
Vansh kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Tante Calista.]
[Halo Vansh, bagaimana keadaanmu?]
[Aku? Aku baik-baik saja, Tante. Ada apa?]
[Benar kau tidak apa-apa kan? Apa kau merasa ada yang mengganggmu?]
[Tidak, tidak ada yang mengganguku.]
[Benarkah?]
[Tentu saja. Apa sebenarnya maksud Tante?]
[Oh tidak, Vansh. Hanya saja tadi Dennis mengatakan sesuatu yang membuat Tante sedikit mencemaskanmu.]
[Dia berkata apa, Tante?]
[Emh, dia mengatakan jika dia melihat hantu di rumahmu.]
[Apaaaaa? Hantu? Hahahaha, ada-ada saja. Tidak ada hantu di sini, Tante. Mungkin hanya perasaan Dennis saja. Tante tau sendiri kan, dia memang sedikit berlebihan.]
[Iya Vansh. Kau tidak apa-apa kan?]
[Tidak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tante.]
[Baik Vansh, hati-hati sayang. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bilang saja pada Laras karena saat ini tante sedang menemani Clarissa yang sedang hamil muda, dia mengalami nyidam yang sedikit parah jadi tante harus menemaninya di apartemen.]
[Iya Tante, aku mengerti. Tante tenang saja, tidak usah terlalu memikirkanku.]
[Iya Vansh.] Calista kemudian menutup teleponnya.
"Ada apa Calista?" tanya Leo yang mendekat pada Calista yang saat ini sedang berdiri di balkon apartemen Nathan.
"Vansh," jawab Calista.
"Ada apa dengan Vansh? Apa dia terpuruk lagi?"
"Bukan, Leo. Tadi Laras meneleponku dan mengatakan jika ada hantu di rumah Olive. Aku merasa sangat khawatir, jadi aku menelepon Vansh. Tapi saat aku menelepon Vansh, dia tidak mengatakan apapun. Bahkan sepertinya dia merasa terkejut saat aku menanyakan tentang keberadaan hantu di rumahnya."
"Calista, kau tahu sendiri kan bagaimana itu Dennis? Apa menurutmu dia bisa dipercaya?"
Calista lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah, lebih baik tidak usah dipikirkan, Sayang. Untuk saat ini, lebih baik kau mengurus Clarissa saja. Vansh sudah dewasa, dia pasti bisa mengurus keperluannya sendiri."
"Tapi, Leo. Coba kau pikir baik-baik, untuk apa Dennis tiba-tiba mengatakan seperti itu jika tidak punya maksud tertentu."
Leo tampak mengerutkan keningnya. "Kau benar juga Calista, dia pasti punya maksud tertentu saat mengatakan seperti itu. Memangnya kapan dia mengatakan hal itu pada Laras?"
"Tadi, tadi saat Laras akan masuk ke rumah Olive. Laras ingin bertemu dengan Vansh, tapi Dennis mencegahnya dan mengatakan jika ada hantu di rumah itu. Sedangkan, kau tau kan kalau Laras sangat penakut. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Vansh."
__ADS_1
"Astaga, benar-benar permainan anak nakal," ucap Leo sambil tersenyum.
"Apa maksudmu, Leo?"
"Calista, apa Dennis masih bekerja untuk Kenan?"
"Tentu saja, bukankah kau tahu Dennis sekarang jadi content creator di perusahaan Kenan. Tentu saja Kenan selalu memberi gaji untuk Dennis, tapi biasanya Vansh juga memberikan uang tambahan jika membutuhkan bantuan."
"Hahahaha... Hahahaha."
"Kenapa kau tertawa, Leo?"
"Ini hal yang sangat mudah, Calista. Dennis pasti mengatakan jika rumah Kenan berhantu karena ada yang dia tutupi. Dan dia melakukan semua itu pasti atas perintah dari Vansh."
"Perintah Vansh? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan dan dengan jalan pikiranmu, Leo."
"Calista, coba kau pikir baik-baik. Beberapa hari ini Vansh tampak berubah, dia tidak lagi menjadi Vansh yang murung seperti saat dia baru saja pulang dari Ausie. Dia bahkan jarang sekali pulang ke rumah, padahal biasanya dia selalu menyendiri di dalam kamar. Lalu tiba-tiba, tadi malam dia mengatakan jika dia ingin pindah ke rumah lamanya. Aku yakin pasti sesuatu telah terjadi pada Vansh."
"Maksudmu dia sudah mulai membuka hatinya untuk wanita lain?"
"Ya, tepatnya dia sudah punya pacar. Dan dia pasti sedang menyembunyikan pacarnya itu di dalam rumahnya. Aku sebenarnya tidak tahu apa maksud dari Vansh, tapi aku yakin dia melakukan semua itu pasti karena sebuah alasan. Aku juga yakin, Vansh masih seperti Vansh yang dulu, sepertinya dia tidak mungkin melakukan hal yang di luar batas dengan pacarnya itu. Tapi dia tidak ingin ada yang tahu jika dia sedang bersama pacarnya itu, jadi dia menyuruh Dennis untuk berbohong sekaligus untuk menutupi agar tidak ada yang tahu jika dia ada di rumah itu dengan pacar barunya."
"Sepertinya kau benar, Leo. Tidak mungkin Dennis berbohong tanpa memiliki tujuan tertentu. Pasti dia melakukan semua itu agar tetap mendapatkan uang tambahan dari Vansh. Anak itu memang benar-benar nakal, dia tahu Laras sangat takut pada hantu jadi dia sampai membuat karangan tentang hantu seperti itu. Dia memang sangat konyol," ujar Calista sambil terkekeh.
"Kau tahu sendiri kan bagaimana Dennis? Sama anehnya dengan Laras saat dia masih muda."
"Hahahaha Leo, kau tidak boleh berkata seperti itu. Lalu bagaimana, apakah aku harus menceritakan tentang semua ini pada Olivia?"
"Baiklah."
Saat baru saja selesai berbicara. Tiba-tiba ponsel Leo pun berbunyi. "Siapa Leo?"
"Kenzo," jawab Leo.
...***...
"Maya, sebaiknya kau mulai mempertimbangkan untuk keluar dari perusahaan Kenzo?" ucap Vansh saat mereka sudah selesai sarapan di sebuah cafe.
"Apa maksudmu, Kak? Kalau aku keluar dari perusahaan Kenzo, darimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya hidup?"
"Apa kau sudah lupa, sebentar lagi kau akan menjadi istriku? Kau tidak usah memikirkan semua itu."
"Istri?" ucap Maya sambil terkekeh.
"Jadi kau tidak mau menikah denganku?" gerutu Vansh.
"Tentu saja mau, Kak? Tapi apa ini tidak terlalu cepat?"
"Terlalu cepat? Memangnya kau pikir dua belas tahun itu waktu yang singkat?"
"Hahahaha, hahahahaha."
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa? Jadi kau benar-benar tidak mau menikah denganku?"
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Bagaimana jika mereka tidak setuju kau menikah denganku? Bagaimanapun kita berbeda Kak. Mungkin kita butuh waktu untuk menyakinkan kedua orang tuamu."
"Orang tuaku pasti setuju."
"Kau pikir begitu?"
"Memang seharusnya begitu, aku sudah dewasa dan berhak menentukan masa depanku, termasuk dengan siapa aku menikah."
"Semoga saja orang tuamu memiliki pemikiran yang sama sepertimu."
"Jadi kau pesimis dengan hubungan ini?"
"Entahlah," jawab Maya lirih.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengamati mereka berdua. "Bukankah itu Maya? Maya dengan Kak Vansh? Bukankah Maya mengatakan jika dia ijin beberapa hari karena sakit? Kenapa sekarang dia ada di sini? Memang ada luka di kepalanya, tapi kenapa tiba-tiba dia bersama dengan Kak Vansh? Mereka juga sepertinya tampak akrab. Apakah ada sesuatu diantara mereka berdua?" gerutu Kenzo sambil mengamati Vansh dan Maya yang kini duduk tidak jauh dari tempat Maya dan Vansh.
"Mungkin sebaiknya aku menghubungi Om Leo? Ya mungkin sebaiknya aku menghubungi Om Leo saja," ucap Kenzo. Dia kemudian mengambil ponselnya.
NOTE:
Bulan kemarin othor kan udah janji mau bagi-bagi G.A buat yang rajin komen ya. Hari ini othor mau kasih pengumuman pemenang G.A yang selalu rajin komen selama satu bulan terakhir ya.
Pemenang G.A uang tunai 50 ribu:
Linda Purwanti
Indah Okiana
Pemenang pulsa 20 ribu.
1.Whywhite Asieh
Diana Susanti
Pemenang langsung hubungi akun medsos othor ya, langsung aja inbox.
IG: queenweny
FB: Weny Hida
Terima kasih banyak ya, yang udah selalu nyimak kisah ini. G.A selanjutnya othor umumin besok, tetap semangat dan ikuti kisah ini. Love you all 🥰❤️😘
__ADS_1