
"Oh Luna!" ucap Vallen saat melihat Luna yang saat ini berdiri di ambang Pintu rumahnya.
"Oh ternyata ada tamu, maaf jika saya mengganggu, Dokter Vallen."
"Tidak Nak," sahut Delia.
"Kau sama sekali tidak mengganggu. Kami hanya sedang membicarakan hal ringan. Silahkan, silahkan duduklah bersama kami, Nak."
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja Luna. Ayo duduk!" perintah Vallen sambil menepuk sofa, memberi kode pada Luna untuk duduk di sampingnya.
"Iya Dokter," jawab Luna. Dia lalu memasuki rumah itu kemudian duduk di samping Vallen.
"Luna, ini tamu tante. Perkenalkan, ini Tante Aini, Tante Delia, dan Om Dimas."
Luna lalu menyalami ketiga tamu Vallen, baru kemudian duduk di samping Vallen.
"Perkenalkan, dia Luna. Dia tinggal di rumah samping kananku. Luna, ada apa?" tanya Vallen setelah memperkenalkan Luna pada mereka.
"Sekali lagi, maaf jika kehadiranku mengganggu kalian. Sebenarnya begini Dokter Vallen, sejak tadi pagi, aku merasa perutku sangat tidak nyaman. Apa ini masih ada kaitannya dengan flek yang kualami beberapa waktu yang lalu?"
Vallen tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Apa kau sedang memikirkan sesuatu yang berat, Luna?"
Mendengar perkataan Vallen, Luna menundukkan kepalanya. "Kau kenapa, Luna? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak apa-apa."
"Apa suamimu berulah lagi?"
"Tidak."
"Lalu, kenapa kondisimu menurun lagi? Apa yang menyebabkan kau seperti ini?"
"Maaf Dokter, sebenarnya aku malu mengatakan ini," ucap Luna sambil meneteskan air matanya.
"Nak, kau kenapa? Kalau kau sedang hamil, kau sebaiknya jangan seperti ini. Jangan terlalu banyak berfikir, Nak."
Luna menyangkat kepalanya, lalu menatap Vallen dan Delia yang saat ini menatapnya.
__ADS_1
"Maaf."
"Kenapa harus minta maaf lagi, Nak? Memangnya ada apa?"
"Maaf jika aku sudah mengganggu kalian, dan bersikap seperti ini di depan kalian. Tapi sungguh, sebenarnya aku tidak ingin mengumbar masalah yang terjadi pada rumah tanggaku."
"Luna, kau belum mengatakan apapun. Jadi, tolong jangan bicara seperti itu. Kau tidak perlu sungkan, Nak. Kalau kau mau, sekarang kau ceritakan apa yang terjadi? Apa yang sudah mengganggu pikiranmu, Luna?" ucap Delia.
"Sebenarnya aku mengkhawatirkan nasib anakku. Terus terang saja, sebenarnya suamiku saat ini sudah bertunangan dengan seseorang. Dan, itu sangat membuatku takut. Aku tidak takut kehilangannya, tapi aku hanya takut dengan masa depan anak yang ada di dalam kandunganku."
"Aku tahu itu, aku tahu dia sudah memiliki tunangan Luna. Kupikir, dia sudah memutuskan pertunangannya dengan wanita itu saat sudah menikah denganmu," potong Vallen.
"Sebenarnya, apa yang sedang kalian bicarakan? Luna, apa maksudmu? Jadi, kau menikah dengan seorang lelaki yang sudah menjadi milik orang lain?" tanya Aini sambil mengerutkan keningnya.
"Emhhh, Aini. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Suami Luna, bertunangan dengan seorang wanita karena dijodohkan oleh keluarganya, tapi sebelum pertunangan itu, Luna sudah mengandung terlebih dulu. Jadi, ini bukan kesalahan dari Luna."
"Dasar laki-laki kurang ajar! Tega-teganya menghamili seorang wanita lalu bertunangan dengan wanita lain!" gerutu Delia.
"Ya, dan untungnya aku memaksa laki-laki itu untuk menikahi Luna!"
"Kau benar, Vallen. Laki-laki seperti itu memang harus diberi pelajaran."
"Pelajaran? Pelajaran apa Dokter Vallen?"
"Memberi pelajaran agar dia bisa tegas memutuskan pertunangan dengan wanita itu, Luna. Dia harus sepenuhnya bertanggung jawab atas kau, dan bayi yang ada di dalam kandunganmu!"
"Pelajaran yang bagaimana, Dokter?"
"Nanti akan kuberi tahu. Luna, sebaiknya sekarang kau istirahat saja. Besok kita mulai rencana untuk memberi pelajaran pada suamimu. Sekarang beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu! Tolong jangan berfikir terlalu berat, pikirkan kandunganmu. Kau mengerti kan?"
"Iya Dokter."
"Luna, kalau kau ingin membutuhkan bantuan. Jangan segan untuk minta tolong pada kami," sahut Aini.
"Iya Tante, terima kasih."
"Luna, berapa usiamu? Sepertinya kau masih sangat muda?" sambung Delia.
"Usia saya? Oh, usia saya 20 tahun, dua bulan lagi genap 21 tahun. Tahun ini saya baru saja menamatkan diploma saya dan mengambil jurusan kesekretarisan, dan langsung bekerja di kantor suami saya."
__ADS_1
"Oh, usiamu sama seperti putriku. Putriku yang hilang," sahut Delia sambil meneteskan air matanya. Dimas yang melihat Delia yang kini mulai meneteskan butiran bening dari sudut matanya, lalu menggenggam tangannya.
"Kita pasti akan menemukan putri kita."
Luna yang melihat pemandangan yang ada di hadapannya hanya bisa menatap Delia dengan tatapan pilu.
"Tegarkan hatimu, Tante. Saya yakin, suatu saat Tante pasti bisa bertemu dengan anak Tante."
"Iya, Luna."
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Maaf jika kedatangan saya sudah mengganggu kalian."
"Tidak Luna, kami tidak terganggu," jawab Vallen.
"Iya, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Luna sambil berpamitan pada mereka semua.
Luna lalu pergi dari rumah itu. Sedangkan Vallen kemudian menatap Delia yang masih terisak.
"Jadi, kalian belum mendapat kabar sedikitpun dari putri kalian yang hilang?"
Delia lalu menggelengkan kepalanya dengan lemas. "Belum, Vallen," jawab Dimas.
"Karena itulah tujuan kami datang ke sini, Vallen. Kami ingin kau untuk membantu kami," kata Aini.
"Membantu? Membantu kalian? Memangnya aku bisa apa untuk membantu kalian?"
"Begini, Vallen. Bukankan kau seorang dokter? Apa kau tidak bisa menanyakan ke beberapa rumah sakit, klinik atau puskesmas tentang informasi seorang bayi dua puluh tahun silam. Sebenarnya, saat putri kami hilang, dia sedang sakit."
"Terus terang saja, kami sudah menyelidiki kejadian ini pada pihak stasiun, tapi saat itu pihak stasiun tidak tahu ada bayi yang hilang di dalam gerbong kereta," sambung Dimas.
"Jadi tidak ada jejak sama sekali saat bayi kalian hilang? Lalu, pihak stasiun juga tidak tahu ada bayi di dalam kereta? Jadi itu artinya, ada seseorang yang mengambil bayi kalian setelah Delia tidak sengaja meninggalkan bayi itu?"
"Iya Vallen, itulah sebabnya kami tidak memiliki jejak sama sekali. Dan saat kami meminta data bayi pada rumah sakit terdekat, mereka tidak mau memberi tahu informasi sedikitpun tentang data pasien. Jadi, itulah sebabnya kami meminta tolong padamu untuk membantu kami mencari tahu keberadaan anak kami dengan menanyakan hal itu pada rumah sakit karena kau tentunya memiliki wewenang untuk itu karena kau adalah seorang dokter."
"Bagaimana Vallen? Apakah kau mau membantu kami?" tanya Delia penuh harap.
"Tentu saja, aku akan membantu kalian. Emh, begini. Apa kalian punya foto anak kalian saat baru lahir?"
"Oh ya, sebenar. Akan kuambilkan di dalam mobil," jawab Delia. Delia kemudian keluar dari rumah menuju ke mobilnya. Namun, saat dia sedang berjalan tiba-tiba netranya tertuju pada seorang laki-laki yang baru saja turun dari mobil di rumah samping kanan Vallen.
__ADS_1
"Devano? Apakah dia Devano? Mengapa Devano ada di rumah Luna?"