Bed Friend

Bed Friend
Menungguku


__ADS_3

Entah keberanian darimana tiba-tiba Alvaro meminta Laurie untuk menikah dengannya, semua mengalir begitu saja terucap dari bibirnya, mungkin inilah yang disebut kata hati. Kata hati yang terucap. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah menyelamatkan Laurie. Entah kenapa melihat wanita itu, membuatnya begitu ingin melindunginya, wanita tercantik yang pernah dia temui.


"Maaf kalau aku lancang sudah memintamu untuk menikah denganku. Kalau kau mau, menikahlah denganku Laurie. Hanya itu yang bisa kita lakukan agar kau bisa lepas dari Zack."


"Kau jangan becanda, Alvaro. Apa kau tidak sadar, ini sangat membahayakan? Nyawamu bisa terancam."


"Aku tidak becanda, Laurie. Kalau kau mau, menikahlah denganku. Bukankah aku sudah pernah berjanji padamu untuk menyelamatkanmu? Ini caraku untuk bisa menyelamatkanmu dari pernikahan terkutuk itu."


"Tapi tidak harus sampai sejauh itu, Alvaro. Sangat berbahaya bagi keselamatanmu, nyawamu yang jadi taruhannya."


"Tidak masalah Laurie, urusan nyawa kuserahkan pada Tuhan. Karena dia yang lebih berhak atas diriku, dibandingkan dengan Zack."


Laurie pun hanya terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh Alvaro, menikah dengannya merupakan satu-satunya cara untuk bisa lepas dari Zack, meskipun tetap ada resiko jika suatu saat Zack bisa membunuh Alvaro, tapi bukankah apa yang dikatakan oleh Alvaro juga benar karena nyawa manusia ada di tangan Tuhan, bukan dari seorang Zack.


Laurie pun menatap Alvaro dengan sedikit canggung. Alvaro memang tampan, hanya wanita bodoh yang menolak laki-laki tampan dan pintar seperti Alvaro. Meskipun usianya jauh lebih mudah dibandingkan dirinya, Alvaro tampak begitu dewasa dan bertanggung jawab. Bahkan dia sampai merelakan dirinya untuk memenuhi janjinya pada Laurie. Kalau jalinan pernikahan itu tanpa masalah, tentu Laurie akan mengiyakan dengan sepenuh hati permintaan Alvaro. Tapi kali ini situasinya berbeda, bahkan nyawa Alvaro menjadi taruhannya. Lalu haruskah manusia baik seperti Alvaro sampai mengorbankan dirinya? Dia tidak ingin apa yang dialami oleh Derick terulang kembali pada Alvaro. Berbagi pikiran menari dalam benak Laurie, hatinya pun terasa begitu berkecamuk. Semua terasa campur aduk menjadi satu.


"Laurie!" panggil Alvaro, yang tiba-tiba mengagetkan lamunan Laurie. Laurie pun tersenyum.


"Bagaimana Laurie? Apa kau mau menikah denganku? Aku tidak memintamu untuk sepenuhnya menjadi istriku, aku tidak memintamu melakukan hal yang selayaknya suami istri lakukan, dan kau tidak harus melakukan hal yang seharusnya menjadi kewajibanmu sebagai istriku. Aku tahu posisiku, aku tahu kau juga tidak mencintaiku. Ini hanyalah sebuah kepura-puraan, anggap saja aku sebagai temanmu. Aku hanya ingin menyelamatkanmu."


Mendengar perkataan Alvaro, Laurie pun begitu sedih. 'Bukan itu Alvaro, tanpa kau harus berkata seperti itu, aku mau melakukan kewajibanku sebagai istrimu, yang menggangu pikiranku hanyalah keselamatanmu,' batin Laurie.


"Baik Laurie, aku tidak akan memaksamu. Masalah hati, memang tidak bisa dipaksakan."


"Alvaro mengertilah, aku hanya mengkhawatirkan keselamatan nyawamu," jawab Laurie sambil terisak.


"Laurie, nyawa manusia ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan Zack."


"Alvaroooo..., aku...," isak Laurie. Melihat Laurie yang kini menangis dengan begitu tersedu-sedu, entah dorongan darimana Alvaro kemudian memeluknya. Mendapat pelukan hangat dari Alvaro yang begitu menenangkan, Laurie pun semakin menempelkan tubuhnya pada Alvaro, dan menangis di atas dadanya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu," celoteh Laurie yang membuat Alvaro tertegun.


"Laurieee... "


"Aku tidak ingin kejadian itu kembali terulang, aku tidak ingin harus ada nyawa lagi yang menjadi korban karena diriku. Tolong jangan katakan nyawa ada di tangan Tuhan, aku tahu itu Alvaro. Aku hanya tidak ingin kehilangan lagi. Kehilangan itu sangat menyakitkan."

__ADS_1


Alvaro membelai rambut Laurie. "Baiklah, Laurie. Kuberi kau waktu untuk berfikir. Aku juga akan mencari cara lagi agar Zack tidak bisa mendekatimu lagi."


Laurie menganggukkan kepalanya, di saat itulah tiba-tiba pintu ruang perawatan itu terbuka. Sosok wanita paruh baya yang saat ini berdiri di ambang pintu pun begitu terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Laurie," ucapnya lirih. Seketika, bungkusan makanan yang ada di tangannya pun terjatuh begitu saja. Mendengar suara benda jatuh dari arah pintu, Laurie dan Alvaro pun melepaskan pelukan mereka.


"Mama," ucap Laurie saat melihat Olivia yang saat ini masih berdiri di ambang pintu sambil menatap dirinya dengan tatapan kosong.


***


Sementara itu Nala yang sudah sampai di rumahnya tampak begitu bimbang saat akan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Astaga apa yang harus kukatakan pada Mama? Apakah Mama akan mengizinkanku pergi? Bukankah aku baru saja pulang ke rumah ini?" ujar Nala sambil melangkah ragu masuk ke dalam rumahnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, dia sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupan Zack dan dia harus menjalani konsekuensi dari pilihannya itu. Jika saja dia mau mengikuti kata-kata Nathan untuk tidak ikut campur pada masalah Zack, tentu dia tidak akan berada dalam situasi yang sangat rumit ini.


Akhirnya Nala pun memberanikan diri mendekat pada Calista yang saat ini sedang duduk di ruang tengah sambil mengasuh putra dari Nathan, karena saat ini Clarisa sedang sakit.


"Halo sayang!" sapa Calista.


"Mama, bolehkah aku bicara hal penting dengan mama?"


"Begini Ma, bukankah mama tahu aku saat ini sedang patah hati. Rasanya sangat sakit ma, sangat sakit. Aku sangat sulit melupakan Alvin, laki-laki menyebalkan itu, bukan karena aku masih mencintainya. Tapi aku masih tidak bisa menerima semua sikap buruknya yang sudah mempermainkan aku."


"Nala kau harus bisa melupakan masa lalumu itu, untuk apa memikirkan laki-laki seperti Alvin."


"Itulah ma, itulah yang harus aku lakukan saat ini. Aku sedang melakukan berbagai cara agar bisa melupakan sikap buruk dari laki-laki terkutuk itu."


"Bagus Nala."


"Begini ma, karena itulah aku mencoba untuk memulai bisnis baru dengan teman-temanku. Aku sengaja melakukan banyak kegiatan di luar agar bisa melupakan Alvin secepatnya. Aku ingin memiliki kehidupan dan semangat baru."


"Bagus sekali itu Nala, jadi maksudmu kau akan berbisnis dengan teman-temanmu kan?"


"Iya ma, aku memiliki rencana bisnis untuk membuka bisnis dengan teman-temanku. Tapi..."


"Tapi apa Nala?"

__ADS_1


"Tapi kami berniat untuk membuka bisnis itu di luar negeri, karena mama tahu sendiri kan potensi bisnis di luar negeri itu jauh lebih menjanjikan apalagi daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan."


"Ya, kau benar Nala, kau memang putriku yang sangat pintar."


"Tentu saja ma, karena itulah aku berniat untuk membuka bisnisku di Macau. Mama tahu kan perkembangan potensi pariwisata di sana."


Calista pun mengerutkan keningnya. "Jadi kau berniat pergi ke Macau?"


"Iya ma, aku dan teman-temanku berniat pergi ke Macau hari ini juga."


"Kenapa mendadak sekali Nala?"


"Maaf, ma. Tapi, mama setuju kan? Daripada aku di sini dan memikirkan laki-laki tidak berguna itu yang bisa merusak masa depanku. Bukankah lebih baik aku menjalani hal yang positif dan berguna untuk masa depanku? Benarkan ma?"


Calista pun tak terdiam, dan tampak berpikir sejenak. "Jadi hari ini kau benar-benar mau pergi ke Macau?"


"Iya ma, bolehkan ma? Ini demi masa depanku dan juga melupakan laki-laki itu."


"Baik, akan kuizinkan kau pergi ke Macau, Sayang. Yang penting kau bisa bahagia."


Nala pun begitu lega mendengar jawaban Calista, spontan dia berteriak dan memeluk Calista. "Terima kasih ma, jangan lupa tolong izinkan juga pada papa. Kalau begitu aku mau berkemas dulu ya."


"Iya Nala."


Nala kemudian masuk ke dalam kamarnya, lalu mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai berkemas dan berpamitan pada Calista, Nala pun menuju bandara dengan diantar supir pribadinya. Namun, saat dalam perjalanan, Nala teringat sesuatu.


"Pak supir, bisakah kita ke rumah sakit sebentar?"


"Baik Non."


"Aku ingin berpamitan dengan Laurie, dan juga bertemu dengan Alvaro. Alvaro apa kau mau menungguku?"


NOTE:


Mampir juga ya ke novelnya Kak Sutihat Bastie Wibowo dijamin ceritanya keren abis, nyesel kalo nggak mampir 😅😅

__ADS_1



__ADS_2