
Vansh dan Maya yang kaget mendengar suara bel pun menjauhkan wajah mereka. Maya lalu turun dari paha Vansh kemudian duduk di atas sofa.
"Aku buka dulu pintunya," ucap Vansh sambil bangkit dari atas sofa. Maya pun mengangguk, dia kemudian merapikan pakaiannya lalu menepuk-nepuk pipinya.
"Rasanya seperti mimpi. Astaga, semoga ini bukan mimpi Oh Tuhan. Ksatriaku, Tuan Dingin, Tuan Tampan, apapun sebutanmu dariku, ternyata dia mencintaiku? Dia sudah mencintaiku sejak dulu? Ah benar-benar seperti mimpi. Ya aku tahu sejak dulu aku memang cantik dan banyak pria yang mengejar-ngejar diriku tapi aku tidak menyangka jika Ksatriaku juga ternyata masuk ke daftar pria yang menyukaiku," ucap Maya masih sambil terkekeh. Dia kemudian menyatukan tangannya lalu meletakkanmya di depan dadanya sambil tersenyum.
"Maya, ini kubelikan makanan untukmu. Tadi yang datang kurir pengantar makanan," ucap Vansh. Namun Maya hanya terdiam sambil terus menerus tersenyum.
"Maya! Kau sedang apa? Kenapa kau bersikap seperti seperti itu?" ujar Vansh. Dia kemudian duduk di samping Maya sambil meletakkan beberapa bungkus kantong makanan.
"Oh tidak apa-apa, aku hanya sedikit kedinginan makanya aku menaruh tanganku di atas dadaku," ucap Maya dengan asal untuk menutupi rasa malunya.
"Oh, jadi kau kedinginan?" tanya Vansh yang dijawab anggukan oleh Maya. Vansh kemudian menarik bahu Maya agar bersandar di dada bidangnya lalu memeluk tubuhnya dari belakang dengan tangan kekarnya dan telapak tangannya mendarat pada pinggang Maya. Vansh pun semakin mencengkram tubuh mungil Maya ke dalam dekapannya.
'Astaga, ini keren sekali,' gumam Maya sambil menelan ludahnya dengan kasar. Jantungnya pun berdegup begitu kencang apalagi saat nafas hangat Vansh begitu terasa di wajahnya.
"Bagaimana? Sekarang sudah jauh lebih hangat kan?"
"Ya," jawab Maya lirih.
"Kenapa jantungmu berdetak cepat sekali?" tanya Vansh yang membuat Maya semakin gugup.
"Aku gugup, aku belum pernah pacaran. Ya kau tahu kan aku memang cantik dan banyak laki-laki yang menyukaiku sejak dulu, tapi aku tidak pernah menerima cinta mereka. Jadi aku belum pernah berpacaran, kau mengerti kan? Aku baru pernah disentuh oleh seorang laki-laki!" gerutu Maya saat Vansh melirik padanya dengan lirikan yang meledek.
"Hahahaha, jadi kau sangat mencintaiku dan menungguku, bahkan hidup dalam kenanganku selama bertahun-tahun hingga tidak pernah mau menerima cinta dari satu pun orang laki-laki lain?" tanya Vansh sambil terkekeh.
"Tidak seperti itu, aku hanya tidak mau membuka hatiku. Jika saja aku mau membuka hatiku, tentu aku sudah memiliki pacar. Sama sepertimu yang sudah begitu lama berpacaran dengan Queen," omel Maya.
__ADS_1
"Hahahaha, kau cemburu pada Queen?"
"Tidak!" jawab Maya ketus.
"Maya, mulai sekarang tolong jangan sebut nama Queen lagi. Aku sedang tidak ingin mengingatnya ataupun mendengar namanya," ucap Vansh yang membuat Maya begitu terkejut.
"Kenapa? Kenapa kau berkata seperti itu, Kak?"
"Tidak apa-apa, aku sedang ingin mendengar namanya saja saat sedang ingin bersamamu."
"Kau tidak membencinya kan?" tanya Maya sambil mengerutkan keningnya. Vansh pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku tidak membencinya, Sayang. Aku hanya tidak ingin kau menyebut namanya saat kita sedang bersama. Kita telah melewati masa-masa yang begitu berat dan itu tidaklah sebentar. Bisa dikatakan, saat-saat ini adalah saat-saat terindah dalam hidup kita berdua. Jadi, tolong jangan sebut nama dia kembali di saat-saat seperti ini. Kau mengerti kan?"
"Ya," jawab Maya sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak."
"Kalau begitu, makanlah terlebih dulu. Aku tidak ingin kau sakit," ucap Vansh sambil melepaskan pelukannya lalu beranjak dari sofa untuk mengambilkan peralatan makan untuk mereka berdua.
'Hangat sekali, hangat sekali sikap Vansh. Pantas saja Tante Reni mengatakan saat Queen bersamanya, dia selalu mendapatkan kasih sangat yang begitu besar dari Vansh. Aku mengerti sekarang, aku mengerti karena itulah Tante Reni berusaha menyatukanku dengan Vansh, dia pasti merasa sangat bersalah karena Queen telah melakukan hal curang pada kami berdua. Dan, sekarang aku pun mengerti kenapa Vansh sudah tidak mau mendengar nama Queen. Dia pasti merasa begitu sakit dan hancur karena orang yang selama ini dia anggap sebagai wanita yang baik dan sangat dia cintai ternyata telah membohonginya,' gumam Maya sambil mengigit bibir bawahnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Vansh yang membuyarkan lamunan Maya.
"Tidak, aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya sedikit mengantuk dan kelelahan," jawab Maya sambil meringis.
"Makan dulu! Nanti kau boleh tidur!" omel Vansh. Dia kemudian mengambilkan makanan untuk Maya. Mereka kemudian memakan makanan itu sambil tertawa dan bercanda gurau. Sesekali, Maya menyuapkan makanan pada Vansh begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
"Sudah selesai!" ucap Maya.
"Anak pintar! Sekarang masuklah ke kamarmu!" sahut Vansh. Namun Maya tetap duduk sambil menatap Vansh.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" gerutu Vansh.
"Kak Vansh, bisakah aku tidur bersamamu?" ucap Maya yang membuat Vansh terkejut.
"Astaga, wanita seperti apa kau ini Maya! Bukan Muhrim!" omel Vansh.
"Messum sekali, kau berpikiran terlalu jauh! Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku sebelum kita menikah. Aku juga tidak ingin disentuh olehmu. Aku hanya ingin tidur dalam pelukanmu, boleh kan?" tanya Maya sambil memainkan jarinya. Vansh pun tersenyum.
"Kau memang benar-benar gadis yang lancang!" omel Vansh sambil mengusap-usap rambut Maya.
"Baiklah, kalau tidak mau ya sudah!" Maya lalu bangkit dari sofa kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar tamu. Tapi, Vansh kemudian mencekal tangannya.
"Ayo, tidurlah bersamaku!" ucap Vansh. Mereka kemudian berjalan ke kamar Vansh dan merebahkan tubuh mereka berdua di atas ranjang. Vansh merentangkan tangannya lalu Maya masuk ke dalam dekapannya.
"Nyaman sekali," ucap Maya yang membuat Vansh tersenyum. Vansh pun mengusap-usap punggung Maya sambil mencium keningnya. Namun saat dia memanggil namanya, Maya sudah tidak lagi menyahutnya.
"Maya, Maya!" panggil Vansh. Dia kemudian menundukkan wajahnya lalu melihat Maya yang sudah tertidur pulas.
"Dasar gadis lancang, mudah sekali dia tidur. Seperti tidak ada beban saja," ucap Vansh sambil terkekeh. Dia kemudian membelai wajah Maya sambil merasakan sebuah perasaan hangat hangat yang ada di dalam hatinya.
"Entah rasa cinta apa yang kurasakan, rasanya sungguh berbeda dengan rasa cintaku pada Queen dulu," ujar Vansh sambil membelai wajah Maya. Dia pun menikmati pesona wajah cantik nan polos itu hingga tertidur.
"VANSH!!! VANSH!!" teriak seseorang di dalam rumah tersebut. Teriakan di pagi hari itu pun mengagetkan Maya dan Vansh yang masih tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain. Perlahan mereka pun membuka matanya.
__ADS_1
"Vansh siapa yang memanggilmu?" ucap Maya dengan begitu cemas. Apalagi saat ini mereka ada di dalam satu kamar dan di ranjang yang sama.