
"Delia, kau urus Mama, aku ingin bertemu dengan putriku," ujar Dimas. Delia lalu menganggukkan kepalanya kemudian mendekat pada Fitri.
Sementara Dimas menghampiri Shakila lalu menarik tangannya. "Ayo ke kamari! Papa ingin bicara denganmu, Shakila!"
"Iya Pa," jawab Shakila lirih. Dia kemudian mengikuti langkah Dimas menuju ke dalam kamarnya sambil menghapus air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
Shakila lalu berdiri di depan Dimas yang menatapnya dengan tatapan sendu. Dimas kemudian mengangkat tangannya lalu menghapus air mata Shakila.
"Dua puluh tahun, Shakila. Dua puluh tahun Papa harus menahan rasa rinduku untuk bertemu denganmu, dan bertemu dengan Mamamu. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Sangat sakit, Shakila. Sangat sakit rasanya, setiap hari aku harus menahan rasa rindu yang menyesakkan dada. Saat kita jatuh cinta, rasanya hidup ini begitu indah, namun saat patah, rasanya sangat sakit hingga kita bahkan tidak memiliki alasan untuk hidup di dunia, dan Papa sudah merasakan kepahitan itu selama dua puluh tahun, Shakila."
Dimas lalu mengambil nafas dalam-dalam sambil menahan sesak yang ada di dalam hatinya.
"Shakila, tahukah kau? Papa bahkan baru merasakan jatuh cinta pada ibumu saat Papa berada di dalam penjara, saat itulah Papa baru menyadari arti cinta yang sebenarnya. Dan saat Papa baru menyadari cinta yang ada di dalam hati Papa, kami harus terpisah selama dua puluh tahun. Rasanya sangat sakit, Shakila. Rasanya sangat sakit, meskipun saat ini rasa sakit ini sudah terobati karena Papa dan Mama sudah berkumpul denganmu tapi rasanya sakit itu masih membekas."
Dimas kemudian menggenggam tangan Shakila. "Shakila, Papa hanya tidak ingin kau merasakan rasa sakit yang sama dengan yang kami alami. Kami tidak ingin kau tersakiti, memang kisah kita berbeda Shakila, tapi Papa yakin rasa sakitnya pasti sama. Lalu apa kau yakin bisa hidup dengan laki-laki yang tidak pernah kau cintai?"
Shakila lalu terdiam sambil menghapus air matanya. "Pandanganmu tentang Darren ternyata salah, Shakila. Dia tidak seperti yang kau pikirkan, tidak pernah ada wanita lain di dalam hidupnya kecuali dirimu. Dia tidak bermaksud untuk menyakitimu, dia melakukan semua itu untuk menjaga perasaan agar kau tidak merasa terluka karena dia masih berfikir jika cinta yang dia rasakan adalah sebuah kesalahan."
"Tapi aku sudah sangat tersakiti oleh sikapnya, Pa. Dia begitu menyakitiku dengan mengabaikanku begitu saja."
"Lalu kau pikir Papa dulu adalah seorang laki-laki yang baik? Memangnya kau pikir Papa tidak pernah menyakiti Mamamu? Tidak Shakila! Bukankah kau tahu jika dulu Papa pernah menikah dengan Aini? Papa yang masih merasa penasaran pada Aini, saat itu ingin berbuat jahat padanya. Dan itu terjadi satu minggu sebelum pernikahan Papa dan Mama. Akibat perbuatan itulah Roy memenjarakan Papa, dan setelah itu kejadian tragis pun menimpa kami berdua, kami dipenjara selama dua puluh tahun, Shakila. Lalu apakah Mamamu marah pada Papa? Tidak Shakila, tidak. Saat dia belum masuk ke penjara, dia menemui Papa dan mengatakan akan menunggu Papa. Saat Mamamu mengatakan hal itu, hati Papa benar-benar hancur. Tidak hanya rasa bersalah, tapi juga penyesalan yang teramat dalam. Shakila, kesalahan yang Darren lakukan tidak sebanding dengan yang Papa lakukan. Papa harap kau bisa bersikap bijaksana dan berlapang dada menerima permintaan maaf Darren. Kau masih punya waktu sebelum terlambat, Nak!" ucap Dimas.
Shakila pun hanya menangis dalam pelukan Dimas. "Tapi aku sudah memilih, dan aku tidak mau mengecewakan Oma."
__ADS_1
Belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka.
"Shakila, Dimas! Kenapa kalian masih di sini? Keluarga Devano sudah menunggu kalian di depan!" perintah Fitri.
Dimas lalu memandang Shakila. "Ikuti kata hatimu," ujar Dimas, tapi Shakila hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu.
***
Shakila tampak berdiri di balkon kamar sambil menatap gelapnya malam. Langit malam ini terlihat sangat gelap, dan mendung. Tiada bintang yang bersinar sama sekali di langit malam ini. "Semesta memang selalu tahu bagaimana isi hati ini. Malam ini rasanya begitu kelam dan gelap seperti kisah cintaku."
Shakila lalu memandang sebuah cincin yang ada di jari manisnya sambil tersenyum kecut. Di saat itulah tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
"Mama Aini?" ucap Shakila saat melihat nama Aini tertera di layar ponselnya. Shakila lalu mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Ma.]
[Kenapa Shakila?]
[Oh tidak apa-apa, Ma. Mama kenapa malam-malam meneleponku? Apa ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan?] tanya Shakila berharap mendapatkan kabar dari Darren.
[Oh iya Shakila, Mama mau menanyakan, apa tadi Darren ke rumahmu?]
[Oh... E, ya. Tapi hanya sebentar, memangnya kenapa Ma?]
__ADS_1
[Shakila, sampai saat ini ponsel Darren tidak bisa dihubungi. Dia juga belum pulang ke rumah, Mama sangat mencemaskan Darren. Tidak seperti biasanya dia bersikap seperti ini.]
DEG
Jantung Shakila pun seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Aini.
[Kak Darren belum pulang, Ma?]
[Iya Shakila, Darren belum pulang. Ponselnya juga tidak aktif.]
[Astaga! Mama kututup dulu teleponnya, Ma. Aku mau mencari Kak Darren dulu.] ujar Shakila kemudian menutup telepon dari Aini begitu saja.
Shakila lalu mengganti pakaiannya lalu bergegas keluar dari rumahnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi.
"Kak Darren pasti masih ada di kota ini. Aku yakin Kak Darren pasti masih ada di kota ini. Aku akan mencari Kak Darren di tempat yang luas, tempat dimana dia bisa memandang langit dengan bebas. Ya, aku harus mencari ke tempat-tempat itu," kata Shakila sambil mengendarai mobilnya mengelilingi kota, mencari tempat yang lapang dan luas untuk bisa memandang langit malam hari.
Hampir satu jam lamanya, Shakila mengelilingi kota, akhirnya dia tiba di sebuah tempat yang menjadi ikon dari kotanya tersebut.
Samar-samar dia melihat seseorang yang sedang duduk di sebuah bangku yang ada di samping perempatan di sebuah jalan yang menjadi ikon kota tersebut.
"Sudah kuduga, dia pasti pergi ke sini," ujar Shakila. Dia kemudian memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil itu dan mendekat ke arah Darren. Kini, Shakila pun berdiri di belakang punggung Darren.
"Kenapa kau belum juga pulang? Orang tuamu sangat mencemaskanmu. Bukankah tadi sudah kukatakan padamu untuk segera pulang?"
__ADS_1
Mendengar sebuah suara yang begitu dikenalnya kini terdengar di belakangnya, Darren pun tersenyum.
"Aku belum ingin pulang, aku masih ingin menikmati penyesalanku, kebodohanku, dan rasa sakit hatiku. Aku belum sanggup jika aku harus pura-pura terlihat bahagia di depan kedua orang tuaku."