
"Kau mau kemana, Tuan Zack?"
"Tentu saja menemui istriku, Laurie."
"Tapi, Tuan."
"Tapi apa? Bukankah tadi kau yang mengatakan kalau aku harus bersikap baik pada istriku?"
"Ta-tapi, benarkah kita batal pergi ke Macau?" tanya Nala dengan begitu terbata-bata. Sebenarnya dia senang Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau, tapi dia tidak menyangka kalau perkataannya akan membuat Zack berubah dan mendekat kembali pada Laurie.
"Ya, aku merubah semua rencanaku. Mulai hari ini aku akan bersikap lembut pada istriku. Seperti yang kau bilang tadi. Sekarang aku mau pergi ke rumah sakit dulu. Kau boleh pulang sekarang, Caca," ucap Zack sambil berjalan menuju ke arah pintu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar teriakkan Nala.
"Tunggu dulu!"
Seketika Zack pun menghentikan langkahnya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Nala sambil mengerutkan keningnya.
"Kau? Lancang sekali kau membentakku seperti itu."
"Kau yang sudah lancang, Tuan. Kau yang sudah mempermainkan aku begitu saja. Apa kau tahu bagaimana sulitnya meminta ijin pada kedua orang tuaku. Lalu, kau dengan mudahnya menggagalkan rencanamu untuk pergi ke Macau begitu saja? Kau pikir aku ini apa Tuan Zack? Mainan?" teriak Nala untuk mengulur waktu agar Zack mengurungkan niatnya untuk menemui Laurie.
"Memang apa salahnya kalau kau kembali ke rumah? Kau tinggal bilang, kau tidak jadi pergi ke Macau karena ada perubahan rencana, atau apalah. Wanita licin sepertimu pasti bisa beralasan."
"Hei, enak sekali kau berkata seperti itu. Aku bukanlah dirimu yang bisa saja membohongi orang tua kapanpun kau mau!"
__ADS_1
"Hai, kau! Kau memang benar-benar lancang! Andai saja kau tidak berhutang padaku, kepalamu kupastikan sudah tertembus peluruku. Aku tidak peduli denganmu, karena aku tidak mau membuang waktuku untuk menemui istriku! Daripada kau mengeluh dan membuat alasan yang tidak jelas tentang orang tuamu. Lebih baik untuk sementara kau tinggal di sini saja denganku!"
"Tinggal di sini? Tidak mungkin! Tinggal berdua denganmu sangat tidak aman bagiku. Kau bisa saja berbuat yang tidak-tidak padaku."
"Apa? Berbuat yang tidak-tidak padamu? Yang benar saja? Hahhahahhaha... "
"Kau pikir aku bernafsu pada wanita siluman sepertimu? Jangan pernah bermimpi! Wanita cerewet dan menyebalkan sepertimu bukanlah tipeku. Aku tidak pernah tertarik padamu, jadi jangan terlalu percaya diri! Lebih baik sekarang kau masuk kamar! Aku mau pergi ke rumah sakit sendiri. Kali ini aku tidak mau membawamu ke rumah sakit, aku tidak mau ada yang melihatmu dan berfikiran buruk padaku karena membawa wanita lain."
Nala pun hanya terdiam, raut wajahnya yang meledek seakan membuat Zack makin kesal. "Kenapa kau diam saja wanita siluman?"
"Aku sedang berfikir raja iblis! Apa kau tidak melihat wajahku yang menggemaskan sedang berfikir?" ucap Nala dengan begitu polosnya. Mendengar dirinya disebut raja iblis, sebenarnya Zack merasa begitu kesal, tapi dia mencoba bersabar menghadapi Nala, karena melawan perkataannya hanya akan semakin membuatnya merasa kesal. Sebenarnya ada keinginan untuk membunuh Nala. Tapi entah kenapa selalu ada penolakan dari dalam hatinya.
Bagi seorang Zack, membunuh wanita adalah hal yang sering dia lakukan. Dia juga tidak merasa sungkan, apalagi wanita yang seringkali menjadi mata-mata, Zack tak segan untuk menghabisinya. Tapi, Nala yang begitu menyebalkan entah kenapa selalu membuat dirinya berhasil mengurungkan niatnya untuk menembakkan peluru ke kepalanya.
"Memangnya aku bilang aku sedang memikirkanmu? Aku hanya sedang berfikir bagaimana caranya mendekati Dokter Alvaro lagi."
"Astaga, dasar wanita siluman!" bentak Zack. Dia kemudian pergi meninggalkan Nala yang masih terkekeh. Sebenarnya sejak tadi Nala hanya mengulur waktu agar pesan yang dia kirimkan pada Olivia yang memberitahukan kalau Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau mendapatkan balasan dari Olivia.
Nala sebenarnya terpaksa mengirim pesan pada Olivia tentang Zack yang mengurungkan niatnya pergi ke Macau. Tapi dia harus melakukan itu agar bisa memberi peringatan pada Olivia dan Laurie supaya waspada akan kedatangan Zack kembali. Meskipun konsekuensinya saat ini Olivia memberondong dirinya dengan berbagai pertanyaan melalui pesan yang berulang kali Olivia kirimkan. Dia merasa penasaran bagaimana Nala bisa tahu Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau. Nala pun beralasan dia bertemu dengan Zack di Bandara, meskipun jawaban itu juga terasa janggal. Tapi dia tak peduli, karena yang terpenting saat ini dia sudah memberi tahu kalau Zack mengurungkan niatnya pergi ke Macau, dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengunjungi Laurie.
Setelah Zack pergi, dan dia sudah menyelesaikan urusannya dengan Olivia. Nala kemudian berjalan menuju ke kamarnya mengikuti seorang pembantu rumah tangga yang kini berjalan di depannya.
"Nona Caca. Selama tinggal di sini, Tolong Non jangan pernah masuk ke kamar ini ya," kata pembantu rumah tangga itu saat mereka melewati sebuah kamar dengan pintu warna putih.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Bi?"
"Tidak apa-apa Nyonya, di rumah ini hanya Tuan Zack yang boleh masuk ke dalam kamar itu," jawab pembantu itu yang membuat Nala semakin bertanya-tanya.
****
Sebuah mobil berhenti di depan bangunan sebuah panti asuhan. Seorang laki-laki lalu turun dari mobil tersebut, dengan langkah tegap, dia berjalan menuju ke arah belakang panti asuhan. Diikuti oleh beberapa anak buahnya. Setelah dia sampai di belakang bangunan panti, beberapa orang mendekat padanya.
"Selamat siang, Tuan. Jadi siang ini anda mengurungkan niat anda untuk pergi ke Macau?"
Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya, lalu menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya ke udara sambil mengamati beberapa orang anak buahnya yang sedang membawa beberapa buah kotak, masuk ke dalam bangunan panti tersebut.
"Bagaimana apa barang-barangnya sudah sampai semua?"
"Sudah Tuan, kali ini memang agak sedikit berbelit karena sedang banyak pengawasan di sekitar pelabuhan. Tapi anda tenang saja, kami bisa menanganinya."
"Bagus kalau begitu, pastikan penyebaran barang-barang itu juga merata, jangan lupa untuk daerah luar pulau juga harus kau pantau."
"Baik Tuan."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Satu lagi pesanku, tolong tetap jaga reputasimu sebagai pengurus panti yang baik. Jangan ada yang curiga kita menyimpan barang haram disini. Aku pergi dulu, aku mau mengunjungi istriku."
"Baik Tuan Zack."
__ADS_1
Zack kemudian keluar dari komplek panti asuhan lalu masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan sebuah bangunan panti asuhan. Orang awam mungkin melihat bangunan itu sebagai panti asuhan. Tapi tidak dengan Zack, karena baginya bangunan itu merupakan gudang penyimpanan barang-barang haram yang diselundupkan olehnya.