dan langsung mencekal tangan Maya.
"Aa...Apa.. Apaan ini? Kenapa kalian mencekal tanganku seperti ini?"
"Apa... Apaan katamu? Tingkahmu seperti wanita yang tidak punya dosa!" bentak salah seorang preman.
"Memangnya apa dosaku pada kalian? Bukankah aku sudah melakukan pembayaran dimuka pada kalian semua?" jawab Maya meskipun dengan bibir yang begitu bergetar.
"Kau tidak usah pura-pura bodoh, yang kau berikan pada kami hanya uang mukanya saja bukan seluruhnya! Jadi cepat lunasi hutangmu pada kami semua!" bentak preman itu pada Maya.
"Tapi bukankah tugas yang kalian lakukan itu gagal? Kalian tidak melakukan tugas kalian dengan baik jadi aku tidak harus melakukan pembayaran sepenuhnya pada kalian!"
"Dasar wanita br*ngsek! Berani sekali kau menentang perintah kami! Sekarang cepat bayar hutangmu pada kami atau kau akan kubuat cacat seumur hidupmu!"
Mendengar perkataan preman itu, Maya pun merasa sangat panik. "Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu!"
"Baik jika itu yang kau inginkan! Cepat bawa gadis ini ke markas!" perintah salah seorang preman berkepala plontos pada kedua anak buahnya yang mencekal tangan Maya.
Rasa panik yang semakin merasuk pun membuat Maya berbuat nekat, dia kemudian mengigit tangan kedua preman yang sedang mencekal tangannya dan berhasil melepaskan diri dari cengkraman tangan kedua preman tersebut. Namun karena terburu-buru, saat akan melarikan diri kakinya tersandung beton trotoar yang tidak rata, seketika tubuhnya pun tersungkur dan kepalanya membentur trotoar itu.
Melihat Maya yang terjatuh, ketiga preman itu lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka kemudian mendekat ke arah Maya yang membuat Maya semakin panik, ingin rasanya dia melarikan diri tapi kakinya terasa begitu sakit.
__ADS_1
Maya kini pun hanya bisa pasrah, dia lalu memejamkan matanya saat preman tersebut mulai mendekat ke arahnya. Namun, di tengah kepasrahan itu tiba-tiba dia mendengar suara seseorang.
"PERGI KALIAN DAN JANGAN PERNAH COBA-COBA UNTUK MENGGANGGU ATAUPUN MENYENTUH GADIS ITU!" bentak sebuah suara.
Mendengar suara seseorang, perlahan Maya pun membuka matanya dan melihat seorang laki-laki tampan yang kini sedang berdiri di belakang preman tersebut. Ketiga preman itu lalu membalikkan tubuhnya.
"Sebaiknya kau usah ikut campur! Ini bukan urusanmu!"
"Tentu saja itu menjadi urusanku karena kau sudah berani mengganggu kekasihku, dan jika kalian berani macam-macam denganku, itu artinya kalian bunuh diri karena aku memiliki jaringan yang cukup kuat di jajaran penegak hukum dan aku bisa saja mengobrak-abrik hidup kalian semua!"
Ketiga preman tersebut pun saling berpandangan. "Memangnya kau siapa? Berani sekali kau berkata seperti itu pada kami, sekuat apa jaringan yang kau miliki!"
"Ternyata kau memiliki nyali untuk bertanya seperti itu padaku? Hidup kalian ternyata hanya berkutat masalah kejahatan yang kalian lakukan hingga tidak tahu siapa saja daftar orang paling berpengaruh di negeri ini?"
"Baik jika kalian memilih untuk berurusan denganku, aku akan memberi kalian pelajaran sekarang juga! Akan kuobrak-abrik markas kalian hingga tak bersisa!" bentak Vansh, dia kemudian mengambil ponselnya lalu tampak mengutak-atik ponsel itu.
Preman tersebut lalu langsung lari ke dalam mobilnya kemudian pergi meninggalkan Maya dan Vansh begitu saja. Vansh kemudian mendekat ke arah Maya.
"Ada robekan di kepalamu, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang untuk mengobati luka-lukamu."
"Terimakasih banyak, Tuan Vans. Tapi aku harus berangkat ke kantor sekarang."
__ADS_1
"Lihat tubuhmu penuh luka seperti itu dan kau masih memikirkan pekerjaanmu?"
"Aku merasa tidak enak dengan Tuan Kenzo."
"Nanti biar kuhubungi Om Leo agar memberitahu Kenzo jika kau mengalami sedikit musibah kecelakaan."
"Tidak usah, saya sudah terlalu banyak merepotkan kalian semua."
"Tidak usah sungkan, bukankah kau sudah terbiasa merepotkan kami semua? Selain merepotkan kau juga sangat lancang."
"Lancang? Apa maksud anda?"
"Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan sayang."
"Bukankah anda yang terlebih dulu mengatakan jika saya adalah kekasih anda? Jika saya memanggil anda dengan sebutan Tuan Muda atau Tuan Vansh, tentu preman-preman itu tidak akan percaya jika saya adalah kekasih anda!"
"Banyak alasan, ayo cepat masuk ke dalam mobil. Kita harus secepatnya mengobati lukamu! Lihat sudah banyak darah yang mengalir, aku tidak ingin kau pingsan di sini, pasti kau akan semakin merepotkanku!" gerutu Vansh sambil menarik tangan Maya ke dalam mobilnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Vansh pun melepas jaket yang dikenakannya. Dia kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Maya. Jantung Maya pun semakin berdegup kencang saat Vansh begitu dekat dengannya. Perlahan, dia pun memejamkan matanya.
"Kenapa kau menutup matamu? Aku hanya ingin membersihkan darah di wajahmu dan menyumbat luka itu dengan jaketku karena aku tidak pernah membawa tissue di mobilku!" sungut Vansh saat Maya menutup matanya.
__ADS_1
Maya yang mendengar teriakkan Vansh pun perlahan membuka matanya sambil tersipu malu.
'Kurang ajar, sungguh memalukan,' gumam Maya di dalam hati.