
Mendengar perkataan Nala, Zack pun terdiam. Nala yang melihat perubahan raut wajah Zack kemudian meralat ucapannya, meskipun Zack sudah mengatakan kalau dia mengikhlaskan Laurie, tapi Nala masih merasa cemas kalau saja masih ada dendam di hati Zack.
"Kenapa anda jadi diam seperti itu, Tuan Zack? Aku hanya sedang bercanda, tidak mungkin kan mereka mencintai satu sama lain? Bukankah mereka belum pernah bertemu? Saat Nyonya Laurie baru saja sadar dari komanya, bukankah dia langsung melarikan diri? Bagaimana mungkin dia bisa bertemu dengan Alvaro? Iya kan?"
Zack kemudian menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Kau benar Caca, mereka tidak mungkin menyukai satu sama lain karena saat Laurie sadar dari komanya, dia langsung melarikan diri dan belum sempat bertemu ataupun mengenal Alvaro."
"Iya anda benar Tuan, mereka tidak mungkin mengenal. Jadi anda tidak perlu khawatir kalau Laurie dan Alvaro akan jatuh cinta."
"Emh.., Caca sudahlah tidak usah membicarakan mereka. Sekarang bagaimana keadaanmu? Apa kau masih sedih karena mengingat Alvaro mu itu?"
"Tentu saja saya masih merasa sakit Tuan Zack, perasaan saya masih sangat sakit kalau mengingat patah hati yang sering saya alami akhir-akhir ini. Bukankah saya sudah pernah bercerita pada anda kalau dalam waktu dekat ini saya tidak hanya satu kali mengalami patah hati, tapi dua kali."
Mendengar perkataan Nala, Zack pun terkekeh. "Kenapa kau bodoh sekali? Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau wanita cantik yang menarik? Kenapa kau tiba-tiba jadi sering dipermainkan oleh laki-laki seperti ini?"
"Itulah alasannya Tuan Zack, karena saya terlalu cantik dan menarik, jadi saya begitu mudahnya dibodohi oleh laki-laki."
"Absurd sekali, itu sama sekali tidak ada hubungannya," balas Zack.
"Terserah saya tuan Zack memang saya cantik dan menarik jadi membuat orang yang mengenal saya merasa gemas pada saya."
Zack kemudian menghembuskan nafasnya, mendengar ocehan Nala benar-benar membuatnya merasa pusing. Dia kemudian lalu menatap Nala yang saat ini mulai terlihat tenang. "Bagaimana, apa sekarang kau jauh lebih tenang?" Nala kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ya, mau tidak mau aku harus bisa mengendalikan emosiku. Mau bagaimana lagi? Memang aku harus menerima kenyataan ini. Alvaro tidak menyukaiku dan lebih menyukai sepupuku, meskipun rasanya sungguh berat saat membayangkan kalau mereka menikah. Dan aku hadir di acara pernikahan tersebut, tentu hal yang tidak mudah."
__ADS_1
Nala kemudian mengambil nafasnya, lalu menghembuskannya perlahan. "Coba anda bayangkan Tuan, aku pernah menyatakan cintaku pada Alvaro. Lalu dia menikah dengan sepupuku, bagaimana menurutmu? Bukankah itu sangat memalukan dan menyedihkan?"
Zack menganggukkan kepalanya, sebenarnya dia ingin tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Nala tapi dia mencoba untuk menahan tawanya agar wanita itu tidak menangis lagi karena dia tidak mau gendang telinganya rusak mendengar tangisan Nala seharian penuh. "Kenapa anda hanya mengangguk-angguk? Menurut anda bagaimana kalau suatu saat Alvaro dan saudara sepupuku menikah, apa yang harus kulakukan?"
"Kenapa kau berpikir sejauh itu, menjalin hubungan bukankah tidak selalu berakhir pada jenjang pernikahan? Bisa saja mereka hanya berpacaran, lalu putus di tengah jalan."
"Sayangnya sepupuku bukan orang yang seperti itu, dia selalu serius dalam menjalani hubungan. Begitu pula Alvaro, jika dia mencintai seseorang, akan sangat sulit dia melupakan orang itu. Bahkan sebelum berpacaran dengan sepupuku dia pernah menyukai seorang wanita hingga sepuluh tahun lamanya meskipun dia selalu ditolak, tapi tetap saja Alvaro menyukai wanita itu. Jadi kesimpulannya, aku yakin mereka pasti akan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Lalu, aku harus bagaimana Tuan Zack?"
"Kau harus bisa move on! Coba kau bawa laki-laki lain saat mereka menikah. Tunjukkan kalau kau juga bisa move on, Ca!"
"Tapi siapa? Hampir semua teman laki-lakiku kebanyakan sudah memiliki pacar. Bagaimana kalau aku dianggap pelakor? Tambah hancur reputasi saya, Tuan!"
"Baiklah, kalau begitu denganku saja. Aku akan berpura-pura menjadi kekasihmu saat mereka menikah. Bagaimana? Kau mau kan Ca?"
"Caca, kenapa kau diam?"
"Tidak apa-apa, Tuan lebih baik kita tidak membicarakan hal itu. Sepertinya itu terlalu menyakitkan bagi saya."
"Baiklah kalau itu maumu, tapi kau tenang saja. Aku akan selalu membantumu kapanpun kau membutuhkan bantuanku," jawab Zack. Nala pun tersenyum kecut, sungguh dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Alvaro dan Laurie menikah, lalu dia datang bersama Zack ke acara pernikahan tersebut.
"Tuan, bukahkah tadi anda lapar? Bagaimana kalau anda saya suapi sekarang? Anda pasti kesulitan untuk makan kan?"
"Ya, aku memang lapar. Dan aku belum sempat makan karena sibuk melihatmu menangis."
__ADS_1
"Maafkan saya." Nala kemudian mengambil makanan yang disediakan rumah sakit, lalu menyuapkan makanan itu. Tapi, karena Nala yang sejak kecil tak merasakan hidup susah dia pun merasa kesulitan saat menyuapi Zack. Bahkan tangannya pun terlalu dalam memasukkan sendok hingga membuat Zack tersedak. Seluruh makanan yang Zack makan akhirnya keluar dan mengotori pakaiannya.
"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, Caca! Dasar wanita siluman!"
'Oh tidak, ini benar-benar bencana,' batin Nala.
***
Sementara itu Laurie dan Alvaro yang saat ini sudah berada di rumah lama Firman tampak baru saja selesai membereskan barang-barang mereka ke dalam kamar masing-masing.
"Apa kau lapar, Laurie? Kalau kau lapar, aku akan memasakkan makanan untukmu," ucap Alvaro saat mereka duduk di atas sofa.
"Aku belum lapar Alvaro, aku hanya ingin istirahat sebentar."
"Iya Laurie, kalau begitu kau istirahat saja di kamar."
"Tidak, aku istirahat di sini saja. Alvaro sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Kau mau tanya apa Laurie?"
"Alvaro, aku mau tanya bagaimana kalau ternyata Zack sudah melepaskan aku. Apa kita akan kembali ke kota sekarang?"
"Tentu saja tidak Laurie, kita harus melihat sampai situasinya aman."
__ADS_1
"Lalu kalau situasinya sudah aman, bagaimana hubungan kita? Apa hanya sebatas mantan dokter dan pasiennya saja?"