Bed Friend

Bed Friend
Takdir dan Cinta


__ADS_3

Aku hanya diam terpaku, seakan tak percaya dengan apa yang Kak Darren katakan. "Nanti malam?" tanyaku lirih.


Namun Kak Darren tidak menjawab pertanyaanku. Dia pun hanya diam membisu sambil terus menatapku disertai raut wajahnya yang terlihat begitu sendu. Bibirnya sedikit terbuka, mungkin dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi aku tahu jika kata-kata itu tertahan di mulutnya. "Maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Maafkan aku Shakila," jawabnya kemudian, hanya kata itu yang terucap, tanpa penjelasan. Apa-apaan ini? Aku merasa seperti dibodohi. Bukankah tadi malam dia berjanji padaku akan menjalani hubungan ini selama satu minggu? Tapi kenapa tiba-tiba saja dia mengambil keputusan untuk pergi saat ini?


Jawaban dari Kak Darren, benar-benar membuat hatiku begitu hancur. Tulangku seakan patah hingga membuat tubuh ini terasa begitu tak bertenaga.


'Nanti malam? Bukankah seharusnya satu minggu lagi?' gumamku.


Kak Darren lalu mencoba memelukku namun aku mendorong tubuhnya hingga dia hampir saja terjatuh dari kursi malas yang kami duduki, namun aku tak peduli. Aku meninggalkannya begitu saja lalu masuk ke dalam kamarku kemudian mengunci pintu balkon agar Kak Darren tidak mengikutiku.


Sakit, hancur, dan benci, kini bercampur jadi satu di dalam hatiku. Aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku bisa mendengar dengan jelas ketukan pintu dari arah balkon kamar. Tapi tak pernah kupedulikan. Sungguh, saat ini aku tidak mau bertemu dengan Kak Darren.


Entah berapa lama aku menangis dan mengurung diri di dalam kamar, hingga akhirnya sebuah ketukan pintu pun terdengar.


"Shakila! Shakila!" panggil seseorang di balik pintu.


"Mama Aini?" ucapku.


Aku kemudian menghapus air mataku lalu berjalan ke arah wastafel untuk membersihkan wajahku, setelah itu aku berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.


"Shakila! Kau kenapa?" tanya Mama Aini saat melihat wajahku yang saat ini terlihat begitu berantakan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ma, hanya sedikit pusing."


"Kau masih pusing? Apa kau sakit?"


"Mungkin hanya kelelahan," jawabku lirih.


"Astaga, Shakila. Kalau begitu, sebaiknya kau istirahat saja. Sebenarnya sore ini kami akan mengajakmu mengantar Darren ke Bandara. Tapi keadanmu sepertinya sangat tidak memungkinkan, jadi lebih baik sebaiknya kau di rumah saja."


"Iya Ma, aku sebaiknya di rumah saja. Aku ingin beristirahat saja di dalam."


"Iya Shakila, tapi sebaiknya kau temui dulu kakakmu, meskipun Mama tahu sejak dulu kau begitu dekat dengan Darren, dan kau pasti sangat berat untuk melepas kepergiannya, tapi ini adalah keputusan yang diambil oleh Darren. Kau juga harus mendukung keputusan kakakmu, Nak."


Aku hanya termenung mendengar perkataan Mama Aini. "Shakila, ayo temui kakakmu terlebih dulu!" perintahnya kembali.


"Oh jadi Darren sudah menemuimu?"


Aku pun menganggukkan kepalaku perlahan. "Baiklah kalau begitu, kau istirahat saja di dalam. Mama, Papa, dan Tristan pergi dulu mengantar Darren ke Bandara ya sayang."


"Iya Ma," jawabku sambil menutup pintu dengan perlahan setelah Mama Aini pergi.


Setelah pintu kututup rapat, aku kemudian menjatuhkan tubuhku di balik pintu dan menangis sejadi-jadinya. Hati ini terasa begitu meronta, sakit, hancur. Ingin rasanya aku berteriak tapi aku tak mampu, tubuhku rasanya begitu lemas, aku begitu rapuh menghadapi kenyataan yang terjadi di dalam hidupku.

__ADS_1


Saat mendengar suara deru mobil, aku pun mencoba bangkit dengan sisa tenagaku. Dengan langkah yang sedikit tertatih, aku berjalan menuju ke arah balkon kamarku, namun aku terlambat. Sosok itu sudah tidak terlihat lagi oleh kedua mataku.


Apalagi saat ini mobil yang dinaiki oleh Kak Darren dan kedua orang tuaku sudah keluar dari rumah ini. Aku pun hanya bisa menangis dan berteriak sejadi-jadinya.


"KAK DARREN!!!"


"KAK DARREN!!!"


"KAK DARREN!!!"


Teriakku berulang kali, namun semua itu hanya sia-sia. Kini dia telah pergi untuk meninggalkan aku. Dan saat dia kembali, mungkin aku harus menegarkan hatiku saat dia sudah bertemu dengan cinta yang baru.


Takdir, sekejam inikah kau padaku?


Cinta, kenapa kau juga harus menyakitiku dengan begitu dalam?


Lalu apakah aku bisa bertahan dalam takdir yang begitu kejam dan cinta yang sangat menyakitkan? Aku pun tak tahu, bahkan jiwa ini rasanya sudah terlalu rapuh, hati ini juga sudah begitu hancur hingga aku tak tahu bagaimana caranya menata kepingan hati ini.


Oh Tuhan, kenapa aku harus hidup di dunia ini jika takdir begitu kejam padaku?


Oh Tuhan, kenapa aku harus hidup di dunia ini jika harus merasakan cinta yang begitu menyakitkan?

__ADS_1


Aku kemudian membalikkan tubuhku, namun saat aku baru saja melangkahkan kakiku, tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit, tubuh lemasku pun rasanya tak sanggup lagi menahan raga ini.


Aku pun menjatuhkan tubuhku begitu saja di atas lantai, aku tak sanggup lagi membuka mataku, rasanya gelap hingga akhirnya mata ini pun sepenuhnya terpejam.


__ADS_2