Bed Friend

Bed Friend
No Love


__ADS_3

"Luna, tunggu dulu Luna!" panggil Devano. Mendengar panggilan dari Devano, Luna kemudian mempercepat langkahnya.


"Luna tunggu!" bentak Devano. Dia kemudian mendahului langkah Luna dan berdiri di hadapannya. Luna kemudian menatap tajam ke arah Devano.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Saya tidak ada urusan dengan anda, Tuan Devano!"


"Aku juga tidak ingin ada urusan denganmu, Luna! Coba kau lihat kakimu! Apa kau tidak sadar apa yang telah terjadi denganmu?"


Mendengar perkataan Devano, Luna kemudian melihat ke arah kakinya. "Astaga!" pekik Luna saat melihat darah segar kini mengalir membasahi kakinya.


"Astaga, apa ini?" gerutu Luna.


"Luna, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Devano. Luna pun menganggukkan kepalanya. Namun saat dia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Devano menarik tubuhnya lalu menggendongmya.


"Devano, apa-apaan ini?"


"Sudah jangan banyak bicara. Kalau kau tetap berjalan nanti akan semakin banyak darah yang keluar!" bentak Devano.


Dia kemudian menggendong Luna masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan, mereka terdiam. Hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Luna pun sesekali memegang perutnya sambil menutup matanya.


"Awww!" pekik Luna saat Devano beberapa kali mengerem mendadak. Devano pun melirik Luna yang saat ini sedang memegang perutnya.


"Kau sebenarnya sakit apa Luna?" tanya Devano.


Luna hanya terdiam. "Bukan urusamu!"


"Cihhhh dasar sombong!" gerutu Devano. Luna pun memejamkan matanya sambil meremmas dadanya. Sakit, bukan hanya tubuhnya yang terasa sakit, tapi juga hatinya.

__ADS_1


'Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan Devano lagi? Tapi bukankah seharusnya aku bahagia karena Devano bisa tahu jika saat ini aku sedang mengandung darah dagingnya? Tapi rasanya membayangkan penolakan jika Devano tahu aku sedang mengandung darah dagingnya entah kenapa terasa begitu menyakitkan bagiku,' batin Luna.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah sakit. Bergegas Devano keluar dari mobil lalu membatu Luna turun dari mobil dengan petugas medis yang sudah membawa kursi roda untuk Luna. Mereka kemudian membawa Luna ke ruang UGD.


Seorang dokter lalu mendekat ke arah Luna dan memeriksa kondisinya. "Apa yang sebenarnya telah terjadi pada dia, Dok?" tanya Devano saat seorang dokter kandungan wanita tampak selesai memeriksa keadaan Luna.


"Anda suaminya?" tanya dokter tersebut. Devano pun begitu terkejut mendengar pertanyaan dokter tersebut. Sementara Luna hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Ahhh.. Ya, saya Devano," jawab Devano ambigu.


"Tuan Devano, akibat guncangan yang cukup keras, Nyonya Luna mengalami sedikit pendarahan."


"Pendarahan? Pendarahan apa, Dok?" saya benar-benar tidak mengerti.


"Tuan Devano, saat ini istri anda sedang mengandung. Usia kandungannya memasuki usia delapan minggu. Usia tersebut masih sangat rentan. Sebaiknya anda menjaga kondisi istri anda, agar tidak terlalu lelah ataupun stres. Sepertinya istri anda sedang sedikit stres jadi saat mengalami sedikit guncangan, langsung berimbas pada janin yang dikandungnya."


Devano pun terdiam sejenak mendengar penjelasan dokter tersebut. 'Jadi, Luna saat ini sedang hamil? Siapa ayah kandung dari anak yang ada di dalam kandungan Luna? Jangan-jangan itu anak Brian! Oh shittt!" umpat Devano di dalam hati.


"Begini Tuan Devano, sebenarnya kondisi Nyonya Luna saat ini tidak terlalu parah. Tapi kita tetap harus menghentikan pendarahan tersebut, sebaiknya Nyonya Luna harus menjalani bed rest total di rumah sakit ini, dia tidak boleh banyak bergerak dan hanya boleh berbaring di atas ranjang saja."


"Tapi bagaimana keadaan janin yang ada di dalam kandungan Luna? Apakah janin tersebut bisa diselamatkan?"


"Tentu bisa Tuan Devano, jika Nyonya Luna menjalani bed rest total, pendarahannya akan sembuh dan janinnya pun selamat. Itulah sebabnya tadi saya mengatakan agar Nyonya Luna supaya dirawat di rumah sakit ini agar bisa beristirahat secara total."


"Baik Dok, terserah anda saja," jawab Devano.


"Iya Tuan Devano, sebentar lagi Nyonya Luna bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi dulu."


"Iya Dok, terimakasih banyak."

__ADS_1


Setelah dokter tersebut pergi. Devano lalu menatap ke arah Luna. "Kau sedang hamil?" tanya Devano.


Namun, Luna hanya terdiam. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah samping menghindar dari tatapan Devano yang terasa begitu mengintimidasi.


"Kenapa kau diam, Luna?"


"Apa perlu kau mendengar jawabanku? Bukankah kau sudah mendengar semua penjelasan dari dokter?"


Devano pun tersenyum kecut. "Lalu siapa ayah kandung dari bayi itu? Siapa ayah kandung dari bayi itu, Luna!" bentak Devano.


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, lantas apa kau akan percaya padaku? Bukankah kau akan menikah dengan wanita itu? Wanita yang dijodohkan oleh kedua orang tuamu? Wanita yang sepadan dengan kalian?"


"Ck! Kenapa kau harus membentakku seperti itu? Sombong sekali! Katakan padaku, siapa ayah kandung dari bayi itu? Apa itu Brian?"


Mendengar tuduhan Devano yang terasa begitu menyayat hati, setetes air mata pun kembali membasahi pipinya.


"Kenapa kau menangis? Seharusnya kau menyadari semua itu, Luna. Kau seharusnya paham dengan semua perkataanku. Sekarang cepat katakan, siapa ayah kandung dari bayi itu?" tanya Devano dengan tatapan mata tajam.


Namun, Luna kembali terdiam. Devano lalu mendekat ke arah Luna dan tersenyum sinis ke arahnya. Dia kemudian membelai wajah Luna dengan jari telunjuknya sambil menatap tajam ke arah Luna, meskipun hatinya terasa begitu sakit saat karena menduga anak yang ada di dalam kandungan Luna adalah darah daging Brian.


"Cepat katakan, siapa ayah dari anak yang kau kandung? Saat masih berhubungan denganku kau juga menjalani hubungan dengan laki-laki lain, kan? Jadi itu anakku atau anak Brian?" tanya Devano kembali dengan bibir bergetar. Tatapannya kini pun begitu mengintimidasi, meskipun hati Devano terasa begitu hancur.


Luna kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain selain dirimu seperti yang kau pikirkan! Termasuk Brian!" jawab Luna dengan bibir bergetar. Devano kemudian tersenyum sengit.


"Kau tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain? Lalu, bagaimana dengan Brian? Apa kau sudah lupa kalau aku sudah memergoki kalian saat masuk ke sebuah kamar hotel?"


"KAU SALAH PAHAM DEVANO! KAU SUDAH SALAH PAHAM? PERLU BERAPA KALI KUKATAKAN PADAMU KALAU AKU TIDAK PERNAH MENJALIN HUBUNGAN DENGAN BRIAN!"


"KALAU KAU TIDAK PERNAH BERHUBUNGAN DENGANNYA, COBA BERIKAN BUKTINYA PADAKU! AKU MEMERGOKI KALIAN MASUK KE KAMAR HOTEL DAN KAU MASIH MENYANGKAL BEGITU SAJA LUNA? APA KAU TAHU BAGAIMANA HANCURNYA PERASAANKU? RASANYA KEPALA INI HAMPIR PECAH! BAHKAN RASANYA AKU INGIN MATI SAAT ITU JUGA!"

__ADS_1


Luna pun hanya terdiam. "Kenapa kau hanya bisa diam Luna? Apa susahnya memberikan bukti kalau kau benar-benar tidak bersalah?" ujar Devano.


__ADS_2