
Isakan pun kembali terdengar di ujung sambungan telepon yang membuat Maya dipenuhi oleh tanda tanya.
[Tante, kenapa Tante menangis? Ada apa dengan Queen? Apa aku bisa berbicara dengan Queen? Kami sudah lama tidak bertemu.]
[Maya, Queen.., Queen sudah meninggal satu tahun yang lalu karena penyakit kanker.] jawab suara di ujung sambungan telepon yang membuat Maya merasa begitu terkejut.
[Innalilahi, saya turut berdukacita cita, Tante.]
[Ya, terima kasih banyak. Maya, bisakah aku bertemu denganmu? Ada sesuatu yang ingin tante bicarakan, kalau kau bersedia menemuiku, aku akan memberikan alamatku padamu.]
[Iya Tante, tapi saya tidak janji besok bisa datang ke rumah Tante, mungkin lusa atau di lain kesempatan karena terus terang saja saya sedang sakit, tadi siang saya mengalami sedikit musibah kecil.]
[Oh tidak apa-apa May, kau bisa datang kapanpun kau mau.]
[Iya Tante,.]
[Sekali lagi tolong maafkan Queen.]
[Iya Tante tidak apa-apa.]
[Terimakasih banyak Maya.]
[Iya Tante.] Maya kemudian menutup teleponnya. Tanpa dia sadari, air mata pun jatuh membasahi wajahnya saat dia menutup telepon itu.
'Queen, sudah dua belas tahun kita tidak pernah bertemu, dan kini aku mendengar kau sudah tiada. Queen, apapun yang pernah terjadi diantara kita, aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang musuh. Aku tetep menyayangimu sebagai seorang sahabatku,' gumam Maya.
Dia kemudian melihat liontin yang ada di tangannya. 'Tuhan, kenapa luka masa lalu itu harus kembali terbuka? Takdir apa yang akan kujalani selanjutnya? Apakah aku harus bertemu dengan masa laluku setelah belasan tahun aku hidup dengan kenangan yang kusimpan sendiri?' gumam Maya.
Dia kemudian menempatkan liontin itu di dadanya. "Ksatriaku, apakah setelah kejadian itu kau masih hidup? Apakah aku harus keluar dari trauma masa lalu dan mencarimu untuk mengembalikan liontin ini padamu? Ah, kenapa aku begitu pengecut? Kenapa aku baru melakukan hal ini setelah mendengar Queen telah tiada? Tidak, aku tidak akan mencarimu. Begitu banyak kemungkinan yang terjadi, dan aku pasti tidak akan sanggup jika harus menerima kenyataan ternyata kemungkinan terburuk yang terjadi padamu setelah kejadian di hari itu."
__ADS_1
Maya lalu menghapus air matanya. "Lebih baik, aku membuat kue untuk Si Tuan Dingin itu biar dia tidak menyepelekanku. Aku tidak mau membuka masa laluku lagi, karena bagiku kau hanyalah kenangan, dan biarkan aku hidup bersama dengan kenanganmu, Ksatriaku."
...***...
Vansh dan Sharen berjalan beriringan menuju ke meja makan. Tampak di meja makan tersebut, sanak saudara mereka sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangan mereka untuk bergabung di meja makan itu. Saat Vansh dan Maya duduk di meja makan, beberapa diantara mereka pun langsung menggoda Vansh dan Sharen.
"Pengantin baru, sebenarnya apa saja yang kalian lakukan di dalam kamar? Kenapa kalian lama sekali?" goda seorang wanita paruh baya yang duduk tak jauh dari kursi Inara.
"Tante, tadi Sharen baru saja mandi, jadi saya menunggu Sharen selesai mandi."
"Bilang saja kau yang memandikan, Sharen!" sahut yang lain yang membuat semua orang yang ada di meja makan itu tertawa kecuali Inara dan Abimana yang saling bertatapan. Sharen pun memandang Vansh disertai senyum getir. "It's okay," bisik Vansh.
Mereka kemudian melanjutkan makan malam disertai candaan yang banyak mengarah pada Vansh dan Sharen yang membuat keduanya kini semakin terlihat salah tingkah. Setelah selesai makan malam, saat Sharen dan Vansh akan kembali ke kamar, tiba-tiba salah seorang diantara mereka mencegahnya.
"Kenapa kalian terburu-buru sekali, Vansh apakah kau sudah tidak sabar untuk menyentuh istrimu lagi? Bukankah sebelum makan malam kalian sudah melakukan itu? Lihat, rambut kalian saja masih basah dan kalian sudah tidak sabar melakukan itu kembali? Kalian ini," ujar salah seorang keluarga Inara. Vansh dan Sharen pun saling berpandangan kemudian sebuah senyuman kecil pun kini menghiasi bibir mereka.
"Lebih baik kalian ngobrol dengan kami disini terlebih dulu. Kami juga ingin mengenalmu, Vansh. Kami dengar kau itu putra dari Kenan?"
"Luar biasa, aku benar-benar tidak menyangka jika keluarga kita bisa berbesan dengan salah satu orang terkaya di negeri ini. Hahahaha," kata wanita itu kemudian tertawa diiringi raut wajah yang begitu bahagia dan membuat semua keluarga yang ada di ruangan itu menatap Vansh dan Sharen.
"Kau benar-benar beruntung Sharen," sahut yang lain.
"Ayo kalian duduk bersama kami dulu!" perintah mereka yang membuat Vansh dan Sharen tak kuasa menolaknya. Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Sharen, jangan terlalu jauh. Lebih dekat, mereka bisa curiga jika gerak gerikmu seperti itu!" bisik Vansh. Sharen lalu mendekatkan tubuhnya lebih dekat ke samping Vansh.
"Kenapa kalian kaku sekali? Santai saja jika kalian ingin duduk sambil bermesraan!"
"Tidak Tante, kami sudah terbiasa seperti ini."
__ADS_1
"Kau benar-benar payah, Sharen!" gerutu wanita paruh baya itu. Sharen dan Vansh pun saling berpandangan sambil tersenyum. Sementara Abimana dan Inara hanya bisa saling berpandangan sambil menahan perasaan yang begitu campur aduk.
"Abimana, kita benar-benar telah merepotkan Vansh."
"Iya Inara, aku merasa kasihan Vansh harus menjalani semua sandiwara ini. Aku juga tidak menyangka jika saudaramu cerewet sekali, Inara. Mereka selalu saja menggoda Vansh dan Sharen."
"Itulah yang membuatku merasa sungkan karena sudah begitu merepotkan Vansh."
"Aku juga, tapi untungnya Vansh laki-laki dewasa yang memahami tentang semua itu."
"Ya, dia sangat dewasa."
"Lihat itu, lihat itu Inara," kata Abimana saat melihat Sharen yang kini menempelkan kepalanya di atas bahu Vansh. Inara pun begitu terkejut melihatnya.
"Kelakuan saudaramu itu benar-benar merepotkan!" gerutu Abimana. Sementara Sharen yang kini sedang bersandar di bahu Vansh tampak sedang membisikkan sesuatu.
"Kak Vansh kita tidak bisa berlama-lama seperti ini, buatlah alasan agar kita bisa kembali ke kamar."
"Kita tunggu sebentar Sharen, bukankah kau tau mereka akan semakin menggoda kita jika kita langsung masuk ke dalam kamar."
"Tapi aku gugup, Kak. Aku tidak biasa bermesraan dengan seorang lelaki, apa kau tau, seluruh tubuhku rasanya seperti bergetar dan tanganku sangat dingin."
"Dingin?"
"Ya."
"Berikan tanganmu, biar kuhangatkan."
NOTE:
__ADS_1
Mampir ke karya bestie othor juga ya, punya Kak Chika Ssi judulnya TKI (Tenaga Kerja Indehoy) dijamin ceritanya keren banget