Bed Friend

Bed Friend
Mencintai Senja


__ADS_3

Vansh pun menyusuri sepanjang jalan itu, namun hampir setengah jam lamanya dia menyusuri jalanan tersebut. Dia tidak menemukan jejak ataupun keberadaan Maya sama sekali.


"Kau dimana Maya?" gerutu Vansh sambil mengamati sekeliling jalan itu.


"Terminal atau stasiun? Jika dia pergi keluar kota pasti dia pergi ke salah satu tempat itu. Ya, sebaiknya aku pergi ke stasiun dan terminal terdekat dari tempat ini," ucap Vansh. Dia kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke stasiun terdekat. Setelah sampai di stasiun, dia pun bergegas bertanya pada para petugas keamanan dan petugas penjaga pintu masuk sambil memperlihatkan foto Maya, namun mereka mengatakan tidak melihat foto wanita seperti yang ditanyakan oleh Vansh.


Vansh pun menghembuskan nafas dari mulutnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Terminal, aku harus ke terminal sekarang!" ucap Vansh.


Dia kemudian berjalan keluar dari stasiun lalu masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju ke terminal terdekat. Sesampainya di terminal, Vansh pun langsung menunju ke loket-loket tiket bus yang berjejer di sepanjang sisi terminal dan menunjukkan foto Maya di ponselnya sambil menanyakan apakah wanita yang ada di ponsel Vansh tersebut hari ini membeli tiket di loket-loket tersebut. Tetapi, semua petugas loket mengatakan jika wanita yang ditanyakan oleh Vansh tidak membeli tiket bus mereka.


"Astaga, kau dimana Maya?" gerutu Vansh.


"Haruskah aku pergi ke Bandara? Oh tidak, rasanya tidak mungkin Maya pergi menggunakan pesawat."


Dengan langkah lemas, Vansh pun keluar dari komplek terminal lalu masuk kembali ke mobilnya. Dia pun kini tampak memejamkan matanya sambil memijit keningnya. Saat tengah dilanda kebingungan, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.


"Di sana, aku yakin dia pasti ada di sana!" ujar Vansh kemudian bergegas mengendarai mobilnya kembali menembus padatnya jalanan ibu kota. "Tunggu aku Maya, sebentar lagi aku akan datang," ucap Vansh.


...***...


"Ini uangnya Pak," ucap Maya saat taksi online yang dinaikinya berhenti di tempat yang dituju olehnya.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab supir taksi online tersebut.


Maya kemudian turun dari taksi lalu berjalan dengan langkah perlahan menunju ke sebuah halte di depan sebuah sekolah swasta milik kalangan atas. Dia kemudian duduk di halte tersebut sambil mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati kini dia genggam. Sesekali, dia mengusap liontin tersebut.


'Ksatriaku,' gumam Maya sambil tersenyum kecut. Hatinya pun seakan teriris saat mengucap sebuah nama itu meskipun hanya terucap di dalam hatinya.


"Kau adalah sebuah nama di dalam hatiku, nama yang kusebut di setiap hariku, bukan hanya dalam waktu yang singkat tapi dalam waktu yang sangat lama. Kau adalah sebuah nama, yang kucintai dengan begitu dalam, meskipun hanya bisa kupendam. Dan kau adalah sebuah nama yang hanya bisa kukagumi dari jauh tanpa berani mendekat sedikitpun padamu. Wahai pemilik nama, tempat ini adalah saksi cintaku padamu, cinta yang tak akan pernah bisa kusentuh karena mencintaimu itu bagaikan mencintai senja. Senja yang hadir tapi juga sudah diatur untuk pergi, karena mencintai senja itu artinya juga harus siap untuk patah hati," ucap Maya sambil memegang liontin yang ada di tangannya.


"Selamat tinggal senjaku, selamat tinggal ksatriaku. Hari ini adalah penghujung kisah kita. Ah, rasanya bukan. Bukan kisah kita tapi hanya kisahku saja, aku yang sudah lancang mencintaimu padahal aku tahu mendapatkan cintamu adalah suatu hal yang mustahil bagiku. Tapi aku sadar, suatu saat nanti siap atau tidak siap aku akan ada pada titik ini, karena aku sudah terlalu berani mencintai ksatria senja," ucap Maya sambil meneteskan air matanya.


Dia pun kemudian mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, dadanya kini pun terlihat naik turun dengan begitu tersengal-sengal menahan sesak dan sakit di dadanya, melepas dan berusaha melupakan cinta yang begitu lama telah ada di dalam hatinya memang bukan hal hang mudah. Air mata pun mengalir deras di wajah putih Maya. Rintik gerimis yang turun menjadi tetesan air hujan pun tak menyurutkan langkahnya untuk beranjak dari halte bis itu.


Maya yang kini sudah bangkit dari halte bis, berjalan ke tepi jalan kemudian mengangkat tangannya lalu menjatuhkan liontin yang ada pada genggamannya. "Selamat tinggal, selamat tinggal masa lalu, selamat tinggal kenangan," ucap Maya kemudian setengah berlari, bermaksud untuk menyebrang jalan. Namun tiba-tiba sebuah teriakkan beserta tarikan yang begitu kencang tiba-tiba mengagetkan dirinya.


BUGHHHH


"AWWWWW!" teriak keduanya.


Tubuh Maya pun terhempas ke atas trotoar bersama sosok seseorang bertubuh kekar yang kini ada di sampingnya. "Dasar ceroboh!" gerutu sosok itu.


Mendengar suara yang dikenalnya, Maya pun pun mengalihkan pandangannya ke arah samping dan melihat seorang laki-laki berwajah tampan yang sangat dikenalnya.

__ADS_1


"Dasar ceroboh! Apa belum cukup kau membuatku mengalami hilang ingatan selama belasan tahun? Apa kau mau melakukan itu lagi padaku? Susah payah aku mengingat tentang semua masa laluku. Dan kau hampir saja mencelakakanku lagi dan membuatku mengalami hilang ingatan lagi? Melihat mobil di depan mata saja tidak bisa! Dasar payah!" omel Vansh panjang lebar.


"Maaf, ini sudah gelap. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku."


"Jangan alasan, kau memang sangat payah. Kecelakaan dua belas tahun silam itu juga terjadi pada siang hari, lalu kau mau beralasan gelap dan tidak melihat jalanan lagi!"


"Maaf," jawab Maya lirih.


"Cepat berdiri, hujannya mulai deras. Ambil kopermu lalu masukkan ke mobilku, aku akan mengantarmu pulang sekarang juga!"


"Aku tidak bisa," jawab Maya sambil menundukkan wajahnya.


"Jadi kau tidak mau pulang? Apa alasannya kau tidak mau pulang?"


"Maaf Tuan, saya harus pergi sekarang, terima kasih banyak karena sudah dua kali menolong saya," ucap Maya kemudian membalikkan tubuhnya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar panggilan dari Vansh kembali.


"Gadis lancang, kau sudah menjatuhkan liontinmu!"


"Maaf, liontin itu bukan milik saya, saya sudah mengambil liontin itu dari seseorang. Jadi saya tidak berhak memiliki liontin itu."


"Kau berhak memiliki liontin itu karena aku memang bermaksud memberikan liontin itu untukmu," ucap Vansh kemudian mengambil liontin itu dan mendekat ke arah Maya. Vansh pun membalik tubuh Maya agar kembali menghadapnya. Tampak air mata yang mengalir begitu deras di wajah Maya kini telah bercampur dengan derasnya air hujan.

__ADS_1


"Dua belas tahun lalu, aku tertarik pada seorang gadis yang yang selalu membawa kotak kue saat melewati sekolahku, aku begitu mengagumi gadis itu meskipun aku tidak mengenalnya. Siang itu aku bermaksud memberikan liontin ini sekaligus berkenalan dengannya. Namun, dia hampir saja tertabrak mobil dan aku pun sekuat tenaga berlari untuk menyelamatkan gadis itu. Gadis itu pun selamat, namun nahasnya aku harus merelakan separuh hidupku untuk kehilangan ingatan tentangnya. Dan saat aku sudah mengingat tentang masa lalu itu, takkan kubiarkan gadis itu pergi dari hidupku. Apa kau mengerti, Maya?" tanya Vansh yang kini memegang wajah Maya.


Sedangkan Maya yang begitu terkejut mendengar pengakuan Vansh pun hanya bisa menangis, perasaannya terasa begitu campur aduk. Melihat wajah mungil di dalam rengkuhan tangannya. Vansh pun mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik Maya kemudian mulai memagutnya dengan begitu lembut di bawah rintik hujan.


__ADS_2