
"Apa-apaan ini? Kenapa kau memelukku?" isak Nala dalam pelukan Zack.
"Memangnya apa yang harus kulakukan? Semua yang kulakukan salah dimatamu. Kau yang bilang sendiri aku kasar, lalu sekarang aku mencoba menenangkanmu dengan caraku seperti ini apa juga salah? Kau tahu, aku pun bahkan belum pernah melakukan semua ini pada istriku!"
"Kau tidak pernah melakukan ini pada istrimu karena dia pun tak mau dipeluk olehmu, iya kan?"
"Ya, kau benar. Dia memang tidak pernah mau kusentuh sama sekali."
"Makanya jangan nikahin orang yang ga cinta, pake bunuh pacarnya lagi. Salah siapa coba?"
"Memang ini semua salahku, Ca. Aku yang memulai semua ini dengan kejahatan dan semua keburukan yang ada di dalam diriku. Aku akan mencoba mengakhiri ini dengan semua ini dengan kebaikan dan keikhlasan. Tapi bukan berarti aku ingin terlihat baik di mata Laurie, mungkin selamanya aku tidak akan pernah terlihat baik di matanya hanya saja di akhir cerita setidaknya aku tidak menutup akhir kisah ini dengan kejahatan dan keburukan yang pernah kulakukan padanya."
"Kau benar, otakmu sedang baik-baik saja kan?"
"Karena aku baik-baik saja maka aku bisa berfikir jernih seperti ini."
"Baiklah, aku harap pikiranmu selalu jernih agar bisa mengurangi dosa yang telah kau perbuat."
Zack pun menghembuskan nafas panjangnya. "Dosa..." gumamnya lirih.
Setelah cukup tenang, Nala pun mengangkat kepalanya dari dada Zack lalu duduk kembali di sisi ranjang Zack.
"Apa kau sudah merasa baik-baik saja wanita siluman?"
"Sudah jauh lebih baik."
"Bagus, sekarang tolong jangan menangis lagi. Bukankah kau selalu menasehatiku agar bisa melupakan istriku Laurie? Sekarang kau pun harus melakukan hal yang sama. Kau juga harus melupakan Alvaro, untuk apa kau menghabiskan waktumu untuk mencintai laki-laki yang tidak pernah mencintaimu. Hanya membuang-buang waktumu saja!"
"Kau benar, hanya membuang-buang waktuku. Tuan Zack, aku mau tanya sesuatu padamu."
__ADS_1
"Kau mau tanya apa?"
"Apa aku cantik?"
"Ya."
"Apa aku menarik?"
"Sangat menarik."
"Bagus sekali, jadi mulai saat ini kau harus memanggilku dengan si cantik yang menarik."
"Apa? Enak saja!"
"Bukankah kau tadi yang mengatakan kalau aku cantik dan menarik? Kalau begitu kau panggil aku dengan sebutan itu, kau tidak ingin aku sedih kan? Kalau kau tidak ingin aku sedih kau harus membuatku bahagia. Jadi tolong panggil aku dengan sebutan yang indah, karena aku memang salah satu wanita paling indah."
"Cih, wanita paling indah bagaimana?"
Zack pun menghembuskan nafas panjangnya kembali, bahkan berulang kali. Sebenarnya dia sangat kesal pada Nala, tapi dia terpaksa mengalah daripada harus mendengar tangisannya lagi.
"Bagaimana? Apa sudah jauh lebih baik?"
"Ya, jauh lebih baik."
"Kau memang ada-ada saja, kau yang menjadi asistenku tapi malah aku yang mengasuh dirimu. Lalu, aku yang sakit tapi malah aku yang yang menjagamu. Kenapa duniaku jadi terbalik saat bersamamu!" gerutu Zack.
"Anggap saja kau sedang melakukan sesuatu yang beda dan menyenangkan."
"Cih!"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu lebih baik anda istirahat saja, Tuan Zack. Sepertinya aku lapar, aku ingin makan dulu di kantin. Menangis terus menerus membuatku benar-benar kelaparan. Apa anda mau beli sesuatu?"
"Tidak usah, tidak mendengar tangisanmu itu sudah cukup bagiku."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya keluar dulu."
"Ya."
Nala kemudian keluar dari ruang perawatan Zack menuju ke kantin, dan menikmati makan siangnya di kantin karena dia malas kalau harus makan siang di dalam ruang perawatan Zack, dan melihat wajah laki-laki itu yang menurutnya menggangu selera makannya.
Setelah selesai makan, dia pun mencoba menelepon Calista. Nala yang manja, memang paling sulit lepas dari Calista. Meskipun jarang di rumah, dia selalu berkomunikasi dengan Calista. Beberapa saat kemudian, panggilan ponsel itu pun diangkat.
[Halo, Mama!]
[Halo, Nala. Ini Tante Olivia. Mamamu sedang ada di di kamar mandi jadi Tante yang mengangkat panggilan telepon ini.]
[Oh iya, Tante. Jadi, Tante Olivia ada di rumahku?]
[Ya, Tante sedang di rumahmu. Tante kesepian, jadi Tante ke rumahmu. Kau tahu sendiri kan saat ini Vans dan Maya tinggal di Australia. Sedangkan Om Kenan, setiap hari dia pulang sore.]
[Lalu memangnya dimana Laurie, Tante? Bukannya Laurie sudah sadar?]
[Oh Laurie? Saat ini dia sedang pergi. Saat kau mengatakan Zack tidak jadi pergi ke Macau, kami sangat panik, dan tiba-tiba Alvaro datang dan mengajaknya pergi untuk menghindar dari Zack. Jadi, saat ini Laurie pergi berdua bersama Alvaro.]
Mendengar perkataan Olivia, jantung Nala pun seakan berhenti berdetak, masih jelas terngiang perkataan perawat yang ditemuinya kalau saat ini Alvaro sedang pergi bersama kekasihnya. Lalu, masih teringat jelas percakapannya bersama Alvaro saat dia mengungkapkan perasaannya jika saat itu Alvaro juga sedang menunggu jawaban dari seorang wanita. Semuanya seakan melebur menjadi satu menari dalam dalam benak Nala.
'Jadi wanita yang ditunggu oleh Alvaro adalah Laurie? Jadi wanita yang dianggap kekasih Alvaro adalah Laurie? Hingga perawat itu pun mengatakan padaku kalau dia pergi bersama kekasihnya, dan dia adalah Laurie? Astaga, senaif itukah diriku? Selama ini kenapa aku tidak menyadari jika hubungan mereka sebagai seorang pasien dan dokter bisa saja menumbuhkan rasa cinta diantara mereka,' batin Nala.
Tanpa dia sadari dia pun membiarkan panggilan Calista yang saat ini sedang memanggilnya dari ujung sambungan telepon, hingga akhirnya panggilan telepon itu terputus. Nala pun kembali terisak, sambil menutup mulutnya. Hatinya terasa begitu sakit, bukan hanya karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan tapi karena ternyata orang yang dia cintai menyukai wanita yang begitu dekat dengannya. Rasanya ini bagaikan lelucon baginya.
__ADS_1
Saat tengah terisak, ponselnya kembali berdering dan melihat nama Zack di layar ponsel itu. Meskipun saat ini Nala sedang merasa sangat galau, dia akhirnya menyadari jika dia telah meninggalkan Zack begitu lama. Dia kemudian bergegas pergi dari kantin, dan kembali ke ruangan Zack. Namun, saat baru memasuki ruangan itu, tiba-tiba dia menangis kembali dengan sejadi-jadinya. Zack yang melihat Nala kembali menangis pun hanya bisa mendengus kesal.
"Dasar wanita siluman! Apa kau mau mengubah profesiku menjadi pengasuhmu!"