Bed Friend

Bed Friend
Interogasi


__ADS_3

Sharen pun membalikkan tubuhnya dan melihat Vansh yang sudah berdiri di belakangnya. "Kau mau pergi kemana, Sharen? Bukankah ini sudah malam?"


"Ja... Jadi kau bisa berbicara? Kau tidak bisu?"


Vansh pun mengerutkan keningnya sambil menatap Sharen dengan tatapan penuh tanda tanya. "Bisu?"


"Ya, bukankah kau bisu?"


"Sembarangan sekali kau!" gerutu Vansh.


"Bukannya aku yang sembarangan tapi kau sendiri yang membuat dirimu seolah-olah terlihat bisu!" jawab Sharen dengan ketus.


"Aku tidak mau berdebat denganmu, lebih baik kita masuk sekarang!"


"Kau tidak punya hak untuk mengurus hidupku karena aku juga tidak mengenalmu!"


"Sebenarnya aku juga tidak ingin mengurusimu tapi tadi Tante Calista memintaku agar menjagamu agar tidak pergi dari rumah ini, Tante Calista ingin kau beristirahat karena dia sangat mengkhawatirkan kondisimu, jadi lebih baik kau masuk ke dalam!" perintah Vansh.


"Bagaimana jika aku tidak mau, aku tidak yakin jika Tante Calista yang menyuruhmu!"


"Baik, jika kau tidak percaya, aku akan menelepon Tante Calista sekarang juga!"


Vansh lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, saat Vansh mengutak-atik ponselnya, Sharen pun buru-buru mencegah Vansh menelepon Calista.


"Tidak, tolong jangan telepon Tante Calista, aku tidak mau dia mengkhawatirkanku. Baik, aku akan masuk ke dalam rumah sekarang juga," ucap Sharen.


"Bagus, sekarang masuklah dan jangan membuatku repot karena keberadaanmu!" bentak Vansh sambil meninggalkan Sharen yang masih berdiri di samping mobil.


Sharen pun mengikuti langkah Vansh masuk ke dalam rumah dengan perasaan begitu dongkol. 'Menyebalkan sekali berhadapan dengan manusia batu seperti dia, terpaksa aku mengikuti kata-katanya kerena aku tidak ingin dia melaporkan pada Tante Calista yang akan membuatnya curiga padaku,' gumam Sharen sambil memasuki rumah itu.

__ADS_1


...***...


Calista lalu menatap Maya sambil tersenyum. "Hai, aku Calista, ini putraku Nathan dan suamiku, Leo," ujar Calista pada Maya.


"Namamu Maya kan?" tambah Calista lagi. Maya pun menganggukkan kepalanya.


"Jangan takut Maya, kami tidak bermaksud jahat padamu, kami hanya ingin kau menceritakan tentang semua kejadian malam itu pada kami, dan kami akan memberikan jaminan keamanan padamu."


Tiba-tiba pintu ruangan pun kembali diketuk, setelah pintu itu terbuka tampak Clarissa masuk ke ruangan tersebut lalu duduk di samping Nathan.


"Maya, tolong ceritakan pada kami semua, sebenarnya apa yang telah terjadi pada malam itu," kata Calista.


"Ya, ceritakan saja, Kak Maya," tambah Clarissa. Maya pun tersenyum, Calista lalu menggenggam tangan Maya. "Maya percayalah padaku, katakan saja semua kejadian malam itu."


Perlahan, Maya pun membuka suaranya. "Sebelumnya maafkan aku, sebenarnya semua masalah ini awalnya karena aku, jika saja aku tidak memulainya terlebih dulu mungkin tragedi itu tidak akan pernah terjadi," ucap Maya sambil menahan rasa takut dan degup jantung yang tidak beraturan.


"Apa maksudmu, Maya?" tanya Calista.


Calista lalu memeluk Maya sambil menenangkannya dan membela rambutnya. "Tenangkan dirimu, Maya. Kami tidak akan memaksamu jika kau belum sanggup mengatakan semua itu."


"Tidak Nyonya, saya tidak apa-apa," jawab Maya kemudian menghembuskan nafas panjangnya dan memulai ceritanya kembali.


"Puncaknya saat kematian Aleta, aku begitu merasa marah dan sakit hati melihat Sharen yang datang ke pemakaman Aleta dengan sikap begitu jumawa. Lalu aku merencanakan untuk memberi pelajaran di malam itu, sayangnya aku gagal karena Sharen ditolong oleh Nathan, namun aku tidak merasa putus asa. Saat melihat Nathan dan Sharen yang sedang duduk di pos kamling, aku berinisiatif memberi pelajaran pada mereka berdua, lalu aku memukul kepala Nathan dan dia langsung jatuh tidak berdaya, namun saat itu Sharen mungkin sudah tahu aku memukul Nathan jadi saat aku memukulnya, dia sempat menghindar dan hanya pura-pura pingsan," kata-kata Maya pun terhenti.


Maya lalu menatap Calista dengan tatapan sendu. "Tidak apa-apa, Nak. Ceritakan saja, putraku pasti bisa memahami keadanmu. Iya kan, Nathan?" tanya Calista yang hanya dijawab dengusan kesal Nathan.


"Maya apakah aku tahu gara-gara ulahmu dan Sharen, aku hampir saja kehilangan wanita yang sangat kucintai!" gerutu Nathan.


"Sudahlah Nathan, yang terpenting saat ini kau sudah menikah dengan Clarissa kan?" bentak Leo.

__ADS_1


"Maya, lanjutkan ceritamu!" perintah Leo. Maya pun menganggukkan kepalanya.


"Saat aku meninggalkan Nathan dan Sharen yang sudah terkapar, tiba-tiba Sharen bangun dan memanggilku. Aku sebenarnya sangat terkejut, dan di saat itu juga Sharen mengancam akan melaporkan kejahatanku padanya ke polisi, aku pun panik dan malam itu akhirnya kami pun membuat kesepakatan agar aku membantu Sharen melakukan konspirasi itu, dan atas perintah Sharen juga akulah yang memanggil warga yang mengerumuni Nathan dan Sharen sekaligus melakukan provokasi agar mereka menyuruh Nathan menikahi Sharen karena sudah berzina di desa mereka."


"DASAR BREN*SEK KAU MAYA!" teriak Nathan.


"Kak Nathan, kendalikan dirimu," ucap Clarissa sambil mengelus punggung Nathan.


"Clarissa, kau dengar sendiri kan mereka telah melakukan konspirasi yang begitu jahat padaku!"


"Tenangkan dirimu Kak, karena ada hal yang harus kita pikirkan lagi, coba kau pikir bukankah rasanya sangat aneh, kenapa tiba-tiba kau bertemu dengan Kak Sharen di malam itu? Bertepatan dengan saat Kak Sharen diintimidasi oleh anak buah Maya, apakah kau sebelumnya pergi bersama Kak Sharen?" tanya Clarissa sambil meledek.


"Enak saja, bukankah kau tahu aku baru saja pulang dari apartemenmu," gerutu Nathan. Mereka lalu menatap Maya. Mendapat tatapan curiga dari semua orang, Maya pun membuka suaranya.


"Kalau masalah itu aku juga tidak tahu," jawab Maya. Tepat di saat itulah ketukan pintu pun kembali terdengar.


TOK TOK TOK


NOTE:


Kalau mau tau kelanjutannya, wajib mampir dulu ke novel sebelah. TERJERAT RANJANG SI KEMBAR kalo nggak, ga kulanjutin ceritanya 🤣🤭


Aku ngancem sambil bawa pisau nih 🔪🔪🔪🔪


Mampir juga ke karya temen othor yang satu ini ya,



Malam adalah dunianya. Ia akan aktif beraktifitas saat malam menjelang. Ia sangat suka mengikuti ajang balap liar. Sebab dengan mengikuti hal tersebut, ia dapat menghilangkan sejenak beban pikiran dan derita hidup yang dialaminya. Ia mempertaruhkan hidup dan matinya di atas jalanan. Selain hasil dari taruhan yang mengiurkan.

__ADS_1


Ia berjuang hidup mengandalkan sepuluh jarinya sendiri dalam mempertahankan hidupnya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Terkadang ada rasa iri menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Mengapa Tuhan tidak adil padanya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seseorang. Akankah seseorang itu dapat mengubah jalan takdir hidupnya ke arah yang lebih baik. Atau malah semakin menenggelamkan dirinya dalam hitam pekatnya malam.


__ADS_2