
Alvaro pun begitu terkejut melihat tingkah Laurie yang tiba-tiba marah begitu saja padanya. "Astaga, jangan-jangan dia salah paham padaku? Dia pasti mengira kalau aku baru saja mengungkapkan cintaku pada Nala. Apalagi, Laurie juga pernah melihat saat Nala merayuku saat dia masih berpura-pura koma. Tapi kenapa dia harus marah?" gerutu Alvaro. Dia kemudian bangkit dari atas sofa, lalu berjalan ke kamar Laurie, dan mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok
Tok tok tok
Beberapa kali Alvaro mengetuk pintu kamar itu, tapi tidak ada jawaban. "Laurie! Kau kenapa?" panggil Alvaro, namun tetap tak ada jawaban. Setelah cukup lama mengetuk pintu itu, dan tak kunjung mendapat jawaban, Alvaro pun merasa putus asa. Dia kemudian menghembuskan nafas panjangnya, sambil mengusap wajahnya dengan kasar, dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Namun saat akan berjalan menuju ke kamarnya, tiba-tiba dia mendengar suara ponsel yang berbunyi. Alvaro kemudian mendekat ke arah ponsel yang ada di atas sofa. "Bukankah ini ponsel Laurie? Ah kalau aku mengetuk kamarnya lagi, pasti dia tidak tetap tidak mau membuka pintu itu untukku. Lebih baik aku angkat dulu teleponnya," gumam Alvaro. Dia kemudian mendekat ke arah sofa lalu mengangkat ponsel itu, dan ternyata yang menelepon adalah Olivia.
[Halo Tante Olivia.] jawab Alvaro.
[Oh Alvaro.]
[Iya Tante, emh begini Laurie sedang tidur di kamar, dan ponselnya tertinggal di meja depan, jadi aku yang mengangkatnya.]
[Oh tidak apa-apa, Alvaro. Tante cuma mau tanya bagaimana keadaan Laurie? Kemarin dia mengatakan sedikit lemas.]
[Iya Tante, kondisi Laurie memang belum sepenuhnya stabil. Kemarin, dia memang sedikit lemas setelah melalui perjalanan jauh, tapi sekarang sudah membaik.]
[Syukurlah Alvaro, Tante percaya kau pasti bisa menjaga dia dengan baik.]
[Iya Tante, aku akan berusaha menjaga Laurie sebaik mungkin.]
[Terima kasih banyak, Alvaro. Aku benar-benar merasa lega. Seluruh masalah tentang Laurie yang ada di pundakku kini sudah hilang, semua berkat dirimu, Alvaro. Terima kasih banyak.]
[Iya Tante, sama-sama. Tapi, bukankah belum sepenuhnya masalah ini selesai karena Zack belum bisa melepaskan Laurie kan?]
__ADS_1
[Apa maksudmu Alvaro?]
[Iya Tante, bukankah masalah tentang Zack juga belum selesai? Dia belum melepaskan Laurie kan?]
Mendengar perkataan Alvaro, Olivia pun tertawa di ujung sambungan telepon. 'Kenapa Tante Olivia tertawa?' batin Alvaro.
[Tante?]
[Oh maaf Alvaro. Apa kau belum tahu kalau Zack sudah mengajukan gugatan cerai pada Laurie? Dia juga sudah mengikhlaskan untuk melepas Laurie. Aku sudah menceritakan ini saat aku menelepon kalian yang sedang beristirahat di hotel.]
Alvaro pun begitu terkejut mendengar perkataan Olivia. Saat di hotel, dia memang tahu kalau Olivia menghubungi Laurie, tapi saat itu dia mengatakan kalau situasinya belum aman, karena Zack masih mencari keberadaan Laurie, bahkan mengunjunginya ke beberapa rumah saudaranya. Dan pengakuan Laurie sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia dengar dari mulut Olivia.
[Alvaro! Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba diam? Apa kau belum tahu tentang kebenaran itu?]
[Oh tidak apa-apa, Tante. Mungkin Laurie lupa menceritakan hal ini karena saat itu kondisi tubuhnya sedang tidak memungkinkan.]
[Iya Tante.]
Alvaro menutup panggilan telepon itu sambil menahan perasaannya yang begitu berkecamuk. Berbagai pikiran tentang sikap Laurie, kini menari dalam benaknya.
"Apa sebenarnya arti dari semua ini? Tentang Laurie yang tiba-tiba menanyakan hubungan kami ke depan, tentang sikap Laurie yang tiba-tiba marah padaku saat ingin menceritakan Nala, dan tentang kebohongan yang dia lakukan. Ya, saat kami berada di hotel, aku memang tahu kalau Tante Olivia meneleponku, tapi bukankah saat itu dia mengatakan kalau Zack masih belum mau melepaskan dia? Kenapa dia sampai berbohong padaku?"
Alvaro pun menutup matanya sejenak, lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Apakah ini artinya kalau dia menyukaiku?" gumam Alvaro sambil mengerutkan keningnya.
"Ah, jangan terlalu percaya diri Alvaro, mungkin dia melakukan itu karena belum percaya kalau Zack benar-benar melepaskannya dan merasa kalau posisinya belum cukup aman. Tapi, benarkah demikian? Lalu bagaimana tentang sikapnya yang seakan tidak suka saat aku akan menceritakan tentang Nala? Bukannya itu artinya dia sedang cemburu? Astaga, jika ditarik benang merahnya, bukankah ini artinya dia menyukaiku?"
Sejenak rasa bahagia pun merasuk ke dalam hati Alvaro, apalagi ketika mengingat semua sikap Laurie padanya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh terlalu percaya diri. Aku tidak boleh menarik kesimpulan seperti ini sebelum kutanyakan perasaannya yang sebenarnya padaku. Tapi, kalau dia benar-benar menyukaiku lalu bagaimana dengan hatiku? Selama ini aku begitu mengaguminya, dan tidak mau kehilangan dia hingga aku melakukan berbagai hal bodoh yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Tapi, apakah itu juga bisa disebut cinta? Oh Tuhan, sebenernya aku yang terlalu bodoh atau atau aku benar-benar naif hingga tidak bisa mengartikan perasaanku sendiri," gerutu Alvaro yang kini merasa begitu bimbang.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, dia kemudian mendekat ke arah kamar Laurie, kemudian mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok
Beberapa kali Alvaro mengetuk pintu kamar itu, namun tetap tidak ada jawaban, sama seperti sebelumnya.
"Laurie, tolong buka pintunya Laurie, ponselmu tertinggal di depan, dan beberapa kali Tante Olivia meneleponmu!"
Laurie yang mendengar Alvaro menyebut nama Olivia seketika pun bimbang. "Laurie, apa kau tidak percaya padaku? Kalau kau masih belum mau melihatku tidak apa-apa, Laurie. Tapi tolong buka pintunya sedikit saja, aku mau memberikan ponsel ini untukmu! Buka pintunya sedikit saja, kau tidak usah melihat wajahku. Cukup ambil ponsel ini saja, apa kau tidak kasihan berulang kali Tante Olivia meneleponmu tapi kau tidak mau bicara dengannya!"
Mendengar perkataan Alvaro, Laurie pun merasa bimbang. Tentu saja, saat ini dia memang ingin bicara dengan Olivia. Bagaimanapun juga hatinya saat ini terasa begitu kacau, dan bicara dengan Olivia paling tidak bisa membuat hatinya sedikit jauh lebih tenang. Setelah berfikir cukup lama, Laurie pun mendekat ke arah pintu. Masih terdengar suara Alvaro yang saat ini masih mencoba membujuknya di balik pintu itu.
Perlahan, pintu itu pun sedikit terbuka. Saat Laurie mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengambil ponselnya, tiba-tiba Alvaro mencekal tangan itu. Laurie pun merasa begitu terkejut saat melihat Alvaro yang tiba-tiba nekad memegang tangannya dengan begitu erat.
"Apa-apaan ini Alvaro? Bukankah tadi kau mengatakan kalau aku cukup membuka pintu ini sedikit saja untuk memberikan ponselku?"
"Maafkan aku Laurie, aku berubah pikiran. Sekarang tolong buka pintunya."
"Tidak mau!" bentak Laurie, namun ternyata Alvaro semakin kuat mencekal tangannya yang seolah membuatnya kehilangan tenaga, hingga pertahanannya pada pintu itu pun goyah, yang kemudian dimanfaatkan oleh Alvaro untuk membuka pintu itu. Setelah pintu itu terbuka, Alvaro kemudian bergegas memeluk Laurie ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Laurie. Maafkan aku, aku mau jujur padamu, kalau aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Laurie."
NOTE: Mampir juga ya ke karya bestie othor novelnya Kak Aisy Arbia, dijamin keren abis loh
__ADS_1