
Setelah mengamati rumah Zack, Nala kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Saat dia memasuki rumah itu, tampak Calista sedang duduk di depan televisi bersama Leo.
"Nala, kau darimana?" panggil Calista saat melihat Nala berjalan memasuki rumah.
"Seharian aku menemani Tante Olivia di rumah sakit. Mama aku sangat kasihan pada Laurie, keadaannya sangat memprihatinkan."
"Iya, mama tahu itu. Kami pun merasa sangat prihatin pada Laurie, kami tidak menyangka dia akan memiliki nasib yang sedikit buruk bertemu dan dicintai oleh laki-laki seperti Zack."
"Iya Ma, jangan sampai aku juga dicintai oleh laki-laki seperti dia, ih amit-amit jabang bayi," gerutu Nala.
"Nala, tidak baik berkata seperti itu."
"Kenapa Ma, laki-laki seperti itu memang layak dihujat. Mama, memangnya papa tidak bisa menolong Laurie? Bukankah papa juga punya banyak anak buah, Ma?"
"Tidak semudah itu Nala. Jaringan mereka sangat kuat, bahkan ada beberapa petinggi yang melindungi Zack. Dia memiliki kunci perdagangan di kawasan Asia timur, dia bukan lawan yang mudah Nala," jawab Leo.
"Sudah Nala, lebih baik kau masuk ke dalam kamarmu lalu bersihkan tubuhmu. Setelah itu kami tunggu kau di meja makan, kita sudah lama tidak makan malam bersama kan?"
"Mama benar, oke baiklah kalian pasti sangat merindukanku kan?"
__ADS_1
"Tentu saja sayang, orang tua mana yang tidak merindukan putrinya. Apalagi kau sudah lama hidup di Prancis."
Mendengar perkataan Calista, Nala pun tampak menundukkan wajahnya. "Maaf ma aku sudah banyak membuang waktuku untuk kalian gara-gara laki-laki sialan itu. Kupikir dia laki-laki yang baik, aku sampai membuka usaha untuk kami berdua di Paris karena kupikir di benar-benar serius denganku! Aku sungguh sangat menyesal pernah memiliki hubungan dengan laki-laki seperti Alvin!" gerutu Nala.
"Sudahlah sayang tidak usah disesali, yang penting sekarang kau sudah bebas dari laki-laki seperti itu. Tuhan sudah sangat baik membuka aib Alvin sebelum kalian menikah, kalau kalian sudah menikah di sana, lain lagi ceritanya Nala. Tentu akan sangat merepotkan bagimu memiliki suami seperti dia."
"Iya Mama benar, kalau begitu Aku masuk dulu ke dalam kamar, tunggu aku di meja makan."
"Iya sayang," jawab Calista sambil menatap Nala yang sedang berjalan memasuki kamar.
Sedangkan Nala yang saat ini berjalan masuk ke dalam kamarnya tampak berjalan sambil memikirkan sesuatu. Dia masuk ke dalam kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil berusaha mencari ide untuk esok hari. Saat dia selesai menggosok giginya, Nala tampak menatap cermin yang ada di depannya.
"Aha aku punya ide, lebih baik nanti kubicarakan saja dengan papa saat makan malam," ucap Nala. Setelah itu, dia menyalakan shower lalu mulai membasahi tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Nala yang sudah selesai mandi keluar dari kamarnya lalu mendekat ke arah Leo dan Calista yang saat ini ada di meja makan tengah menunggu dirinya. "Maaf lama menunggu," ucap Nala sambil meringis.
"Tidak apa-apa sayang," Jawab Calista.
"Tapi perut Papa sudah lapar," sahut Leo yang hanya dijawab kekehan oleh Nala. Mereka kemudian menikmati makan malam bersama.
__ADS_1
"Papa!" Panggil Nala setelah mereka selesai makan malam.
"Ada apa Nala?"
"Ada yang ingin ku bicarakan Pa."
"Kau mau bicara apa?"
"Papa bolehkah aku besok minta bantuan pada teman-teman Papa?"
"Teman-temanku? Maksudmu anak buahku?"
"Iya Pa."
"Memangnya kamu mau apa Nala?"
"Begini Pa, aku hanya ingin mengerjai Alvin. Boleh kan aku minta bantuan pada anak buah papa?" dusta Nala.
"Oh kalau begitu boleh saja, kau hubungi saja Reza."
__ADS_1
"Wow papa memang terbaik, terima kasih banyak Pa," jawab Nala sambil tersenyum menyeringai. Dia pun kemudian terkekeh mengingat rencananya yang akan dia jalankan esok hari untuk mulai mengerjai Zack.