Bed Friend

Bed Friend
Tidak Pantas


__ADS_3

[Iya Kenzo, tentu saja. Tentu Papa akan datang ke pesta pernikahan kalian.]


[Terimakasih.] jawab Kenzo kemudian menutup teleponnya.


"Sudah, sudah kulakukan kan Cleo?" ucap Kenzo dengan sedikit kesal.


"Aku kecewa padamu, Kenzo."


Cleo lalu beranjak dari atas ranjang. Namun Kenzo mencekal tangannya kembali. "Apa sebenarnya maumu, Cleo? Bukankah aku sudah melakukan apa yang kau minta?"


"Tapi apa pantas kau bersikap seperti itu pada ayah kandungmu? Coba kau pikir bagaimana perasaan Papamu, kau bersikap sangat dingin dan angkuh padanya, kau bahkan tidak mau menyebut namanya. Dia pasti sangat sakit kau bersikap seperti itu padanya."


"Hatiku juga sangat sakit jika mengingat dia pernah membuangku dulu, jadi tolong jangan memaksaku untuk bersikap baik padanya, Cleo!"


"Tapi dia sudah meminta maaf padamu, Kenzo. Kenapa hatimu keras seperti batu? Apa kau masih mau menghakimi orang yang sudah bertaubat? Sedangkan Tuhan saja Maha Pengampun dan Maha Penyayang, tapi kau dengan begitu angkuhnya tidak mau memaafkan kesalahan orang yang sudah meminta maaf padamu, apalagi dia ayah kandungmu. Tidak ada manusia yang baik di dunia ini, semua sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing."


"Kupikir kau bisa memahamiku, Cleo. Tapi ternyata tidak, kau bahkan tidak bisa memahami kepedihan dan rasa sakit yang kurasakan. Kau tidak pernah merasakan sakit yang kurasakan karena kedua orang tua kandungmu sangat menyayangimu sejak kau kecil. Tidak seperti diriku! Ayah kandungku saja sudah membuangku saat aku baru saja lahir ke dunia ini, apa kau tahu bagaimana rasanya sakit dan hancurnya hatiku, Cleo. Kupikir kita hidup dalam hati yang sama, tapi ternyata tidak, ternyata kita berbeda. Manusia tidak akan pernah saling mengerti jika tidak merasakan hal yang sama, dan kau tidak pernah merasakan hal yang sama denganku. Bukankah kau memintaku untuk ikhlas? Tidak semudah itu, karena ikhlas juga membutuhkan waktu! Dan untuk saat ini aku belum bisa melakukan itu, Cleo! Belum bisa melakukan itu!" teriak Kenzo. Kenzo kemudian mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap Cleo yang kini terlihat mulai meneteskan air matanya. Melihat Cleo yang mulai menangis, Kenzo lalu bergegas mendekat ke arahnya.


"Apa kata-kataku telah menyakitimu? Maafkan aku Cleo, maaf jika aku berteriak padamu, aku tidak bermaksud untuk marah ataupun membentakmu. Aku hanya merasa sangat terganggu jika ada yang menyinggung tentang Abimana. Aku benar-benar sangat membencinya, Cleo. Aku benar-benar sangat membencinya," ucap Kenzo, dia kemudian menghembuskan nafas panjangnya lalu memeluk Cleo.

__ADS_1


"Cleo, maafkan aku. Aku tidak ingin menyakitimu, tapi tolong, tolong pahami perasaanku, jangan terlalu memaksaku, hatiku masih sangat sakit, Cleo. Hatiku masih sangat sakit," tambah Kenzo dengan sedikit terisak. Melihat Kenzo yang kini juga mulai menangis, Cleo lalu balas memeluk Kenzo.


"Aku minta maaf padamu, Kenzo. Aku minta maaf jika aku begitu menyakitimu. Aku memang tidak pernah bisa memahami seberapa dalam rasa sakit hatimu pada ayahmu hingga selalu memaksakan kehendakku. Sekali lagi maafkan aku, aku tahu ini tidak mudah bagimu dan kau perlu waktu untuk menerima semua itu. Maaf jika aku sudah lupa, pasti bukan hal yang mudah saat kau tahu jika ayah kandungmu ternyata adalah Papa Abimana, bukan Papa Rayhan yang sudah kau anggap ayah kandungmu sejak kau masih kecil. Lalu kau harus menerima kenyataan jika ternyata ayah kandungmu ternyata pernah berbuat hal yang begitu kejam padamu, sekali lagi maafkan aku, Kenzo."


"Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa, seharusnya aku yang meminta maaf padamu, seharusnya aku tidak membentakmu hingga membuatmu ketakutan, maafkan aku Cleo."


"Tidak apa-apa, Kenzo. Lebih baik kita tidak usah mengungkit hal ini lagi, yang terpenting kau sudah mau mengundang ayah kandungmu, itu sudah cukup bagiku. Terimakasih Kenzo sayang, sekarang tersenyumlah!"


Kenzo kemudian tersenyum. "Lalu sekarang cium aku, Kenzo!"


"Hahahaha... Cleo, bagaimana jika aku meminta lebih dari itu?" ucap Kenzo kemudian mulai menindih tubuh Cleo.


'Kenzo, caramu berbicara padaku sudah menunjukkan jika kau benar-benar menganggapku sebagai orang asing, kau memang sudah tidak pernah menganggapku sebagai ayahmu lagi, Kenzo. Aku sadar, ini adalah sebuah harga mahal yang harus kubayar dari semua kejahatanku dulu. Mungkin sebaiknya aku harus belajar mengubur keinginanku untuk berharap mendapatkan pengakuan darimu, aku memang tidak pantas mendapatkan pengakuan darimu, aku ikhlas jika selamanya kau tidak akan pernah menganggapku lagi sebagai ayah kandungmu, aku juga tidak akan pernah lagi berharap kau bisa memanggilku dengan sebutan Papa. Aku memang tidak pantas mendapatkan semua itu darimu, Kenzo. Aku memang tidak pantas,' gumam Abimana.


Abimana kemudian bergegas menghapus air matanya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Inara yang melihat Abimana masih berdiri di balkon kamar lalu mendekat ke arahnya.


'Inara tidak boleh mengetahui hal ini, aku tidak ingin dia melihatku bersedih,' gumam Abimana lagi.


"Apa kau belum mengantuk? Biasanya kau sudah tidur."

__ADS_1


"Aku belum mengantuk, Inara."


"Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?"


"Inara, Kenzo mengundang kita ke pernikahannya tiga hari lagi."


Mendengar perkataan Abimana, Inara pun tersenyum. "Syukur Alhamdulillah, Abimana. Jadi Kenzo sudah menghubungimu?"


Abimana kemudian menganggukan kepalanya. "Ya, dia menghubungiku setengah jam yang lalu," jawab Abimana kemudian menatap Inara. Namun saat Inara melihat mata Abimana, tampak di sekitar matanya masih terlihat sisa-sisa air mata yang belum dihapusnya. Matanya pun terlihat sembab.


"Kau baru saja menangis, Abimana? Kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya kau bahagia Kenzo mau mengundangmu ke pesta pernikahannya?"


"Inara, ini bukan air mata kesedihan, ini air mata kebahagiaan. Aku sangat bahagia, Inara. Aku sangat bahagia Kenzo sudah mau berbicara denganku dan mengundangku ke pesta pernikahannya. Apa kau tahu bagaimana rasanya perasaanku? Awalnya aku bahkan tidak berani berharap lebih, tapi ternyata Tuhan begitu baik padaku, dia mengabulkan doaku, doaku untuk bisa melihat senyum kebahagiaan di wajah putraku, senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya, Inara," jawab Abimana sambil kembali terisak.


Inara kemudian memeluk tubuh Abimana. "Aku tahu Abimana, aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku ikut bahagia jika Kenzo sudah mau bersikap baik padamu. Aku mengenal Kenzo sejak dulu, dia anak yang baik. Yang dia perlukan hanyalah waktu untuk bisa menerimamu dan masa lalu kalian, dan sepertinya memang tidak membutuhkan waktu yang lama agar Kenzo mau menerimamu, dia saat ini sudah menerimamu sebagai ayah kandungnya kan?"


Abimana lalu mengangguk sambil tersenyum. "Ya, dia sudah menerimaku."


"Bagus sekali, Abimana. Aku ikut bahagia. Jadi sekarang dia sudah mau memanggilmu dengan sebutan Papa lagi kan? Panggilan yang sangat kau impikan dari Kenzo. Dia sudah memanggilmu dengan sebutan Papa kan?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Inara, Abimana pun hanya terdiam.


__ADS_2