
"Kenzo, apa maksudmu? Aku sungguh benar-benar tidak mengerti? Ayah kandungmu? Ayah kandungmu membuangmu? Bukankah Ayah kandungmu adalah Papa Abimana? Jadi dulu dia pernah membuangmu? Kau tidak sedang bercanda kan Kenzo?"
Kenzo lalu melepaskan pelukannya, dia kemudian menatap Cleo dan menganggukan kepalanya. "Ya, Abimana, dia yang sudah membuangku, Cleo. Abimana sudah membuangku saat bayi, dia membuangku, darah dagingnya sendiri. Bukankah kau tahu setelah melahirkanku Mamaku mengalami koma?"
Cleo lalu menganggukkan kepalanya. "Di saat itulah, Abimana mengambil kesempatan untuk membuangku ke dalam hutan, untungnya Pamanmu, Paman David tahu akan hal itu, dia lalu menghubungi teman dekatnya yang merupakan orang tua Nathan, Om Leo dan Tante Calista. Anak buah Om Leo lalu menyelamatkanku, Cleo. Sejak saat itulah aku dirawat mereka demi keselamatanku, sampai akhirnya Mama Amanda bangun dari komanya dan mengambilku. Kau tahu Cleo, apa alasan Papa Abimana melakukan semua itu? Karena harta, dia melakukan semua itu untuk menguasai harta Mama. Dia benar-benar laki-laki berhati iblis, Cleo. Tidak itu saja, dia juga telah membunuh ayah kandungnya sendiri, yaitu kakekku. Dia memang telah menjalani masa tahanan selama dua puluh tahun, tapi bagiku itu tak cukup, Cleo. Itu tak cukup, seharusnya dia mati atau membusuk di dalam penjara! DIA BENAR-BENAR MANUSIA BI*ADAB! DIA BENAR-BENAR BRENGSEK, CLEO! AKU SANGAT MALU MEMILIKI ORANG TUA KANDUNG SEPERTI DIRINYA, BENAR-BENAR MENJIJIKAN!"
Cleo lalu menggenggam tangan Kenzo. "Kenzo, aku tahu kau pasti merasa sedih, aku tahu kau pasti merasa sangat hancur. Kau berhak marah atas kejahatan yang pernah Papa Abimana lakukan padamu, tapi bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu, sebaiknya kau kendalikan lidahmu, tidak sepantasnya kau berkata seperti itu. Tenangkan dirimu, Kenzo. Aku akan selalu menemanimu dan tidak akan kubiarkan kau bersedih," ucap Cleo sambil menghapus air mata Kenzo dan membelai wajahnya.
"Sekarang kita masuk ke dalam, lalu beristirahatlah. Tenangkan pikiran dan hatimu, aku akan menemanimu beristirahat, kau mau kan?" tanya Cleo yang dijawab anggukan kepala oleh Kenzo.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah sambil mendorong stroller Shane. Shane kini tampak terlelap karena kekenyangan setelah makan siang. Sesampainya di dalam kamar, Cleo lalu menaruh Shane ke tempat tidurnya kemudian menyalakan lilin beraroma lavender di kamarnya. Dia lalu mendekat ke arah Kenzo yang kini sudah duduk di atas ranjang dan duduk di sampingnya.
"Sekarang tidurlah di atas pangkuanku," perintah Cleo sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kenzo lalu mengikuti perintah Cleo. Dia kemudian mendekat ke arah Cleo yang kini sudah duduk di atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas paha Cleo. Cleo kemudian membelai wajah dan rambut Kenzo sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana, apakah sekarang kau jauh lebih tenang?Jika kau masih ingin menangis dan mencurahkan rasa kesalmu, curahkan saja sekarang padaku, aku akan selalu mendengar keluh kesahmu, aku akan selalu menemanimu saat kau sedih. Apapun yang terjadi di dalam hidupmu, ingatlah bahwa aku akan selalu ada di sampingmu, aku akan selalu menyayangimu, Kenzo."
Kenzo lalu menganggukkan kepalanya. "Aku sudah tidak merasa sedih lagi, berada di sampingmu selalu membuatku merasa nyaman, Cleo. Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, perlu kau tahu semua orang menyayangimu, Kenzo. Mama Amanda, Papa Rayhan, Kak Sharen, Clarissa, kedua orang tuaku, Mama Inara, Om Leo dan Tante Calista, dan semua saudaramu, semua menyayangimu. Kau memang berhak membenci Papa Abimana dan belum bisa menerima sikap buruknya di masa lalu padamu tapi Kenzo, bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu, sebaiknya kau kendalikan dirimu untuk tidak berkata kasar padanya. Saat ini kau boleh saja membencinya tapi aku yakin Papa Abimana pasti sudah menyesali semua kesalahannya di masa lalu, aku tahu lewat pancaran matanya yang terlihat sangat menyayangimu."
Cleo lalu melirik Kenzo yang sudah terlihat tenang. Dia kemudian melanjutkan kata-katanya. "Kenzo dengarkan aku, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Jika saja kau tidak mengenal Om Leo dan Tante Calista, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan kita, aku tidak tahu apakah kita bisa melanjutkan hubungan kita lagi atau tidak jika kau tidak mengenal mereka dengan baik, aku memang tidak mengenal mereka, tapi aku yakin mereka sangat baik dan menyayangimu, aku tahu mereka pasti bisa bersikap bijak dalam memandang hubungan kita dan memahami semua yang telah terjadi diantara kita bertiga, iya kan?"
"Ya, aku tahu itu. Kenzo, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Sekarang kau bisa mengambil hikmah dari kejadian di masa lalumu kan? Kau memang pernah mengalami kemalangan di masa lalumu, tapi kemalangan itu juga yang menyelamatkan masa depanmu, masa depan kita Kenzo. Apa kau mengerti?"
Kenzo lalu menganggukan kepalanya. "Ya, aku mengerti," jawab Kenzo. Dia kemudian bangun lalu duduk di hadapan Cleo sambil tersenyum dan membelai wajah Cleo. Cleo lalu balas memandang Kenzo dengan tatapan sedikit menggoda. "Akhirnya aku bisa melihat senyummu lagi, itu jauh terlihat lebih baik, senyummu selalu membuat perutku bergetar, Kenzo."
Kenzo kemudian memeluk Cleo. "Terimakasih sayang, tetaplah menjadi Agathaku, Agatha yang selalu ada di sampingku, menemaniku sampai akhir hidupku. Hari ini terasa begitu berat bagiku, aku merasa sangat sedih dan hancur, tapi semua perasaan itu hilang begitu saja saat bersamamu, terimakasih Cleo."
__ADS_1
Cleo lalu menganggukkan kepalanya, dia kemudian melepaskan pelukan Kenzo lalu mulai membelai wajahnya. "Jangan bersedih lagi, ada aku di sini."
Kenzo lalu menganggukan kepalanya kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Cleo, dia lalu mulai menciumi tiap bagian wajah Cleo kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Cleo lalu mulai melu*at bibir berwarna merah yang terlihat begitu menggoda nalurinya.
🍒🍒🍒
Nathan duduk di samping Clarissa sambil termenung, rasa kesal dan marah kini begitu menguasai hatinya, raut wajah dan sorot matanya pun tampak memerah. Meskipun merasa takut, Clarissa akhirnya mulai membuka suaranya.
"Kak Nathan, aku ingin pulang. Kita pulang sekarang saja, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Pulanglah terlebih dulu bersamaku, lalu beristirahatlah. Aku tahu kau pasti lelah."
"Pulang kemana?"
"Apartemenku."
__ADS_1