
"Kunci apa ini?" ujar Nala saat memegang kunci tersebut sambil mengerutkan keningnya.
"Ah, lebih baik kusimpan saja. Siapa tahu berguna, atau malah mungkin ada kaitannya dengan rahasia raja iblis yang menyebalkan itu?" ujar Nala sambil terkekeh.
Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya, sementara itu di balik pintu kamar itu, Zack tampak sedang menatap foto Laurie. Foto yang diambil olehnya saat pertama kali mereka bertemu di Panti Asuhan. Di foto itu, tampak Laurie begitu cantik dan anggun mengenakan dress motif floral warna pink. Manis sekali, sama seperti manisnya senyumannya saat Zack pertama kali melihatnya yang membuat dia begitu jatuh hati padanya.
"Kata orang, cinta tak harus memiliki. Namun, aku selalu beranggapan kalau kata-kata itu tak berlaku bagiku. Karena bagiku, semua hal yang aku inginkan harus kumiliki tanpa pengecualian. Dan itu juga berlaku dalam kisah cintaku. Kupikir membuat seorang wanita jatuh hati padaku, itu bukan hal yang sulit, sama seperti saat aku mendapatkan apa yang ingin kumiliki. Tapi ternyata semua tidak semudah yang kupikirkan, dan saat ini aku begitu tersiksa oleh permainan yang kubuat sendiri. Mungkin ini artinya, aku harus memahami istilah cinta tidak bisa dipaksakan? Ah, hidup ini benar-benar membuatku gila, aku bisa mendapatkan apapun yang kumau tapi tidak dengan cinta? Cinta ternyata hal yang begitu sulit, dan rumit."
Zack kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu memejamkan matanya. Berharap saat dia membuka mata itu, dia bisa melupakan cinta dan kenangan yang ada di dalam hatinya. Meskipun dia tahu, itu hal yang mustahil. Tapi setidaknya, saat matanya terpejam, dia tidak merasakan sakit yang begitu menyayat kalbu.
***
Sementara itu, Laurie dan Alvaro tampak sedang beristirahat di sebuah hotel karena Alvaro sudah merasa sangat lelah setelah mengendarai mobilnya selama sepuluh jam. Mereka memang sengaja memesan satu kamar karena Alvaro cemas kalau dia harus terpisah dari Laurie. Begitulah Alvaro yang begitu posesif, tapi dia masih saja tidak mau mengakui itu sebagai cinta.
Saat ini, Alvaro tampak sedang tidur dengan begitu pulas di atas sofa yang ada di dalam kamar hotel itu. Sedangkan Laurie yang ada di atas ranjang terlihat begitu cemas sambil menatap Alvaro dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Enak sekali dia dengan begitu santainya tidur seperti itu. Memangnya dia pikir aku apa? Dia selalu membuat hatiku porak poranda saat bersamanya tapi dengan entengnya bersikap begitu cuek padaku. Apa dia lupa, dia yang sudah memintaku untuk menikah dengannya setelah bercerai dari Zack. Lalu, dia juga memintaku untuk pergi bersamanya agar bisa menghindar dari Zack. Apa namanya kalau bukan cinta? Tapi dia dengan entengnya mengatakan kalau dia melakukan semua itu hanya karena ingin menolongku. Baiklah, kalau begitu mungkin aku yang terlalu percaya diri!" gerutu Laurie.
Dia kemudian merebahkan tubuhnya lalu berusaha menutup matanya. Tapi setelah hampir satu jam lamanya, dia tidak bisa. Batinnya begitu bergejolak, entah mengapa rasanya sulit sekali untuk mengalihkan pandangannya dari Alvaro. Laurie pun mendengus kesal, dia kemudian duduk kembali di atas ranjang lalu perlahan bangkit dari atas ranjang itu, dan mendekat ke arah Alvaro yang tampak begitu terlelap. Dia kemudian memandang wajah itu begitu dalam, hingga tanpa dia sadari seolah ada magnet yang menariknya mendekat pada wajah tampan itu, lalu... CUP...
Sebuah kecupan hangat pun mendarat di kening Alvaro. Laurie yang baru menyadari hal yang diperbuat olehnya saat sudah menempelkan bibirnya pada kening Alvaro seketika melepaskan kecupannya, lalu menjauh dari Alvaro dan kembali ke atas ranjang.
"Astaga, Laurie. Kenapa aku bodoh sekali, wanita macam apa aku ini yang sudah berani mencium laki-laki yang bukan suaminya. Oh tidak, kenapa aku tiba-tiba jadi tidak waras seperti ini? Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? Astaga, kenapa aku jadi seperti ini? Aku yang menginginkan Alvaro agar jatuh cinta padaku, tapi ternyata aku yang sudah jatuh cinta padanya! Astaga lebih baik aku tidur sekarang daripada aku semakin bertambah tidak waras!" gerutu Laurie. Dia kemudian berusaha memejamkan matanya, meskipun sulit.
***
Alvaro terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dia kemudian membuka matanya, lalu mematikan alarm itu dan berjalan masuk ke dalam kamar mendi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Ya, kemarin saat baru saja sampai di hotel itu dia memang langsung tertidur begitu saja, karena merasa sangat lelah.
Setelah selesai mandi, Alvaro kemudian mendekat ke arah Laurie yang saat ini masih terlelap. Dia duduk di sisi ranjang sambil menatap wajah cantik itu.
"Bidadariku," ujar Alvaro lirih sambil menatap wajah Laurie yang tidur begitu pulas. Cukup lama, Alvaro menatap wajah cantik itu, hingga membuat hatinya begitu bergemuruh. Dia pun tak dapat lagi menahan gejolak di dalam hatinya yang membuatnya mendekat ke arah Laurie, lalu perlahan mengecup bibirnya dengan begitu hangat, sebuah kecupan penuh perasaan.
__ADS_1
Ketika Alvaro menyadari jika dia telah berbuat sejauh itu, dia kemudian menarik wajahnya. 'Astaga, apa yang telah kulakukan!' batin Alvaro. Sementara itu, Laurie tampak melegguh lirih.
"Emhhhhh... "
Mendengar suara yang keluar dari bibir Laurie, Alvaro pun bangkit dari atas ranjang, lalu berpura-pura berjalan ke arah balkon.
"Selamat pagi, Alvaro," sapa Laurie pada Alvaro yang saat ini tengah berpura-pura memainkan ponselnya.
"Selamat pagi, Laurie. Bagaimana apa tidurmu, kau bisa tidur nyenyak kan?"
Laurie pun mengangukkan kepalanya. "Iya, sangat nyenyak. Hanya saja tiba-tiba seperti ada yang menggangu tidurku."
"Ada yang menggangu tidurmu? Apa itu Laurie?"
"Entahlah. Tadi sepertinya ada sesuatu yang menempel di wajahku, bahkan rasanya sangat hangat."
__ADS_1
Deg