
Calista menatap Maya sambil mengerutkan keningnya. Kata demi kata yang keluar dari bibir Maya terasa begitu menggetarkan hatinya. Obrolan yang diawali dengan penuh canda kini telah berubah berganti menjadi sebuah kisah sedih yang keluar dari bibir Maya.
Perlahan, mata Calista pun tampak berembun. Satu butir air mata mulai menetes dari sudut matanya, disusul dengan butiran-butiran lain yang kini mulai deras membasahi pipinya.
Saat Maya mengakhiri kisahnya, Calista pun mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Maya. "Maya sayang, maafkan aku. Kupikir kisah cintamu dan Vansh hanyalah sebuah ketertarikan antar sesama manusia dewasa saja, bukan melalui sebuah jalan dan proses yang panjang. Maafkan aku Maya, aku baru tahu jika kalian telah mengalami kisah cinta yang panjang dan begitu rumit. Kau luar biasa, kau bisa menjaga rasa cintamu yang begitu besar pada Vansh selama bertahun-tahun. Padahal saat itu, kau pun tidak tahu bagaimana keadaan Vansh yang sebenarnya, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Cinta apa yang kau miliki, Maya?" ucap Calista, dia kemudian melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya.
Maya kemudian tersenyum. "Entahlah, aku tidak tahu. Yang aku tahu, sejak pertama kali aku melihat Kak Vansh hatiku mengatakan jika aku mencintainya. Melihat senyuman di wajahnya itu sudah cukup membuatku merasa bahagia, sesederhana itu rasa cintaku padanya. Aku juga tidak pernah berharap mendapatkan balasan cinta darinya karena aku cukup sadar siapa diriku sebenarnya. Karena itulah selama dua belas tahun aku selalu hidup dalam kenangan cintaku padanya, meskipun aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat itu, masih hidup atau sudah meninggal. Hatiku terlalu sakit jika harus menerima kenyataan buruk jika ternyata dia sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Kau wanita yang luar biasa, Maya. Penantian panjangmu akhirnya berbuah manis karena ternyata Vansh juga mencintaimu, kan? Aku hanya bisa berharap semoga kalian bisa menikah secepatnya. Dua belas tahun, itu bukan waktu yang sebentar, Maya."
"Tapi aku tidak yakin, Tante."
"Kenapa tidak yakin? Apakah kau meragukan cinta Vansh?"
"Bukan itu, tapi bagaimana dengan orang tua Vansh? Maaf aku harus mengatakan seperti ini karena aku belum pernah bertemu dengan mereka berdua. Mereka orang yang sangat terpandang, aku merasa tidak percaya diri, Tante."
__ADS_1
Calista lalu menggenggam tangan Maya. "Olivia? Kau meragukan adikku Olivia? Olivia adalah wanita paling baik yang pernah aku temui di dunia ini, Maya. Aku mengatakan ini bukan karena dia adikku, tapi karena dia memang benar-benar wanita yang sangat baik. Dia pasti juga akan menyetujui hubungan kalian, hatinya sangat lembut."
Mendengar perkataan Calista, Maya pun tampak menarik sudut bibirnya, hingga senyum manisnya pun tersungging di bibirnya. "Lalu bagaimana dengan ayahnya Kak Vansh?" tanya Maya yang membuat Calista kini terlihat gugup.
"Tante, bagaimana dengan Om Kenan?"
"Oh Kenan juga sangat baik..." kata-kata Calista pun terpotong saat mendengar panggilan dari Leo.
"Calista, tolong masuk ke dalam!" perintah Leo.
"Ayo kita masuk," ucap Calista. Dia dan Maya lalu masuk ke dalam rumah. Maya lalu duduk di samping Vansh di sofa, sedangkan Leo menarik tangan Calista untuk berbicara di mini bar yang ada di rumah itu.
"Everything is gonna be okay," ucap Vansh sambil tersenyum. Maya pun menganggukan kepalanya.
***
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Olivia saat Kenan memberikan sebuket bunga mawar warna merah padanya saat dia sedang berdiri di balkon kamar mereka.
"I love you," bisik Kenan sambil mendekap tubuh Olivia dan menciumi tengkuknya.
"Tolong jangan marah padaku lagi Olive," ucap Kenan sambil menciumi bahu Olivia.
"Kenan, mengertilah untuk saat ini aku tidak ingin kau menjodohkan Vansh."
"Tolong kau minta apapun padaku, tapi jangan minta hal itu, Olive. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku dengan Bram untuk menjodohkan Vansh dengan putrinya."
"Aku yang akan bicara dengan Bram, pertemukan kami."
"Olive, kenapa kau begitu menentang perjodohan ini? Bukankah kita belum pernah mencoba membicarakan hal ini dengan Vansh? Tolong Olive, pertemukan mereka sekali saja."
"Baiklah, tapi jika Vansh tidak tertarik pada Alexa, aku tidak ingin kau memaksakan kehendakmu pada Vansh." .
__ADS_1
Kenan pun menghembuskan nafas panjangnya. Saat dia akan membuka suaranya, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi. Kenan lalu mengambil ponselnya.
"Leo," ucap Kenan saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.